Pameran Lukisan Bersama LOOM, Di IndieArt House Yogyakarta, 8-21 Agustus 2026
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Agustus 2026: Empat seniman masing-masing, Antonius Kho, Ridi Winarno, Tjokorda Bagus Wirataja dan Hooly Nur Lia, menggelar pameran lukisan bersama beratjuk “LOOM” di IndieArt House,Jalan AS Saniawaat Barat No.088, Tegal Kenanga, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 8-21 Agustus 2026.

ARCH Group Exhibition gelar pameran lukisan bertajuk “LOOM” karya empat seniman di IndieArt House, Jalan AS Saniawaat Barat No.088, Tegal Kenanga, Tirtonirmolo Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 8-21 Agustus 2026. Sebagai metafora tentang bagaimana manusia saling terhubung layaknya benang-benang yang ditenun menjadi satu kesatuan. Setiap individu membawa warna, pengalaman, dan bentuk yang berbeda, namun melalui ruang kebersamaan, perbedaan tersebut tidak berdiri sendiri. Pameran ini memandang hubungan antarmanusia sebagai proses merangkai, menyusun, dan merawat keterikatan yang terus bergerak serta berubah seiring waktu. Melalui pendekatan visual dan gagasan yang beragam, pameran ini menghadirkan karya dari Antonius Kho, Ridi Winarno, Tjokorda Bagus Wiratmaja, dan Holy Ine yang bersama-sama membangun dialog mengenai relasi, identitas, dan keberadaan manusia dalam ruang kolektif.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebersamaan sering kali hadir melalui hal-hal kecil yang sederhana: percakapan singkat, tatapan, ingatan kolektif, hingga ruang yang dibagi bersama. LOOM mencoba menangkap fragmen-fragmen tersebut melalui karya yang mengeksplorasi kedekatan emosional, interaksi sosial, dan dinamika antara individu dengan komunitasnya. Setiap karya menjadi representasi dari benang-benang narasi yang saling bersilangan dan membentuk pola baru. Perbedaan karakter visual dari masing-masing seniman justru menjadi bagian penting dalam membangun harmoni di dalam pameran ini.
Pameran ini juga menyoroti bagaimana identitas personal tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Manusia tumbuh melalui relasi, lingkungan, dan pengalaman bersama. Dalam proses tersebut, terdapat tarik-ulur antara kedekatan dan jarak, harmoni dan perbedaan, yang kemudian membentuk jaringan hubungan yang kompleks namun organik. Seperti proses menenun, setiap pertemuan meninggalkan jejak dan memperkuat struktur yang tercipta secara perlahan. Kehadiran empat seniman dengan latar dan pendekatan artistik yang berbeda memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat saling melengkapi dalam satu ruang bersama.


Secara visual, LOOM membuka ruang bagi eksplorasi tekstur, lapisan, repetisi, dan ritme sebagai bahasa artistik utama. Elemen-elemen ini menjadi simbol dari hubungan yang saling mengikat sekaligus saling menopang. Pameran tidak hanya diposisikan sebagai ruang melihat karya, tetapi juga sebagai ruang mengalami keterhubungan—antara seniman, karya, ruang, dan pengunjung yang hadir di dalamnya. Melalui karya-karya yang ditampilkan, pengunjung diajak merasakan bagaimana setiap individu merupakan bagian dari anyaman besar yang terus bergerak dan berkembang.


Melalui LOOM, pameran ini mengajak audiens untuk merefleksikan kembali makna kebersamaan di tengah dunia yang semakin individual dan serba cepat. Bahwa pada akhirnya, manusia selalu hidup di dalam jaringan hubungan yang saling terhubung; sebuah anyaman besar yang terbentuk dari keberadaan satu sama lain. Kebersamaan bukan sekadar kedekatan fisik, melainkan proses terus-menerus dalam merangkai, memahami, dan menjaga hubungan antarmanusia. Dalam pertemuan gagasan antara Antonius Kho, Ridi Winarno, Tjokorda Bagus Wiratmaja, dan Holy Ine, LOOM menjadi ruang untuk merayakan keterhubungan tersebut melalui bahasa seni visual. (Noer-IndiArt House/Antok Wesman-Impessa.id)

