Feature

Closing FASHION ON THE STREET PRAWIROTAMAN 2026, Diwarnai Dengan Pelepasan Balon Dari Roof-top Dhipa Kinanthi by Raminten, Yogyakarta

Closing FASHION ON THE STREET PRAWIROTAMAN 2026, Diwarnai Dengan Pelepasan Balon Dari Roof-top Dhipa Kinanthi by Raminten, Yogyakarta

Closing FASHION ON THE STREET PRAWIROTAMAN 2026, Diwarnai Dengan Pelepasan Balon Dari Roof-top Dhipa Kinanthi by Raminten, Yogyakarta

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Agustus 2026: Bertempat di Meeting Room Lantai 2 Dhipa Kinanthi by Raminten Hotel yang berlokasi di Jalan Prawirotaman 2 Yogyakarta, Impessa.id berbincang-bincang santai dengan desainer Senior Lia Mustafa terkait berakhirnya perhelatan rutin setiap tahun yang selalu mendapat respon luar biasa dari warga masyarakat yakni Fashion On the Street Prawirotaman.

“Hari ini, Minggu, closing untuk FOS Prawirotaman, bukan untuk Festival Prawirotaman, karena Festivalnya sudah selesai semalam, Sabtu. Harapannya FOS ini lebih panjang, bukan hanya sebatas dua hari, bahkan lebih dari tiga hari sebetulnya. Agenda hari ini di awali dengan Diskusi tentang ‘Batik dan Masa Depan’. Kalau kemarin kita bicara tentang ‘Batik, Kemarin dan Hari Ini’, dilanjutkan denga tarian tradisi-modern dari Bala Mahardhika, simbol dari tema yakni ‘Contemporary Art, Batik Art Evolution’. Dari lantai 2 ini turun kebawah, sebagai bentuk penutupan FOS Prawirotaman di depan Hotel Dhipa Kinanthi by Raminten, semua peserta, model, desainer, tamu undangan, memegang balon semacam ritual dan menuju ke kolam renang kemudian, dilanjutkan naik ke roof-top hotel untuk bersama-sama melepas balon sebagai penutup secara resmi FOS Prawirotaman 2026 sekaligus ikrar bersama menuju FOS Prawirotaman 2027,” jelas Lia Mustafa.  

Dalam sambutan acara Lia Mustafa menyampaikan sesuatu hal yang penting untuk diketahui khalayak luas bahwa setelah 11 tahun berjalan penuh perjuangan tanpa lelah, akhirnya sejak dua tahun terakhir, FOS sudah memilik HAKI -Hak Atas Kekayaan Intelektual, atau Hak Cipta, atau Copyright, artinya jika ada pihak-pihak yang ingin menyelenggarakan Fashion On the Street, harus minta ijin terlebih dahulu.

“Jadi kalau ada yang ingin membuat Fashion On the Street, artinya harus minta ijin dari kami, dan itu sudah dua tahun terakhir kami mendapatkan Hak Ciptanya, Kalau dulu pernah PM, sekarang sudah R, menjadikannya semakin berkegiatan positif, tidak main-main, demi generasi muda kedepannya, FOS menjadi wadah untuk generasi muda berkiprah,” ucap Lia Mustafa.

Dalam kesempatan itu pihak panitia mengundang salah satu asosiasi anak muda yang ikut mendukung FOS, yaitu President Jogja Chamber International -JCI Yogyakarta, Tri Septo. Ketika ditemui Impessa.id, President JCI menjelaskan keterlibatannya dengan FOS 2026;

“JCI Yogyakarta merupakan bagian dari JCI di 127 negara di dunia, JCI merangkul anak muda berusia antara 18 hingga 40 tahun, sangat tepat dengan misi-visi FOS yang mengutamakan kiprah bagi anak muda, baik para desainernya maupun modelnya. Kami fokus di leadership, belajar tentang public speaking, belajar tentang bisnis, karena by ecosystem, JCI banyak berisi pebisnis dengan jejaring yang sangat luas, kami senang dilibatkan di acara FOS, dan semoga tetap terus dilibatkan,” ujar Tri Septo

Agenda Forum diskusi yang dipandu Desainer Ang Hermana, mengusung tema “Batik Future” menghadirkan pembicara desainer muda Jahirah Aya dan Tony Winata.

Melalui diskusi tersebut terungkap bahwa Tony, desainer, koreografer, lulusan kriya seni tekstil, lebih menekuni wastra baik batik, lurik, tenun, dan dunia modelling, yang mencakup fotografi, run-away, selaras ketika dirinya mengkonsep sebuah fashion show atau sebuah brand fashion. Menurutnya, Batik itu adalah hasil budaya, suatu alat komunikasi dan simbol juga bagaimana sebuah peradaban itu ada. Sejalan dengan perkembangannya, batik itu sendiri merupakan lukisan kehidupan masyarakat yang dikarang dalam seni kriya diatas kain, dan secara teknis pembuatannya harus menggunakan lilin panas. Jadi batik itu adalah proses adiluhung.

Terkait topik “Batik Future”, Tony menuturkan, “Batuk Future itu adalah sebuah jiwa, batik itu adalah enerji, sehingga membuat orang tergelitik yang tadinya hanya cinta saja akhirnya harus belajar semuanya, termasuk proses pembuatannya” .

Sedangkan Aya, dengan brand Ayalana -Aya Berkelana, lulusan perfilman, sembilan tahun selaku radio-announcer, desainer fashion, pembatik, juga guru les privat. Pilihannya kepada batik dengan warna alami terinspirasi dari parahnya pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh pemakaian bahan pewarna batik sintetis, sehingga hidup dan kehidupan menjadi tidak sehat.

“Saya tidak lagi pusing-pusing membuang limbahnya kemana, karena kalau menggunakan warna alam itu kalau limbahnya dibuang bisa menjadi pupuk, kalau dibuang di sungai dia akan menjadi eco-enzym, sehingga saya sebagai generasi millennial, merasa tidak berat juga melakukan ini. Meskipun kalau memakai pewarna alam itu prosesnya tidak bisa disambi-sambi, maka disetiap akhir pekan saya fokus membatik,” ungkap Aya.

Dalam pada itu selaku tuan rumah, General Manager Dhipa Kinanthi by Raminten, Bayu Pratama merespon positif digelarnya acara Closing Fashion On the Street Prawirotaman 2026 di tempat yang dipimpinnya.

“Saya menyambut hangat acara penutupan FOS 2026 disini, karena sangat meriah, memberi nuansa positif bagi hotel kami, semoga di tahun depan tetap memilih Dhipa Kinanti sebagai tempat kegiatan FOS selanjutnya,” ujar Bayu Pratama.

Dhipa Kinanthi by Raminten Hotel yang berlokasi di Jalan Prawirotaman 2, menyediakan 17 kamar Superior King, dan Twin, segmentasinya middle-up, dengan vibe hommy dilengkapi swimming pool serta jaminan ketenangan. Sedangkan untuk best-seller menu ala-card-nya berupa Bebek Gongso Khas Dhipa Kinanthi. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)