Feature

Dua Perupa HASAN dan HELMI FU Gelar Karya Lukisan FREEDOM Di ARTOTEL Suites Bianti Artspace Yogyakarta

Dua Perupa HASAN dan HELMI FU Gelar Karya Lukisan FREEDOM Di ARTOTEL Suites Bianti Artspace Yogyakarta

Dua Perupa HASAN dan HELMI FU Gelar Karya Lukisan FREEDOM Di ARTOTEL Suites Bianti Artspace Yogyakarta

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Maret 2026: ARTOTEL Suites Bianti Artspace menghadirkan pameran duo Hasan dan Helmi Fu, berjudul 'Kebebasan'. Arti dari judul ini sangat luas, tetapi untuk keduanya seniman, di sini, kebebasan bukan hanya tema; itu adalah metodologi artistik mereka Praktik, pengejaran ekspresi, imajinasi, dan eksplorasi tanpa lelah secara aktif. Melalui dua bahasa visual yang berbeda, pameran ini mengajak pemirsa untuk menyaksikan pembebasan semangat kreatif.

Dalam dialog bersama Reza Farhan, General Manager ARTOTEL Suites Bianti-Yogyakarta, dengan kedua perupa dipandu Teja Kumala, terungkap bahwa karya-karya Helmi berangkat dari kecemasan tentang cara manusia saling memandang dan memberi makna pada usia, identitas dan pengalaman. Dia tertarik dengan ruang antara apa yang dilihat, dirasakan dan apa yang disimpulkan. Melalui pendekatan visual yang cenderung abstrak dan kontemporer, Helmi bebas menggunakan media atau materi untuk menciptakan karyanya. Kertas adalah media yang dia anggap sangat pribadi. Jadilah itu kertas berwarna, majalah tua atau poster yang menempel di tembok kota. Menurutnya, kertas adalah sesuatu yang sangat pribadi.

Adapun Hasan, berkreasi adalah proses membebaskan imajinasi seseorang dalam berkreasi bentuk, warna dan goresan. Dia mengesampingkan semua standar dan prinsip denda seni yang bersifat akademis agar dapat menciptakan visual yang lebih bebas dan tanpa beban.

Sementara subjek mereka berbeda, Hasan dan Helmi dipersatukan oleh niat bersama melalui pameran ini. 'Kebebasan' berfungsi sebagai cermin bagi penonton. Itu menantang kita untuk mempertimbangkan di mana kita dapat menemukan ruang eksplorasi kita sendiri dan bagaimana kita dapat menerapkan keberanian "kebebasan seniman" pada yang lebih luas lanskap kehidupan kita.

Helmi Fuadi adalah seniman visual kontemporer yang lahir di Banyuwangi pada tahun 1990 dan saat ini berbasis di antara Klaten dan Yogyakarta, yang praktiknya mengeksplorasi perilaku sosial, ketegangan emosional, dan psikologi manusia melalui pendekatan ekspresif dan digerakkan oleh proses. Dididik dalam seni rupa di Universitas Negeri Yogyakarta, Helmi mengembangkan komposisi visual berlapis yang menyatu tipografi yang terfragmentasi, bidang kromatik yang intens, dan pembuatan tanda gerakan, sering menggunakan bahan reklamasi seperti kaca, kertas, majalah, dan poster.

Karya-karyanya, ditandai dengan permukaan tekstual yang padat yang sebagian dikaburkan oleh warna eksplosif—menunjukkan ketidakstabilan bahasa, ingatan, dan persepsi, mencerminkan kebisingan psikologis batin dan tekanan sosial kolektif. Bergerak lancar antara lukisan, pertunjukan, dan kolaborasi interdisipliner, dan dengan karya-karya yang dikumpulkan secara internasional termasuk melalui program-program di Museum MACAN, Helmi memposisikan seni sebagai proses terapeutik dan ruang untuk menghadapi kompleksitas emosional dan sosial.

Lukisan berjudul “Chrono Bias Prasangka”, karya tahun 2026, media campuran di Kanvas berukuran 150 x 150cm; terdiri dari tiga gagasan: kronologi (waktu), bias (kecenderungan atau penilaian), dan prasangka (asumsi). Karya ini adalah visual ekspresi ketakutan, kekhawatiran, dan kecemasan, sangat terkait dengan waktu, dan dari bentuk cinta yang tidak mudah diucapkan. Teks dalam karya itu berbunyi, "belum cukup tua, sudah terlalu tua, masih terlalu muda, belum berpengalaman," melambangkan bagaimana segala sesuatu yang kita capai atau alami dalam hidup tidak dapat dipisahkan dari waktu, periode, dan fase.

Karya ini menggunakan teknik kolase media campuran seperti kertas daur ulang, kertas berwarna, fragmen poster yang dikumpulkan dari tembok kota, cat semprot, dan akrilik cat. Komposisi dibangun lapis demi lapis, seperti pengalaman dan ingatan manusia yang terus terakumulasi dari waktu ke waktu.

Sedangkan Hasan adalah seniman visual kelahiran Sumenep pada 20 Januari 1986, yang belajar seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan aktif mengembangkan praktik seni yang ditandai dengan eksplorasi dan eksperimen. Karya-karyanya telah telah disajikan secara luas di berbagai pameran nasional dan internasional, termasuk partisipasi dalam Art Jakarta dan pameran di Galeri Nasional Indonesia, serta berbagai ruang seni mandiri di seluruh Indonesia. Dengan rekor pameran yang konsisten mulai dari pertengahan 2000-an hingga saat ini, Hasan diakui sebagai seniman yang terus mengeksplorasi ide-ide visual melalui media yang beragam, memadukan kepekaan lokal dengan wacana dinamis seni kontemporer.

Lukisannya yang berjudul “Harmony”, acrylic on Canvas berukuran 120 x 100cm, karya tahun 2026, mengisahkan tentang alam, terutama hutan, mengajarkan kita tentang keindahan dan kehidupan yang harmonis. Dalam hutan, ribuan bahkan jutaan spesies tumbuhan dengan beragam bentuk, karakteristik, dan warna hidup berdampingan. Keragaman yang kaya hidup bersama inilah yang menciptakan harmoni dan membawa sukacita ke hati kita ketika kita menyaksikannya. Demikian juga, sebagai manusia yang hidup bersama dalam keragaman, lintas budaya, agama, dan etnisitas, kita harus dapat menciptakan harmoni dari perbedaan kita. Ketika kita Saling merangkul dan menghormati, hidup menjadi lebih indah dan bermakna. (Feature of Impessa.id by Teja Kumala-Antok Wesman)