Feature

Perjalanan Pelukis Batik AGUNG SUHARTANTO Yang Menggelar 100 Karyanya Di Taman Budaya Embung GIwangan Yogyakarta

Perjalanan Pelukis Batik AGUNG SUHARTANTO Yang Menggelar 100 Karyanya Di Taman Budaya Embung GIwangan Yogyakarta

Perjalanan Pelukis Batik AGUNG SUHARTANTO Yang Menggelar 100 Karyanya Di Taman Budaya Embung GIwangan Yogyakarta

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, September 2026: Pameran Lukisan Batik karya Agung Suhartanto berjudul “MENEROKA” yang digelar di Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta, pada 27 September hingga 2 Oktober 2026, hadir sebagai sebuah perayaan atas waktu, kedisiplinan, konsistensi, dan laku emosional yang menyertai bertumbuhnya arah kreativitas seniman yang tetap ‘Njawani’.

Jeni Astuti dalam tulisan pengantar pameran menyebutkan: “Melalui medium batik dua dimensi, Agung mengajak kita menelusuri perjalanan berkeseniannya yang membentang dari ruang-ruang studi dan penghayatan terhadap tradisi hingga penjelajahan artistik kontemporer hari ini. Di balik setiap torehan canting, lelehan malam, dan bentangan kain, terdapat perjalanan yang tidak selalu tampak: lingkungan keluarga yang sejak dahulu memperkenalkan batik, proses belajar yang panjang, berbagai perjumpaan, serta pengalaman-pengalaman personal yang turut membentuk keberanian Agung dalam menemukan bahasa artistiknya,” ujar Jeni.

Disebutkan; “Perjalanan tersebut tidak berlangsung dalam ruang yang sepenuhnya sunyi. keluarga, lingkungan belajar, perjumpaan dengan berbagai tokoh, serta pengalaman hidup menjadi bagian dari proses yang perlahan membentuk cara pandang Agung terhadap batik dan seni. Dari berbagai pengalaman tersebut, tumbuh keyakinan bahwa batik bukan semata-mata kain dengan fungsi tertentu, melainkan sebuah medium yang memiliki kemungkinan estetika dan bahasa visual yang luas,” sebutnya.

Lebih lanjut Jeni menuturkan bahwa Perjalanan Agung diawali oleh proses eksperimen yang panjang dan kedekatan yang kuat dengan pakem tradisional. Baginya, batik merupakan identitas sekaligus kekayaan pengetahuan yang perlu dihormati. Pada fase awal, karya-karyanya ditandai oleh ketekunan dalam memahami pakem batik klasik dan eksplorasi bentuk-bentuk alam, seperti karya-karya busana yang dibuatnya pada masa awal serta karya tugas akhir yang mengusung biota laut.

“Dari titik tersebut, Agung perlahan menemukan keberanian untuk memperluas batas-batas batik. Dinamika kehidupan, kegelisahan, pengalaman, dan dialog yang terus berlangsung kemudian membawa dirinya pada sebuah titik balik yang krusial. Dengan cara pandang yang semakin bebas, ia mulai mendobrak pola-pola klasik melalui berbagai eksperimen, termasuk teknik tutup celup (resist dyeing). Kain batiknya kemudian berkembang menjadi semacam kanvas ekspresif yang menangkap gerakan organik alam. Hal tersebut dapat dilihat dalam karya-karya seperti Arwana Biru, Asa di Bawah Langit Biru, Gajah Naik Gajah, Gemah Ripah Loh Jinawi, dan berbagai karya lainnya,” imbuh Jeni.

Menurut Jeni, pada fase transisi tersebut, motif batik tidak lagi hadir semata sebagai pola yang mengikat bidang kain. Ia berkembang menjadi bentuk-bentuk yang lebih detail, warna yang bertumpuk, serta elemen-elemen yang saling berkelindan. Setiap lapisan warna, gradasi, bentuk, dan sapuan visual seolah merekam memori, sejarah, tradisi, pengalaman, kegelisahan, tawa, sekaligus proses pendewasaan rasa.

Jeni menuliskan, alam dan kehidupan menjadi ruang penting bagi Agung untuk terus mengembangkan bahasa visualnya. Flora, fauna, manusia, kebudayaan, simbol-simbol tradisi, hingga berbagai fenomena kehidupan hadir dalam karya-karyanya sebagai elemen yang saling berhubungan. Batik tidak lagi hanya menjadi medium untuk mempertahankan sesuatu yang telah ada, tetapi juga menjadi ruang untuk bertanya, menafsirkan, dan merespons zaman.

“Kini, Agung Suhartanto menampilkan kematangan visualnya melalui karya-karya batik kontemporer yang hidup, dekat, dan adaptif terhadap realitas hari ini. Komposisi dua dimensinya hadir dengan keberanian dan skala yang monumental, tanpa kehilangan jati diri luhur dari material malam dan kain itu sendiri. Di tangan Agung, tradisi tidak berhenti di masa lalu. Tradisi bergerak, berubah, bernegosiasi dengan pengalaman, dan terus menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. Batik menjadi bahasa yang memungkinkan masa lalu, masa kini, dan masa depan hadir dalam satu ruang yang sama,” jelas Jeni.

Sang penulis menutup dengan kesimpulan bahwa Meneroka pada akhirnya bukan hanya perjalanan menyusuri karya-karya Agung Suhartanto. Ia adalah perjalanan untuk melihat bagaimana sebuah tradisi dapat terus hidup melalui proses pencarian, perubahan, pengalaman, dan keberanian untuk membuka kemungkinan baru. Selamat menikmati perjalanan, menelusuri setiap kisah, dan melintasi waktu. (Feature of Impessa.id by Jeni Astuti-Grace-Antok Wesman)