Pameran Tunggal WILLIAM ROBERT Di Indieart House Yogyakarta: MEMBACA PELA, DI RUANG TEMPA
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, November 2026: William Robert, perupa senior berdarah Ambon, kelahiran Medan pada 3 Juni 1968, telah malang melintang menggelar karya-karyanya di banyak kota dan mempunyai studio di Jakarta dan Bali. Ada kisah menarik dalam pameran tunggalnya bertajuk “PELA” yang dihelat di IndieArt House Yogyakarta pada 17–31 Oktober 2026., seperti yang dia ungkapkan;
“Saya dengan tidak mudah memang memutuskan untuk meminjam istilah " PELA " ini, yang saya pergunakan atau pantaskan dengan pemahaman saya, juga terhadap pemaknaan pemikiran tentang sesuatu yang memang dialami, dirasakan sejak kecil, kemudian semakin disadari ada tautannya secara empirik selama berpuluh tahun kemudian. Kata Pela ini umumnya diingat atau dikenal luas dengan Pela Gandong, yang merupakan simbol atau filosofi masyarakat Maluku, tentang kasih dan persaudaraan. Utamanya yang satu kampun,” ujar William Robert.


Lebih lanjut William Robert mengisahkan kisah hidupnya untuk anda.
“Perjalanan cukup panjang kehidupan saya berkesenian ataupun pernah bekerja sebagai profesional di beberapa perusahaan juga meninggalkan banyak memori tentang bagaimana penerimaan diri saya di banyak tempat, yang rasanya bukan semata efek dari profesionalisme saja. Ada banyak lapisan lagi yang kemudian saya yakini selalu terbangun secara organik dalam setiap titik perjumpaan, yang kemudian mengendap menjadi obligasi sosial bagi saya untuk berada di berbagai medan kerja yang pasti berbeda. Tentu wejangan atau pemahaman, " Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung ". umumnya dijadikan rujukan atau pintu masuk kita ke dalam majemuknya lapis kehidupan di negeri yang etnisnya berjumlah kurang lebih 700 etnis ini,” ujarnya.
“Sejak kecil ketika di kota Medan, Sumatera Utara saya sudah berkawan dengan orang Nias, Melayu, Batak, Karo, Minang, Jawa, Aceh, Manado, Ambon, keturunan India, Tionghoa dan lain sebagainya. Dalam ingatan masih melekat sekali akan hal tersebut hingga saat ini. Ya Medan memang salah satu kota terbesar di Sumatera Utara itu penduduknya multi etnis. Dalam ketatnya orang tua mendidik seluruh anggota keluarga tumbuh dalam kemajemukan, tentu mulai dari lingkaran keluarga besar yang juga banyak menikah dengan berbagai suku, dan pastinya lingkungan tetangga, sekolah, kawan satu gereja, satu permainan sepak bola tarkam dan lain sebagainya. Pengalaman indah yang sempat membuat saya home sick, ketika meninggalkan kota itu karena harus ikut keluarga kami yang semuanya pindah ke Jakarta pada awal tahun 80an,” jelasnyta.


Dikatakan, “Saat di Sumatera sebenarnya kata Pela sering saya dengar disebut dalam pembicaraan Eyang buyut, juga Oma saya dengan orang tua-tua disana, juga kepada Mama saya. Waktu itu pastinya belum pernah ada pertanyaan ataupun terpikirkan untuk mengetahui arti kata Pela tersebut. Cuma memang unik terdengar, tidak biasa. Pada masa berikutnya mungkin sekitar lima tahun berikutnya setelah hidup beradaptasi dengan kota Jakarta yang lebih kompleks mulai sering saya mendengar kata Pela dari ucapan Mama saya. Saat tinggal di sekitar perumahan yang banyak orang Ambonnya, makin sering saya dengar misalnya Mama saya mengatakan bahwa, ‘Keluarga kita tidak ada yang boleh menikah dengan keluarga Tante it,” ungkap William.
“Saya kala itu memasuki masa remaja ke pemuda ya masuk jenjang SMA, mulai bertanya tipis-tipis kepada Mama saya, apa maksudnya ucapan itu. Alasan dasar pertanyaan saya tentunya, ketidakpahaman saya kenapa hal tersebut tidak boleh? Kan keluarga kita dengan keluarga mereka juga baru kenal dan bertemu di Jakarta, meskipun sama-sama keturunan Maluku. Pemahaman yang didapat waktu itu tentu tak mungkin saya bantah, meskipun sesungguhnya tak benar-benar sepenuhnya ngerti juga. Yang saya coba pahami dengan masuk akal adalah sebagai sesama Ambon mungkin kami nenek moyang yang sama, yang sebaiknya bila ingin berkeluarga sebaiknya memilih orang dari luar circle nenek moyang kami. Tak bisa dihindari bahwa saya memahami dengan pendekatan sederhana dari apa yang didapat melalui dialog dengan Mama saya, juga tetangga yang juga Ambon,” imbuhnya lebih lanjut.


Dalam pameran tunggal sebelumnya di Bentara Budaya Yogyakarta, karya-karya William Robert dalam narasi utama Tiang Horisontal sebenarnya, secara garis besar mengangkat atau banyak membaca relasi hubungan antar manusia secara luas, saya juga menyinggung hal ini dalam karya berjudul Pela Gandong, sebagai aspek lebih lebih kecil dari apa yang saya pahami secara universal, lebih makro lagi dalam bagian dari bagaimana tiang horisontal bisa tetap kokoh, terjaga dengan kuat.
Pada pameran tunggal di Indiart House Yogyakarta, mengangkat tajuk PELA yang coba menginterpretasikan seluas pengalaman hidupnya, yang ditakdirkan lahir pulau Sumatera, yang bukan kebetulan dirinya adalah orang Ambon, dan lebih dari separoh perjalanan hidupnya hingga hari, empat dekade lebih ditempa, berproses di tanah Jawa.
“Pada titik ini saya memiliki begitu banyak "saudara" yang sesungguhnya bukan dalam artian satu pertalian darah, yang pada faktanya saya rasakan bahwa begitu banyak orang yang akhirnya menjadi " PELA " bagi saya. Menjadi keluarga di banyak tanah yang dipijak. Tujuh buah karya yang saya hadirkan ini selain berupa catatan, juga sebagai ruang refleksi, serta keinginan bercerita, mengingat banyak hal pada masa penempaan diri, perjumpaan dalam ribuan titik sejauh ini, yang takkan berakhir selama hayat dikandung badan, ataupun sangat mungkin akan dialami anak cucu saya kelak,” jelasnya.


Ada sedikit harapan, kiranya spirit Pela tetap hadir sebagai hal penting untuk terus berusaha ikut menjaga harmoni kehidupan manusia secara luas, meskipun dalam kadar yang sangat kecil,
Karena bagi William Robert; Pela itu adalah rasa hormat. Pela itu adalah guru-guru. Pela itu lebih dari saudara. Pela itu lebih luas dari samudera. Pela itu ribuan pintu kehidupan. Pela itu adalah pengharapan. Pela itu adalah ruang tempa. Pela itu adalah dukungan semesta. Pela itu ruang merawat keberagaman. Pela itu kasih. (Jakarta-Yogyakarta, Juli 2026-William Robert/Antok Wesman-Impessa.id)

