Event

Festival Sastra Yogyakarta 2026: Sastra Lisan Tak Hanya Soal Teks, tetapi Juga Cara Menyampaikannya

Festival Sastra Yogyakarta 2026: Sastra Lisan Tak Hanya Soal Teks, tetapi Juga Cara Menyampaikannya

Festival Sastra Yogyakarta 2026: Sastra Lisan Tak Hanya Soal Teks, tetapi Juga Cara Menyampaikannya

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Agustus 2026: Pantun menjadi pembuka diskusi “Performa dalam Sastra Lisan: Antara Komunikasi, Ritual, dan Estetika” di Panggung Pasar Sastra, Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, Jumat (28/8/2026). Diskusi menghadirkan Dr. Novi Siti Kussuji Indrastuti, M.Hum. sebagai narasumber dan Arif Kurniawan sebagai moderator.

Diskusi yang berlangsung pukul 15.30 hingga 17.30 WIB tersebut diikuti peserta dengan antusias. Kursi-kursi di Panggung Pasar Sastra terisi penuh ketika Novi menyampaikan materi dengan gaya perkuliahan umum yang santai dan interaktif.

Mengawali pembahasan, Novi mengajak peserta memahami sastra lisan melalui contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan, sastra lisan telah hadir jauh sebelum masyarakat mengenal tulisan dan tidak terbatas pada cerita rakyat, dongeng, pantun, atau puisi.

“Sastra lisan sudah muncul terlebih dahulu sebelum orang mengenal tulisan,” ujar Novi.

Pembahasan kemudian mengarah pada performa, yakni bagaimana cara penyampaian turut membentuk makna dalam sastra lisan. Intonasi, tempo suara, gerak tubuh, arah pandangan, ekspresi, hingga interaksi dengan audiens dapat membuat karya yang sama menghadirkan pengalaman berbeda.

Menurut Novi, cerita yang sama bahkan dapat menghasilkan performa berbeda ketika disampaikan pada waktu dan konteks yang berbeda. Respons audiens juga dapat memengaruhi jalannya penuturan.

Dengan demikian, sastra lisan tidak hanya bergantung pada isi cerita. Hubungan antara penutur, audiens, cara penyampaian, dan konteks turut membentuk pengalaman sastra.

Pembahasan juga menyinggung mantra sebagai salah satu bentuk sastra lisan. Mantra yang selama ini kerap dikaitkan dengan praktik tertentu dapat dikaji sebagai salah satu bentuk puisi Indonesia yang memiliki fungsi dan konteks khusus dalam kehidupan masyarakat dan ritual.

Pamong Budaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta Dwi Lestari mengatakan, pembahasan mengenai performa penting untuk melihat sastra lisan sebagai praktik budaya yang hidup di tengah masyarakat.

“Sastra lisan itu tidak berhenti pada kata-kata. Cara orang menyampaikan, siapa yang menyampaikan, kepada siapa, dan dalam situasi apa, semuanya ikut membentuk makna,” kata Dwi.

Menurut dia, keberadaan sastra lisan juga memperlihatkan bahwa masyarakat memiliki cara sendiri dalam menyimpan dan menyampaikan pengetahuan.

“Karena diwariskan melalui tuturan dan praktik, sastra lisan bisa terus berubah mengikuti masyarakatnya. Justru di situ letak kekuatannya, tetap hidup tetapi bisa menemukan bentuk yang berbeda,” ujarnya.

Diskusi tersebut menunjukkan bahwa sastra lisan merupakan bagian dari praktik komunikasi dan pertunjukan. Makna tidak hanya lahir dari teks, tetapi juga dari suara, gerak, situasi, dan perjumpaan antara penutur dengan pendengarnya.

Melalui diskusi ini, FSY 2026 kembali menghadirkan sastra dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan masyarakat, sekaligus membuka ruang untuk melihat tradisi lisan dari sisi komunikasi, ritual, dan estetika. (Ismawati-FSY/Antok Wesman-Impessa.id)