Feature

Jagongan Wagen Episode 157, 30 Oktober 2026 Di PSBK Yogyakarta, Usung Kipa-ku Gagalai

Jagongan Wagen Episode 157, 30 Oktober 2026 Di PSBK Yogyakarta, Usung Kipa-ku Gagalai

Jagongan Wagen Episode 157, 30 Oktober 2026 Di PSBK Yogyakarta, Usung Kipa-ku Gagalai

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Oktober 2026: Pada Oktober 2026, PSBK (Padepokan Seni Bagong Kussudiardja) kembali mempersembahkan pertunjukan Jagongan Wagen (JW),  platform pertunjukan yang kali ini menghadirkan karya tari kontemporer berjudul "Kipa-ku Gagalai" karya koreografer Achmad Ghozali (Indonesia), Dwi Asti Wulanjani (Indonesia) sebagai produser karya dan Rofri Hendri (Indonesia) sebagai komposer.

Memasuki episode ke-157, Jagongan Wagen menghadirkan co-production antara PSBK dengan seniman dari Sumatera (Mentawai, Jambi dan Padang Panjang) yang juga aktif bergiat dalam Jambi Cultural Festival (JCF) untuk membuka peluang pertukaran yang bermakna antara seniman daerah, penonton, dan komunitas.

Jeannie Park - Ketua Pengurus Yayasan PSBK.menuturkan, “Tahun in, PSBK membuka open call Jagongan Wagen bagi seniman dan produser dari seluruh Indonesia untuk memperluas jejaring dan membuka ruang kolaborasi lintas daerah. Kami senang dan bangga melalui perjumpaan ini, kami menemukan kesamaan nilai dan semangat untuk saling mendukung dan bertumbuh bersama. Apresiasi kami sampaikan kepada seluruh seniman yang telah berkolaborasi menghadirkan Kipa-ku Gagalai dengan baik,”

Sementara itu, Dwi Asti Wulanjani (Indonesia) Produser karya Kipa-ku Gagalai menyebutkan, “Sebagai produser saya ingin memfasilitasi bahwa memori tidak hanya dipajang tetapi bisa berdialog secara setara dengan ekosistem seni Indonesia dan khususnya di Yogyakarta, di PSBK sekarang. Perjumpaan ini adalah tentang bagaimana kita melakukan co-production yaitu kami dari tim Jambi Cultural Festival (JCF) dan PSBK yang merupakan platform pertunjukan untuk saling membantu bertumbuh dalam skema produksi yang saling menyenangkan.”

Menelusuri Identitas di antara Warisan Leluhur dan Perubahan Zaman. Achmad Ghozali, atau yang akrab dipanggil Jali, berangkat dari kebimbangan personal ketika menghadapi ketidakpastian dalam kehidupan hari ini. Berakar pada kehidupan masyarakat Mentawai dan pengalamannya sebagai keturunan Sikerei, Kipa-ku Gagalai menelusuri bagaimana identitas terbentuk dan terus bernegosiasi di antara warisan leluhur, perubahan sosial, serta berbagai pengaruh yang hadir dalam kehidupan."

“Seringkali saya merasa ada dalam situasi harus memilih antara meneruskan untuk menjaga adat atau melanjutkan karir dalam pendidikan. Namun saya menikmati keduanya, belajar pengetahuan alam dari para leluhur (Sikerei) dan menjalani pendidikan seni di Institut Seni Indonesia, Padang Panjang keduanya menyenangkan untuk dijalani. Lalu saya memikirkan setelah ini apa ya?” ujar Achmad Ghozali (Penari dan Koreografer Pertunjukan Jagongan Wagen #157: Kipa-ku Gagalai).

Berangkat dari pengalaman personal tersebut, karya ini juga mengajak penonton untuk mengenali dan merawat tradisi masyarakat Mentawai. Kipa-ku Gagalai tidak hanya berangkat dari pengalaman personal Jali sebagai seniman, tetapi juga menjadi ajakan untuk mengenali dan merawat tradisi masyarakat Mentawai. Melalui rangkaian gerak yang merepresentasikan aktivitas mengolah sagu, salah satu praktik yang cukup lekat tersimpan oleh memori Jali, Ia coba menghadirkan pengetahuan budaya yang diwariskan lintas generasi. Selain itu karya ini juga mengeksplorasi animal movement atau gerak yang terinspirasi dari perilaku hewan, yaitu bilou, gou’gou dan manyang yang memiliki kedekatan dengan tradisi setempat. Gerakan-gerakan yang hadir dalam karya inilah yang akan membuka ruang untuk menelusuri hubungan antara tubuh, alam dan warisan leluhur, sekaligus menjadi refleksi bagaimana pengetahuan tradisional terus menemukan maknanya dalam kehidupan masa kini.

Tentang Karya Kipa-ku Gagalai

Koreografer : Achmad Ghozali (IDN) | Produser : Dwi Asti Wulanjani (IDN) | Komposer Rofri Hendri (IDN)

Pertunjukan Tari Kontemporer

Durasi : 60 Menit

Kipa-ku Gagalai merupakan karya tari yang berangkat dari kehidupan masyarakat Mentawai. Dalam bahasa Mentawai, Kipa-ku Gagalai merupakan ungkapan yang menggambarkan keadaan ketika seseorang berada di tengah ketidakpastian. Berpijak pada filosofi Arat Sabulungan yang memandang alam sebagai subjek kehidupan, karya ini menghadirkan tubuh sebagai ruang yang menyimpan jejak ritus, sejarah, trauma, dan harapan. Tubuh dalam karya ini bukan simbol kemurnian adat maupun representasi modernitas, melainkan tubuh yang terus bernegosiasi dengan agama, negara, ekonomi, dan budaya. Melalui pengalaman personal sebagai pewaris adat Mentawai, karya ini menggunakan pemaknaan Ruang Ambang sebagai refleksi bahwa kehidupan tidak selalu hadir dalam pilihan hitam atau putih, melainkan berlangsung dalam kondisi liminal berkepanjangan yang terus menumbuhkan identitas.

Kredit Produksi Karya:

Produser : Dwi Asti Wulanjani

Koreografer & Penampil : Achmad Ghozali

Komposer : Rofri Hendri

Penampil : Dewi Safitri

Publisitis : Ichalago

Kolaborasi yang lahir dari Open Call Jagongan Wagen Tahun 2026

Episode ini lahir dari Open Call Jagongan Wagen PSBK tahun 2026. Bulan Agustus lalu, PSBK membuka Open Call Jagongan Wagen PSBK 2026 bagi seniman dan produser seni pertunjukan untuk memperkenalkan karya serta gagasan artistik mereka kepada publik. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya Jagongan Wagen (JW), program rutin PSBK yang telah berlangsung sejak tahun 2007, untuk terus menghadirkan karya-karya pertunjukan yang segar dan inovatif, baik dalam pendekatan artistik maupun wacana yang diusung. Selama lebih dari 18 tahun, Jagongan Wagen tumbuh sebagai laboratorium kreasi, ruang apresiasi dan jendela refleksi di ekosistem seni budaya Indonesia

Sepanjang 2026, PSBK merencanakan empat episode Jagongan Wagen terselenggara untuk mempertemukan beragam praktik dan perspektif artistik. Perjalanan tahun ini telah dibuka pada Juli 2026 melalui episode ke-155 dengan Panjat Hujan, karya seniman tari kontemporer Tony Yap dari Australia. Sebulan kemudian, Jagongan Wagen episode ke-156 menghadirkan Gusti, Paringono Waras!, pertunjukan monolog komedi satir oleh Sakdiyah Ma’ruf (Indonesia) dengan dramaturgi Erlina Rakhmawati (Indonesia). Lalu pada bulan Oktober ini, Jagongan Wagen di PSBK kembali hadir menampilkan karya-karya yang terpilih melalui Open Call Jagongan Wagen PSBK 2026. Dua episode ini akan menghadirkan ragam pendekatan, mulai dari tari kontemporer yang berangkat dari pengalaman masyarakat Mentawai hingga pertunjukan audio visual. Kehadiran karya-karya ini menjadi kesempatan untuk mempertemukan gagasan dan proses kreatif para seniman dengan publik antar daerah di Indonesia.

Pengalaman Khas Ruang nJagong di Selatan yang tak boleh dilewatkan

Bagi PSBK, pengalaman menikmati pertunjukan tak hanya dimulai ketika karya tersaji di panggung, tetapi sejak pengunjung melangkah memasuki kawasan pertunjukan. Semangat tersebut membawa PSBK secara rutin menghadirkan Ruang nJagong di Selatan untuk menemani pengunjung Jagongan Wagen Episode 157: Kipa-ku Gagalai, baik sebelum maupun sesudah pertunjukan. Sebuah ruang jeda untuk menikmati sajian, bercengkrama dan menghabiskan waktu bersama sebelum kembali menyelami pengalaman artistik.

Dalam rangkaian JW kali ini hadir beberapa pilihan kudapan ringan kue-kue manis dari Titabikinkukis untuk menemani waktu menunggu. Pilihan minuman yang beragam mulai dari Kombucha Bons Fabriek, jamu dari Muja Muju, matcha dari Mogi Matcha hingga racikan kopi khas dari Le Gareca. Bagi yang ingin menikmati sajian lebih mengenyangkan, Dapur Bunti hadir membawa menu nasi jinggo dari Bali serta ramen hangat dari Le Gareca. Sebelum pulang, sempatkan juga mampir melihat karya dari Studio Karjakoe yang lucu-lucu untuk dibawa pulang.

Tentang Produser dan Seniman Penampil

Achmad Ghozali (Jali) adalah penari dan koreografer asal Mentawai yang tumbuh dalam lingkungan budaya Mentawai khususnya lingkungan Sikerei. Pengalaman hidup membentuk pemahaman tentang dirinya bahwa tubuh merupakan ruang yang menyimpan ingatan pengetahuan leluhur, nilai-nilai budaya, serta keterhubungan manusia dengan alam dan spiritualitas. Melalui tari kontemporer, Jali banyak mengeksplorasi akar tradisinya untuk merespon persoalan sosial, budaya dan ekologi. Praktik artistiknya menjadi ruang untuk menelusuri identitas masyarakat adat dan berbagai negosiasi yang berlangsung di antara warisan budaya dan perubahan kehidupan masa kini.

Dwi Asti Wulanjani atau akrab disapa Jani adalah seniman, produser dan kurator asal Jambi dengan pengalaman 14 tahun mengembangkan narasi imersif melalui karya seni pertunjukan, film dan festival berbasis komunitas. Dalam praktik kuratorial dan produksinya, Jani menjadikan tradisi budaya dan lingkungan sebagai ruang riset sekaligus pengembangan pengetahuan untuk merespon krisis ekologis di Sumatera. Melalui Jambi Cultural Festival dan Festival Nyimah Parit, Jani mewujudkan keyakinannya bahwa seni dapat menjadi ruang untuk bertahan dan menyuarakan kehidupan. Baginya, tradisi bukan sekadar kenangan, melainkan jawaban.

Rofri Hendri atau biasa dipanggil Kedeang adalah seorang seniman dan komposer yang bergerak di bidang komposisi musik kontemporer berbasis tradisi yang berasal dari Padang Pariaman, Sumatera Barat. Selain berfokus pada penciptaan musik, Rofri Hendri juga aktif terlibat dalam berbagai proses kolektif lintas disiplin, meliputi tari, teater, serta beragam media seni lainnya.

Dewi Safitri merupakan penari dan koreografer muda asal Solok, Sumatera Barat. Lulusan Sarjana Seni Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang ini aktif terlibat dalam berbagai karya koreografer lokal maupun internasional diantaranya Tabula Rasa Asa, Bisik dalam Hijau, Rantak Nagari Parampuan, Relationship Ladder dan Legaran Svarnadiva. Tidak hanya berkarya di panggung, Dewi juga memiliki pengalaman dalam manajemen seni pertunjukan sebagai Stage Manager, Movement Director, dan Pimpinan Produksi pada berbagai kegiatan seni. Melalui karya-karyanya, Dewi berupaya mengangkat isu sosial, budaya, dan pengalaman kehidupan masyarakat ke dalam bentuk pertunjukan tari kontemporer yang berakar pada nilai-nilai lokal Minangkabau.

Ichalago Chaniago adalah seorang seniman tari, koreografer, pendidik, dan kreator konten pendidikan ,aktivis lingkungan melalui social media yang berasal dari Jambi, Indonesia. Ia dikenal luas baik di dunia seni pertunjukan konvensional maupun di media sosial berkat kemampuannya mengemas pesan-pesan sosial dan budaya ke dalam karya yang ekspresif. (Tim Humas PSBK/Antok Wesman-Impessa.id)