Feature

Pameran Seni Grafis PRINT PARADE Ke-4 Di KINIKO ART Yogyakarta, Wajah Pesatnya Perkembangan Seni Grafis Di Indonesia

Pameran Seni Grafis PRINT PARADE Ke-4 Di KINIKO ART Yogyakarta, Wajah Pesatnya Perkembangan Seni Grafis Di Indonesia

Pameran Seni Grafis PRINT PARADE Ke-4 Di KINIKO ART Yogyakarta, Wajah Pesatnya Perkembangan Seni Grafis Di Indonesia

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, September 2026: Pameran Seni Grafis PRINT PARADE Ke-4 bertempat di KINIKO ART Jl. Kalipakis RT 5/ 11, Tritonirmolo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 12-27 September 2026 dan melibatkan sebanyak 71 seniman grafis segala usai, merupakan upaya untuk menjembatani perjalanan dan regenerasi Seni Grafis Indonesia.

Diantara Seniman Grafis yang berpartisipasi, Impessa.id menemui pegrafis muda Angga Sukma Permana. Lewat karyanya berjudul “Game and Over”, Hmrcut on paper, berukuran 47cm x 35cm, karya tahun 2026, Angga mengungkapkan pesannya.

“Karya ini merepresentasikan kondisi dimana saat ini era digital telah mengusai setiap lini kehidupan masyarakat hingga tingkat kondisi sosial kemasyarakatan. Penguasaan dan peran digital ini seakan seperti proses kapitalisasi yang menyandera kehidupan manusia dalam dunia mesin, seperti pernah diungkapkan Paus Leo dengan istilah Magnifica Humanitas. Sebuah kondisi dimana manusia akhirnya dipaksa menjadi mesin oleh keadaan dan tuntutan perkembangan jaman,” ujar Angga.

Lebih lanjut Angga menguraikan, “Manusia hari ini hidup dalam fatamorgana dunia maya yang secara perlahan merubah cara pandang, cara kerja dan hidup manusia. Seakan dinina-bobokkan dalam kondisi tersebut namun di satu sisi para penguasa tetap memanfaatkan kondisi ini dengan mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya,” jelasnya.

Kus Indarto, yang berprofesi sebagai kurator pameran seni dan hadir di acara pembukaan pameran seni grafis tersebut ketika dimintai Impessa.id terkait perkembangan seni grafis dewasa ini, dirinya  menyatakan;

“Memang cukup surprise gitu, karena banyak teknik, yang pertama soal teknik yang sebetulnya teknik lama tetapi kemudian ada pembaruan ada eksplorasi teknik, yang mungkin bagi pe-grafis lama punya ukuran patokan baku tetapi sudah ditabrak dengan pemahaman yang baru dari segi teknis. Yang kedua yang lebih penting generasi grafis itu memperbaharui diri,, selalu baru, dan kemudian secara teknis ada upaya untuk eksplorasi, menerabas, hal yang baru. Yang terkahir soal tema, temanya kaya, ada tema-tema social, tema-tema yang tidak sekedar manis, dalam pengertian banyak mengeploitasi eksotisme-eksotisme, tetapi dibalik eksotik pun ada gagasan-gagasan yang cukup kuat didalam lingkungan, politik, dan kepedulian sosial,” jelas Kus Indarto.

Kemudian, Impessa.id menemui pegrafis AC Andre Tanama yang menampilkan karya Seni Cetak Grafis-nya berjudul “LINK”. Woodcut print and hand-colored acrylic on canvas, berukuran 80 × 60 cm, karya tahun 2025, dan kepada Impessa.id, Andre menyampaikan penjelasannya;

“Ada saatnya manusia menyadari bahwa hidupnya ternyata dipenuhi oleh tali-tali yang tidak kelihatan. Tali kepada seseorang, kepada keluarga, kepada masa lalu, kepada harapan, bahkan kepada sesuatu yang pernah melukainya. Kita menyebutnya hubungan. Kita menyebutnya kasih. Kita menyebutnya kepercayaan. Namun tidak semua ikatan selalu terasa ringan,” tutur Andre.

Lebih lanjut Andre mengatakan, “Dalam Link, Gwen Silent berada di antara lilitan tali yang besar. Ia tidak berusaha melarikan diri. Tidak pula tampak sedang melawannya. Ia hanya berada di sana, diam, dengan mata yang terbuka, seolah sedang memandang kembali segala sesuatu yang selama ini mengikat dirinya. Barangkali persoalannya memang bukan bagaimana memutus sebuah ikatan. Melainkan bagaimana mengetahui apa yang masih layak dipertahankan, dan apa yang sudah waktunya dilepaskan. Sebab sebuah hubungan dapat berubah menjadi beban ketika di dalamnya terlalu banyak ketakutan, luka, tuntutan, ataupun keinginan untuk saling memiliki. Namun ketika semua itu perlahan dilepaskan, yang tertinggal bukanlah kehampaan. Justru mungkin sesuatu yang lebih sederhana: kasih, kepercayaan, dan kesediaan untuk tetap hadir,” imbuhnya.

“Tali dalam karya ini karena itu tidak semata-mata menjadi lambang keterikatan. Ia dapat menjadi jerat, tetapi sekaligus dapat menjadi sesuatu yang menjaga. Perbedaannya mungkin hanya terletak pada cara manusia berada di dalam hubungan itu. Gwen Silent tidak memiliki mulut untuk menjelaskan semuanya. Ia hanya menatap. Dan mungkin dari tatapan itulah karya berjudul "Link" mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat sederhana: ketika segala rasa takut dan luka telah dilepaskan, apakah yang masih membuat kita memilih untuk tetap terhubung? Karena pada akhirnya, ikatan yang sejati bukanlah ikatan yang membuat seseorang tidak bisa pergi. Melainkan ikatan yang membuat seseorang tetap ingin tinggal,” tutup Andre.

Saat Impessa.id menanyakan tantangan menggelar pameran grafis dengan peserta banyak, Kurator pameran Dr Bambang ‘Toko’Witjaksono menuturkannya;,

“Mengingat pameran kali ini bebas secara teknik, itu men-display-nya susah, kan, sangat beragam, macam-macam, teknik, ukuran, tema, kemudian juga memamerkan karya generasi baru yakni karya mahasiswa dan karya hasil magang, ya udah, kayaknya agak gak rapi, tapi memang ya udah itu dimunculkan gitu. Termasuk yang senior juga saya ikutkan, dan yang muda juga ikut,” ungkap Bambang ‘Toko’ Witjaksono, selaku kurator pameran.

“Idealnya karya itu secara teknik ya dipisah-pisahkan agar melihatnya enak, tetapi yang menjadi tantangan yakni temanya sama namun tekniknya beda, atau tekniknya sama tapi temanya beda, apalagi grafis itu kebanyakan di pigura dan kaca, nah itu bagaimana juga dengan tata-cahaya, supaya kalau di foto gak flare, jadi kompleks permaslahannya,” imbuhnya.

Bambang ‘Toko’ sendiri juga memajang karya seni grafisnya berjudul “Mencari Menantu Idaman”, Intaglio, Tetrapak Print On Paper, berukuran 39x60 cm, karya tahun 2026.

Melalui karyanya, Bambang ‘Toko’ Witjaksana menyatakan sebagai stigma bahwa orangtua itu mencari menantu Pegawai Negeri, yang kini menjadi pro dan kontra, artinya di jaman sekarang menjadi PNS itu juga ngenes, banyak potongan dan sebagainya, kemudian stigma antar-generasi itu berubah, yang tua masih dalam pola lama bahwa PNS itu makmur, hari tua terjamin, namun pada kenyataannya anak-anak muda sekarang bahkan yang sudah usai menikah itu malah memilih tidak menjadi PNS, mereka ada banyak jenis pekerjaan yang kayak on-line, youtuber, dan sebagainya, itu secara finansial lebih menjanjikan. Tapi bagi orangtua itu gak masuk dalam mind-set mereka. Makanya ini saya parodikan dari komik-nya Yan Mintaraga, bahwa yang laki-laki itu pekerjaannya pendekar, meski bapak ceweknya tetap berkeinginan menantunya Adalah amtenaar, pegawai negeri,” jelas Bambang ‘Toko’ Witjaksana.

Kemudian Impessa.id meminta seniman senior Ong Hari Wahyu untuk mengungkapkan pendapatnya tentang perkembangan seni grafis di Tanah Air. Berikut responnya;

“Perkembangan seni grafis di Indonesia? saya kira perkembangannya sudah semakin meningkat, sekarang secara teknologi itu sudah maju pesat, demikian halnya dengan gagasan juga sudah semakin pesat, jadi itu yang menjadikan bahwa seni juga ikut berkembang. Di pameran kali ini secara teknik banyak membuat kejutan, ada planografi yang dasarnya dari litografi, cetak datar, berhubung sekarang material sudah macam-macam, maka mereka bikin istilah namanya planografi, ternyata hasilnya mengejutkan untuk dunia grafis,” jelas Ong Hari Wahyu (Feature of Impessa.id by Antok Wesman).