Event

Konser Musik Kolaborasi Duo Rocker Belanda Marnix Dorrestein dan Willem Wits Dengan Rubah Di Selatan

Konser Musik Kolaborasi Duo Rocker Belanda Marnix Dorrestein dan Willem Wits Dengan Rubah Di Selatan

Duo musisi Belanda, Marnix Dorrestein dan Willem Wits berkolaborasi dengan Rubah Di Selatan, gelar Konser Musik di Tembi Rumah Budaya, Kamis malam, 27 Juni 2019.

Impessa.id, Yogyakarta : Duo musisi dari Belanda Marnix Dorresten dan Willem Wits berkolaborasi dengan Rubah Di Selatan, grup musik Jogja, tampil dalam konser musik yang diinisiasi Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda Jakarta, pada Kamis malam, 27 Juni 2019, di Pendopo Tembi Rumah Budaya jalan Parangtritis Kilometer 8,4 Tembi, Bantul, Yogyakarta, terbuka untuk publik secara gratis.

Sebagai bentuk pertukaran budaya, kolaborasi diantara mereka selama di Yogyakarta terwujud kurang dari dua pekan, setelah setahun yang lalu, tepatnya bulan Juli 2018,  mereka bertemu dalam konser musik di Amsterdam-Belanda, sehingga semakin memudahkan kedua pihak menyatukan visi dalam bermusik.

Grup Band Rubah di Selatan, yang muncul pada 20 Agustus 2015, beranggotakan Mallinda (vocal), Gilang (gitar), Adnan (keyboard), Ronie (etnik perkusi). Lirik-lirik syair lagunya membawakan isu tentang kearifan lokal, petuah jaman dulu, nilai-nilai tradisi dengan budaya masa kini. Tampil dengan menggabungkan instrumen etnik dan lirik populer, serta visual yang menggambarkan sisi lokal tradisi Indonesia, sebagai identitas kuat Rubah di Selatan.

Rubah di Selatan, di tahun ke empat perjalanan diblantika musik nasional, tepatnya di awal Februari 2019, merilis album perdana berisi 10 lagu dengan nama ANTHERA di digital platform music. Album tersebut menjadi saksi perjalanan empat personil Rubah di Selatan masing-masing, Mallinda Zky, Gilang Pultn, Yayan Padz, dan Ronie Udara, yang telah melalui berbagai macam fase mulai dari terbentuknya hingga menghasilkan album.

Sedangkan, konsep bermusik Ciao Lucifer sangat sederhana. Persahabatan antara dua pemuda, sejak sekolah yang melihat musik sebagai sebuah kesempatan untuk berpergian. Lagu-lagu mereka telah diseleksi dengan baik oleh teman sejawat perempuan yang senang menari. Jika lagunya tidak disukai oleh teman-teman mereka, musiknya tidak dipakai, yang tetap adalah persahabatan dalam bentuk musik.

Setelah bertahun-tahun bereksperimen dengan metode produksi yang cukup rumit, Ciao Lucifer kembali ke bisnis awal mereka, gitar, drum dan vokal. Set intrument sederhana tersebut mampu menampilkan pertunjukan mereka yang liar, dan energi yang murni, sehingga tanpa disadari, lantunan lagu pop sederhana mereka membuat orang menari.

Marnix Dorrestein (gitar, vokal) memiliki gelar sarjana dan master dari Departemen Musik Pop dari Conservatory of Amsterdam. Pencapaiannya meliputi rekor emas untuk memproduksi dan menulis bersama album 'Kersvers' dari Herman van Veen dan penghargaan Edison untuk adaptasi modern musik abad ke-17 untuk album 'Hush' dengan mezzo-soprano Nora Fischer.

Selain membuat musik, Willem Wits (drum, vokal) menyutradarai dan menulis untuk film dan teater. Pada 2012, ia lulus dari jurusan seni multidisiplin di Royal Arts Academy/Royal Conservatory di The Hague dan Leiden University. Film debutnya, Dertig Meter, memenangkan kategori Film Pendek Belanda Terbaik di Festival Film Internasional Amsterdam. Film keduanya, Moment, ditayangkan di museum Van Gogh. Setelah lulus, ia telah mengerjakan banyak video, produksi teater dan proyek musik.

Proses kolaborasi Ciao Lucifer, dengan Rubah di Selatan, diawali dengan residensi duo rockers Belanda itu di Rumah Budaya Tembi pada 13 Juni 2019 hingga 26 Juni 2019, mereka melakukan eksplorasi musik, bertemu dengan beberapa seniman dan musisi Jogja, hingga kemudian berkolaborasi dengan Rubah di Selatan, grup musik Jogja yang mengusung unsur-unsur etnik dalam musiknya. (Antok Wesman)