Event

Pameran Seni Rupa Pertamax, Angkatan 2015, Di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, 14-28 Desember 2019

Pameran Seni Rupa Pertamax, Angkatan 2015, Di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, 14-28 Desember 2019

Pameran Seni Rupa Pertamax, Angkatan 2015, Di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, 14-28 Desember 2019

Impessa.id, Yogyakarta : Pameran Seni Rupa “Pertamax” sebagai Pameran Angkatan 2015 yang disebut generasi milenial yang hidup dalam arus informasi dan data yang terus menerus menggelinding, disadari maupun tidak, generasi sekarang terbentuk atas imbas input data yang dikonsumsinya.

Perkembangan teknologi yang kehadirannya tidak mungkin dihindari, menjadi latar belakang isu, ditandai dengan lahirnya fasilitas komunikasi yang makin memperdekat jarak dan mengecilkan ruang dunia, pada akhirnya para perupa juga dituntut untuk menghadirkan karya-karya yang merepresentasikan nilai-nilai dinamis searah dengan perkembangan zaman.

Pertamax oleh 'generasi micin' diartikan sebagai komentar yang dilontarkan pertama kali dalam media sosial. Namun secara konvensional Pertamax diketahui sebagai bahan bakar minyak yang bisa menerima tekanan pada mesin berkompresi tinggi, sehingga dapat memicu kecepatan lebih optimal dibandingkan BBM lainnya.

“Dalam khazanah seni rupa nyatanya percepatan perubahan dunia berkesenian juga tidak lagi linier. Ilmu pengetahuan, teknik, dan wacana-wacana kebaruan menjadi aspek dasar yang penting dalam proses penciptaan karya seni agar relevan terhadap gerak laju zaman,” ucap Umar Faruq penulis pameran.

Kutipan Charles Darwin dalam teori evolusinya mengemukakan pendapat bahwa "Bukanlah spesies yang paling kuat atau paling cerdas yang mampu survive, melainkan mereka yang mampu beradaptasi terhadap perubahan".

Pernyataan yang memunculkan pertanyaan mendalam bagi para mahasiswa seni tentang langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menghadapi masa transisi, yaitu era yang sudah masuk pada revolusi industri ke 4.0. Sebab faktanya revolusi industri selalu menandai titik balik sejarah dunia, dan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi sosial, teknologi, budaya dan seni.

Nilai keindahan juga mengalami fluktuasi, bergeser searah mengikuti perkembangan zaman. ST Sunardi pernah mengemukakan gagasan bahwa peristiwa yang menjadi permasalahan seni rupa saat ini ialah problem new media art, dimana nilai itu berada pada kemampuan perupa mengeksplorasi material dan teknologi baru, selaras dengan intuisi Danarto bahwa sebuah peristiwa tidak bisa diangkat dalam satu medium saja, melinkan lintas medium.

Sejalan dengan konteks tersebut, pembaruan dalam berkesenian selalu saja muncul beriringan dengan kemajuan zaman. Dari sini seni rupa menjadi sangat kompleks dengan kebaruannya. Di satu sisi pameran selalu menjadi kebutuhan eksistensi perupa dalam merefleksikan rasa, ide, serta gagasannya. Di sisi yang lain pameran juga dibutuhkan menjadi peristiwa sejarah sebab dapat menandai suatu perkembangan zaman dengan meninggalkan karya-karya monumentalnya.

Namun yang menjadi persoalan adalah, bisakah para perupa yang berangkat dari latar belakang institusi  seni membuat dan menyuguhkan satu pameran yang dapat memberikan jawaban kepada masyarakat, zaman dan kompleksitas dunia berkesenian, dalam bentuk pameran yang juga menyimpan nilai-nilai estetika kebaruan tersebut?.

Maka, dari pameran seni rupa bertajuk "Pertamax" oleh mahasiswa Seni Murni Angkatan 2015, pengunjung diajak untuk mencatat suatu peristiwa berkesenian yang berusaha menguak serta mencari titik esensi secara fundamental tentang relasi timbal balik antara seni dan teknologi, dan melihat metafor baru dalam menjawab tantangan persoalan zaman.

Umar Faruq lebih lanjut menyatakan, “Pameran ini menjadi penting sebab sebagai ajang ikut andil berkontribusi dalam merefleksikan dan menafsirkan peristiwa transisi ke dalam bentuk bahasa seni rupa. Juga menjadi wujud pengupayaan mahasiswa seni dalam membangun roadmap -peta jalan, dari sisi seni rupa yang terintegrasi, untuk mengimplementasikan strategi berkesenian dalam menghadapi era revolusi industri 4.0.”.

Pameran “Petramax” yang berlangsung 14-28 Desember 2019 di Galeri R.J Katamsi ISI Yogyakarta, secara resmi dibuka Sabtu malam(13/12/19) oleh Daes Luriatmoko (Direktur Pemasaran BNI Yogyakarta) diharapkan mampu memberikan warna baru bagi dunia seni dan melahirkan karya-karya yang relevan terhadap masa yang selalu mengalami perubahan. Pameran diwarnai dengan workshop Daur Ulang Sampah Plastik pada 18 Desember 2019 pukul 13.00 WIB s/d selesai, dan Bazzar selama pameran berlangsung setiap hari pukul 09.00-16.00 WIB. (Meuz Prast/Antok Wesman-Impessa.id)