Universitas Atma Jaya Yogyakarta Ajak Mahasiswa Internasional Kenali Kearifan Lokal Melalui Cultural Visit Program
Universitas Atma Jaya Yogyakarta Ajak Mahasiswa Internasional Kenali Kearifan Lokal Melalui Cultural Visit Program
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Agustus 2026: Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menyelenggarakan Cultural Visit Program bertema 3 Cities Local Wisdom for Sustainable Futures pada 9-12 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari di Yogyakarta ini diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri.
Program tersebut merupakan bagian dari rangkaian Passage to ASEAN (P2A) yang bertujuan memperkuat pemahaman budaya, mendorong mobilitas mahasiswa, serta membangun kerja sama akademik antarperguruan tinggi di kawasan ASEAN.
Cultural Visit 2026 merupakan kolaborasi Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Universitas Muria Kudus, dan UAJY dengan tema Exploring Urban, Industrial, and Cultural Conservation in Indonesia. Yogyakarta menjadi kota terakhir setelah Jakarta dan Kudus.

Rangkaian kegiatan di Yogyakarta dibuka di Desa Wisata Kebonagung, Kabupaten Bantul, Minggu (9/8/2026). Peserta mengikuti welcoming ceremony yang memperkenalkan kearifan lokal masyarakat, mulai dari mencicipi makanan dan minuman tradisional Jawa, nggebyok (merontokkan padi), nutu (menumbuk padi), hingga aktivitas pertanian seperti membajak sawah, menanam padi, dan menangkap bebek. Peserta juga berkesempatan memainkan gamelan bersama warga.
Program dibuka dengan welcoming ceremony berupa pengenalan budaya oleh warga Desa Wisata Kebonagung. Pengenalan dimulai dari memperkenalkan aneka makanan dan minuman tradisional Jawa, dilanjutkan dengan kegiatan nggebyok (merontokkan padi) dan nutu (menumbuk padi) hingga aktivitas pertanian seperti membajak sawah, menanam padi, dan menangkap bebek. Peserta juga berkesempatan memainkan gamelan bersama warga.
Wakil Kepala Bidang Kerja Sama Kantor Kerja Sama dan Promosi (KKP) UAJY, Lucia Dwi Rini Harjanti, S.I.P., menyambut hangat kedatangan para peserta. Ia berharap para peserta memperoleh kenangan yang indah selama di Yogyakarta ini.
“Kami telah menyiapkan beberapa program untuk Anda, Saya berharap Anda akan menikmati dan mendapatkan kenangan indah dari Yogyakarta. Selamat datang dan semoga hari Anda menyenangkan,” ungkap Rini.

Sorasak Lithito peserta asal Thailand yang berkuliah di Universitas Muria Kudus mengungkapkan keseruan yang telah ia lalui di sepanjang hari. “Hari ini menjadi pengalaman yang sangat baru dan menarik bagi saya. Saya belajar tentang kehidupan sehari-hari petani lokal, khususnya cara mereka menanam padi. Saya juga berkesempatan belajar memainkan alat musik tradisional Jawa. Pengalaman ini sangat menyenangkan dan berkesan,” jelasnya.
Wandipe, penerima The Indonesian AID Scholarship (TIAS) asal Papua New Guinea turut menyampaikan harapannya untuk tiga hari kedepan selama di Yogyakarta. “Karena hari ini sudah sangat seru, saya yakin besok akan jauh lebih menyenangkan, makanan lezat dan tempat-tempat indah pastinya sudah menanti kita, Saya berharap semuanya ada dalam keadaan yang sehat sampai program berakhir,” ujar Wandipe.
Memasuki hari kedua, Senin (10/8/2026), peserta mengikuti campus tour di UAJY yang dilanjutkan dengan dua sesi diskusi. Sesi pertama menghadirkan Wenefrida Mahestu Noviandra Krisjanti, S.E., M.Sc.IB., Ph.D., dengan materi Nature as an Attraction for Tourism Business. Sesi kedua menghadirkan Aprilia Stefany Leliak, S.H., M.H., dengan materi Environmental Conservation for Tourism from a Legal Perspective.

Wenefrida menjelaskan bahwa pemanfaatan alam sebagai daya tarik pariwisata perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan. Konsep pariwisata berbasis alam tidak hanya berkaitan dengan menikmati keindahan alam, tetapi juga bagaimana lingkungan dapat dilindungi dan masyarakat turut dilibatkan dalam pengembangannya.
“Gagasannya bukan hanya tentang alam, tetapi bagaimana kita melindungi lingkungan, melibatkan masyarakat, dan menjaga alam,” jelasnya.
Ia juga memperkenalkan konsep sustainable travel yang menempatkan aspek lingkungan dan pelestarian alam sebagai bagian penting dalam aktivitas perjalanan. Pengembangan pariwisata di Indonesia, menurutnya, terus diarahkan untuk dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Dalam sesi kedua, peserta diajak memahami hubungan antara perkembangan pariwisata, pembangunan ekonomi, dan aspek hukum dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan. Aprilia menjelaskan bahwa keberadaan hukum bukan dimaksudkan untuk menghambat perkembangan pariwisata, melainkan memastikan agar pengembangannya tetap memperhatikan tanggung jawab dan prinsip keberlanjutan.
“Tujuannya bukan menghentikan pembangunan pariwisata, tetapi memastikan pengembangannya tetap memperhatikan tanggung jawab dan keberlanjutan,” ujarnya.
Pada hari ketiga, Selasa (11/8/2026), peserta mendapatkan materi Conservation and Preservation of Marine Ecosystems yang disampaikan Wakil Dekan I Fakultas Teknobiologi (FTb) UAJY, Monika Ruwaimana, Ph.D.
Monika menjelaskan tentang pentingnya keanekaragaman hayati laut dan ancaman yang mengintai ekosistem laut dengan mengangkat beberapa studi kasus yang ada di Indonesia. Hutan mangrove atau bakau menjadi fokus penting dalam pemaparannya karena Indonesia merupakan hotspot bakau utama di dunia, juga keberadaan bakau membawa manfaat ekonomi yang besar bagi masyarakat pesisir baik dari keanekaragaman hayati yang hidup pada ekosistem bakau maupun dari ekowisata mangrove, bahkan dapat mengurangi dampak buruk serta korban jiwa akibat tsunami. Atas kebermanfaatannya, banyak bermunculan konservasi atau restorasi bakau di Indonesia. Namun, upaya-upaya tersebut seringkali gagal karena beberapa faktor.
“Konservasi yang efektif membutuhkan tata kelola yang baik dari pemerintah daerah hingga masuk pada ranah edukasi. Pemerintah, komunitas, peneliti, industri, dan masyarakat pesisir harus terlibat di dalamnya. Perlu ditekankan juga bahwa masyarakat harus menjadi mitra kunci dalam konservasi laut dan jenis konservasi apa pun. Setiap keberhasilan konservasi jangka panjang yang saya kunjungi selalu membawa kesejahteraan, konservasi juga memberdayakan dan membuat warga lokal bangga. Pada akhirnya masyarakat memilih melanjutkan upaya tersebut,” jelas Monika.
Setelah sesi diskusi, peserta mengunjungi Kampung Wisata Taman Sari, Kota Yogyakarta, untuk belajar membuat batik bermotif lingkungan. Rangkaian hari ketiga ditutup dengan kegiatan konservasi tukik di Pantai Pelangi, Kabupaten Bantul.
Rangkaian Cultural Visit Program ditutup pada Rabu (12/8/2026) di UAJY melalui sesi sharing and discussion. Peserta berbagi pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti rangkaian program di Jakarta, Kudus, dan Yogyakarta.
Terry, peserta asal Malawi menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan di Yogyakarta memberikan pengalaman baru mengenai ekowisata, konservasi, serta pentingnya menjaga kelestarian alam. Selama tiga hari mengikuti rangkaian kegiatan di Yogyakarta, ia memperoleh pemahaman mengenai berbagai aspek pariwisata berkelanjutan, termasuk perspektif hukum dan konservasi lingkungan.
“Selama tiga hari terakhir ini, kami telah belajar tentang ekowisata, perspektif legalnya, dan tentang konservasi dengan hewan. Saya memiliki pengalaman yang sangat bagus, dan jika ada kesempatan di masa depan seperti ini, saya ingin menjadi bagian dari itu juga,” ungkapnya.
Sebagai penutup, para peserta turut membuat kenang-kenangan bersama dengan membubuhkan cap tangan masing-masing pada tembok halaman UAJY. Kegiatan tersebut menjadi simbol kebersamaan, serta pengalaman yang telah dibangun selama mengikuti Cultural Visit 3 Cities. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan farewell lunch yang menjadi momen perpisahan antara peserta.
“Melalui rangkaian Cultural Visit 2026, peserta selain memperoleh pengalaman mengenal kekayaan budaya Indonesia, juga mendapatkan wawasan mengenai keterkaitan antara pariwisata, masyarakat, konservasi, dan keberlanjutan, sekaligus menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman lintas negara yang dapat membawa nilai-nilai local wisdom dan keberlanjutannya kepada mereka masing-masing,” tutup Wakil Dekan I Fakultas Teknobiologi UAJY, Monika Ruwaimana. (Tim Humas UAJY/Antok Wesman-Impessa.id)
