Event

Sebanyak 15 Perupa MAGETIART Magetan Pameran di PAS Yogyakarta.

Sebanyak 15 Perupa MAGETIART Magetan Pameran di PAS Yogyakarta.

Sebanyak 15 Perupa MAGETIART Magetan Pameran di PAS Yogyakarta.

Impessa.id, Yogyakarta: Pameran seni rupa bertema 'Post Hybrid'  diusung oleh kelompok Magetiart asal Magetan Jawa Timur, memajang 30 lukisan karya 15 perupa, dikuratori Heri Kris. Pameran dibuka oleh kolektor seni rupa Oei Hong Djien, di Pendhapa Art Space (PAS) Jalan Lingkar Selatan Tegal Krapyak, Panggungharjo, Sewon Bantul, Selasa sore (20/6/2023), dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Magetan Joko Trihono, dan para seniman perupa Yogya dan pameran berlangsung hingga Kamis (29/6/2023) mulai pukul 10.00-21.00, terbuka untuk umum.

Direktur PAS Ganes Satya mengatakan, bahwa keberadaan PAS, sebagai ruang publik seni budaya terbuka bekerja sama dengan lembaga, komunitas seni di DIY dan berbagai daerah di Indonesia. Termasuk, pameran lukisan bersama bekerja sama kelompok seni rupa Magetiart dari Magetan ini. "Semoga dari anggota Magetiart ini, ada yang kembali menggelar pameran tunggal," harap Ganes Satya.

Joko Trihono mengatakan, pihak Pemkab Magetan, sangat mendukung aktivitas pameran seni rupa yang diselenggarakan oleh kelompok Magetiart di Yogya. Selain itu, pihak Pemkab Magetan mempunyai kebijakan mengapresiasi dan membeli lukisan karya perupa Magetan untuk dipajang di kantor dinas. "Kebijakan Pemkab Magetan mengapresiasi dan membeli karya seni rupa sudah diawali sejak tahun 2022," papar Joko Trihono.

Oei Hong Djien menyambut baik kebijakan pihak Bupati  Magetan yang mempunyai kesadaran mendukung dengan menganggarkan dana untuk mengapresiasi dan membeli karya seni rupa hasil seniman perupa daerah Magetan. Artinya, kebijakan Pemkab Magetan sangat luar biasa, yang ke depan diikuti oleh para Bupati dari berbagai daerah.

"Kalau setiap Pemkab di berbagai daerah menganggarkan dana untuk mengapresiasi dan membeli karya seni rupa untuk dipajang di kantor-kantor dinas, secara nyata mendukung memajukan berkembangnya seni rupa dan menciptakan pasar di luar kolektor," imbuh Oei Hong Djien, sambil menambahkan lukisan yang dipajang karya 15 perupa Magetiart, bagus-bagus layak diapresiasi.

Heri Kris memaparkan, pameran bertema 'Post hybrid' ini, sebagai representasi dari buah pemikiran tentang perpaduan dan perkawinan antarelemen budaya yang diolah menjadi karya kekinian. Karya-karya yang hadir sesuai dengan spirit dan karakter masing-masing dengan ukuran relatif besar. Kemudian proses kurasi yang dilakukan secara online setiap dua minggu sekali, dalam bentuk presentasi dengan bahasan tentang gagasan, teknik dan konsep karya sejak lima bulan yang lalu untuk mencari dan menentukan kualitas karya yang baik.

“Karya mereka banyak mengawinkan unsur-unsur budaya yang disebut cultural universal. Unsur tradisi lokal banyak menginspirasi. "Beberapa perupa juga merespons budaya kontemporer yang selalu berubah. Informasi dari media sosial juga memberi pengaruh besar pada perkembangan karya mereka," tutur Heri Kris.

Dikatakan Heri Kris, 30 karya lukisan, yang dipajang masing-masing mempunyai gaya berbeda, semisal lukisan karya Agus Wicak, Zulfian Hariyadi dan Nurina mengangkat gaya dekoratif dalam lukisannya. Gaya dekoratif dalam seni klasik dan tradisional, spiritnya di ekspresikan kedalam lukisan yang lebih kekinian temanya. Lukisan bergaya surealistik ada pada karya Hendra Prast, Rio Wahyu Anggoro, Agus Zuga dan Mahendra Yudha. Karya mereka kebanyakan terinspirasi dari alam mimpi maupun alam imajiner.

Kemudian ada beberapa karya abstrak, dibuat oleh Nanang Yulianto dan Heru Gagar. "Kedua pelukis ini memamerkan lukisan yang tidak berbentuk, hanya goresan-goresan intuitif dan sedikit image yang samar yang bersifat misteri. Abd Mukti, pelukis yang juga pengasuh pondok pesantren terinspirasi dari seni kaligrafi," jelasnya.

Heri Kris menyebutkan, karya lukisan semiotik kreasi pelukis Agung WHS, ide dari peristiwa zaman dulu dibuat dengan gaya kekinian. Selain itu, lukisan yang mengekspresikan nilai-nilai perjuangan karya Hariyanto, pensiunan tentara mengekspresikan kerinduannya perdamaian. Pelukis Romdon Hamdani melukiskan puing-puing candi disandingkan dengan simbol-simbol benda kekinian. Ragam benda beda zaman tersebut disusun menjadi satu narasi yang memberi kesan sebagai artefak.

Wahyuono menampilkan cerita perang dalam pewayangan, namun diekspresikan sebagai perang dalam konteks sekarang dengan menghadirkan alat perang canggih. Eko Sudarmawan juga mengangkat wayang dengan melukiskan dua tokoh bernama Cangik dan Limbuk sedang bermain musik.

Pameran Bersama kelompok Magetiart ini, lanjutnya, telah menunjukkan bahwa kota Magetan memiliki beberapa perupa berpotensi besar dalam dunia seni rupa. "Di era keterbukaan dan majunya dunia internet, memberi dampak positif bagi dunia seni, segala informasi bisa diakses dengan cepat, sehingga, setiap orang tidak lagi merasa termarginalkan," kata Heri Kris. (Khocil Birawa/Antok Wesman-Impessa.id)