Feature

KI HANGNO HARTONO Sukses Pentaskan WAYANG ALIEN Di OMAH BUDAYA KAHANGNAN Yogyakarta

KI HANGNO HARTONO Sukses Pentaskan WAYANG ALIEN Di OMAH BUDAYA KAHANGNAN Yogyakarta

KI HANGNO HARTONO Sukses Pentaskan WAYANG ALIEN Di OMAH BUDAYA KAHANGNAN Yogyakarta

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Maret 2026: Ki Hangno Hartono, alumni Akademi Komunitas Negeri -AKN Seni Budaya Yogyakarta, sukses mementaskan ‘Wayang Alien’ perdananya bertempat di Omah Budaya KAHANGNAN Jalan Pringgading RT 1 Goasari-Pajangan, Bantul, pada Minggu sore hingga selesai, 15 Maret 2026, atas dukungan Komunitas Jaringan Wayang Kontemporer Yogyakarta.

Usai perhelatan, kepada Impessa.id, Ki Hangno menjelaskan pesan melalui pementasan seni wayang terbarukan nan unik tersebut. “Awalnya kami prihatin dengan kondisi lingkungan seperti ketika banjir terlihat gelondongan-gelondongan kayu terseret arus berserakan dalam jumlah banyak tak terhitung dipantai, yang menandakan adanya pembabatan hutan secara besar-besaran, kemudian kejadian itu saya rangkai dengan kegiatan para aktivis, secara kebetulan disaat saya menulis naskah ini ada seorang aktivis yang berkunjung dan dirinya banyak cerita tentang penambangan liar yang akibatnya merusak lingkungan, tercetuslah ide melanjutkan penulisan naskah berjudul ‘Kerusakan Lingkungan dan Alien’ karena disini kehadiran Alien erat kaitannya dengan hal itu,” ungkapnya.

“Kalau ada cerita-cerita orang diculik Alien, maka semuanya itu untuk mengingatkan akan bahayanya kerusakan lingkungan, termasuk bahayanya Perang Nuklir, lantas ide tersebut aku bungkus dengan cerita ‘Penyelamatan Bumi Satu Kesatuan Penciptaan Alam Raya’,” ujar Ki Hangno.

“Suatu konsep ningrat kemanusiaan dan kesemestaan, menyadarkan kembali secara konseptual manusia dan kesemestaan, wujud paling sederhana untuk mencintai bumi, aku bungkus dalam cerita, heroiknya itu para idealis ada tokoh antagonis yakni oligarki, ada tokoh protagonis yakni para idealis, ada tokoh mitologis yakni para Alien, ada asuro-buto, yang diramu kedalam sebuah cerita, menghadirkan 17 sosok, salah satunya adalah Pohon Taruhayat, yang terisnpirasi dari penebangan pohon Randu Alas di Borobudur,” jelasnya.

“Kaitannya dengan space-science, tolok ukur kehidupan itu adalah adanya pohon, disini NASA yang menghabiskan dana sangat besar sekedar untuk mencari pohon di luar bumi sana, ironisnya, di bumi sendiri yang begitu nyata, pohon malah dirusak,” imbuhnya lebih lanjut.

Proses persiapannya hampir tiga bulan dimulai dengan mengonsep bentuk, kemudian bikin narasi, juga ada dramaturginya, dimana terjadi suspensinya-kejutannya, dan pementasannya. “Pementasan perdana ini masih dalam tahapan eksplorasi, untuk kemudian dilakukan evaluasi, inginnya menyajikan suatu pementasan yang bagus, ada tata-cahaya, ada pentas tariannya, live-music, namun kali ini yang penting ada dulu, selanjutnya jika ada yang tertarik untuk bikin lebih sempurna nah itu yang menjadi harapan kami,” tutur Ki Hangno Hartono.

Ki Hangno menuturkan, “Kami, Komunitas Jaringan Wayang Kontemporer -KJWK, sebagai kumpulan orang-orang yang punya kreasi dibidang wayang, terbuka untuk siapapun turut berpartisipasi. Kami, disetiap pertemuan senantiasa menggelar workshop tata-cara membuat wayang, karena wayang dapat digunakan untuk bercerita tentang uneg-uneg kondisi saat ini, untuk ngrumpi secara lucu, serta kisah-kisah tentang anarki yang menarik untuk dikembangkan menggunakan wayang sebagai sarana untuk komunikasi massa”.

Ki Hangno menambahkan, “Pertemuan KJWK berlangsung di Omah Budaya KAHANGNAN Jalan Pringgading RT 1 Goasari-Pajangan, Bantul, Yogyakarta, setiap 35 hari sekali, tiap Minggu Legen, Selapan sekali, berisi workshop, pentas, dan dialog tukar inspirasi, dengan harapan semakin banyak kemunculan para pemikir, mengulas dinamika kehidupan yang tak akan habis dibahas, lewat media wayang.”

Dalam kesempatan itu, Mahmud El Kadrian, seorang dramawan dan penulis yang turut menyaksikan pentas seni itu, ketika dikonfirmasi Impessa.id terkait pementasan “Wayang Alien” di Omah Budaya KAHANGNAN tersebut; mengatakan meski dirinya sudah sering mendengar perihal ‘Wayang Alien’ namun baru pertamakalinya dirinya melihat langsung pentasnya, dan membuatnya tertarik dengan visual wayang-wayang alien tersebut.

“Ini wayang kontemporer yang setidaknya mewakili wayang kekinian, yang mungkin dimaksudkan ingin mengatakan bahwa wayang bisa diarahkan kepada era-era kekinian. Pada pementasan kali ini saya ingin mengkritisi terkait konflik artisitk atau konflik estetika, pertunjukann ini sudah ada unsur kontemporernya, karena sudah berubah semua elemen, baik sound, pertunjukan, maupun panggung, setidaknya Komunitas Jaringan Wayang Kontemporer ini mampu menunjukkan hal-hal terunik, seperti visual wayang alien yang dimunculkan, Ini sudah termasuk seni pertunjukan karena sudah ada unsur visual dan cerita. Masukannya yaitu unsur artistic dan estetika lebih diperdalam lagi, dibikin lebih unik lagi, sehingga menjadikannya sesuatu yang ikonik untuk sebuah kesenian,” ujar Mahmud El Kadrian. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)