Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Terbitkan Buku Ensiklopedia Karya Ulama Nusantara
Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Terbitkan Buku Ensiklopedia Karya Ulama Nusantara
Impessa.id, Yogyakarta: Untuk melengkapi referensi, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Ditpontren) Kementerian Agama berhasil menerbitkan ensiklopedia karya ulama nusantara, untuk merekam jejak, karya-karya dan nama-nama ulama nusantara. Buku ini sebagai literatur baru yang ditulis dalam satu ensiklopedia atau karya besar tentang ulama-ulama pesantren dan karyanya di Indonesia. Meski masih banyak yang belum tertulis, karya-karya ulama kita itu banyak sekali jika dikumpuklan.
Demikian Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI Dr KH Waryono Abdul Ghofur MAg menyampaikan keynote speaker Webinar Nihao Ramadhan pada Bedah Buku: Ensiklopedia Karya Ulama Nusantara yang diselenggarakan PCI-NU Tiongkok X Muslimat NU Tiongkok, Senin (18/4/2022).

Waryono menyampaikan pesan untuk PCI-NU Tiongkok agar selain mentransfer pengalaman pemahaman keagamaan Islam di Nusantara tapi juga bagaimana mereka sebagai minoritas juga bisa eksis. Kedua, kita ini termasuk yang miskin kodifikasi atau miskin tulisan yang merekam jejak, karya-karya,nama-nama terkait apa yang ada di nusantara.
Waryono menambahkan, seperti yang kita ketahui, dari definisinya ensiklopedia artinya menyeluruh, lengkap dan sempuna, mungkin kita masih perlu belajar banyak dan karya-karya kita itu juga masih banyak yang terpendam. Oleh karena itu, harapannya kita bisa saling melengkapi dari literatur yang ditulis itu akan dijadikan satu ensiklopedia.
Sementara, kita ambil contoh, Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi punya ensiklopedia yang luar biasa tulisannya berjilid-jilid. Kita ini tidak punya tradisi itu sehingga di Indonesia masih banyak yang belum terungkap dan terdokumentasi yang bisa di baca oleh orang lain juga tulisan kita masih banyak yang belum menggunakan bahasa internasional.
“Kepada para penulis buku Ensiklopedia karya Ulama Nusantara silahkan mempelajari berbagai ragam ensiklopedia untuk buku kedua selanjutnya. Beliau juga mengingatkan kepada para penulis perbanyaklah belajar ide-ide dan gagasan baru.” tutup Waryono.

Sementara itu, A.Said Hasan Basri selaku Penulis dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta/ Direktur Pusat Studi Pendidikan dan Pesantren (PUSPPA) memaparkan Buku yang dibedah ini terbit pada awal tahun 2022. Penulisannya memakan waktu sekitar delapan bulan. Tim penulis adalah sebagai berikut: A.Said Hasan Basri, Moh Khoerul Anwar, Aris Risdiani, Munif Sholihan dan Arin Mamlakah Kalamika.
Said Menjelaskan Ensiklopedia ini terealisasi atas jasa dari Direktur Ditpontren Dr KH Waryono Abdul Ghofur yang juga beliau sangat konsen terhadap literasi khususnya dunia pesantren. Jika dibandingkan dengan generasi abad-abad sebelumnya, para santri maupun pemerhati islam ternyata bukannya bertambah pesat perkembangannya dalam dunia literasi ternyata justru mengalami penurunan sehingga berinisiatif untuk perlu kembali mendorong dunia tulis menulis di kalangan santri dan dikalangan nahdiyin khususnya umat islam seluruh indonesia agar lebih berkembang kembali. Dimana kenyataannya memang di pesantren-pesantren di Indonesia kita belum menemukan bagian khusus litbang (penelitan dan pengembangan) pesantren disitu kan seharusnya ada bagian riset di pesantren khususnya.
Said menambahkan ensiklopedi ini berisi 76 kyai dan ulama dengan berbagai macam karyanya. Memang keterbatasannya banyak sekali sehingga melibatkan tokoh-tokoh inti khususnya dikalangan NU. Seperti, sowan ke Gus Baha untuk meminta restu dibuku ensiklopedi pertama ini. Kemudian juga memohon kepada KH Zaim Ahmad syakir selaku ketua Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren se-Indoneaia (MP3I) untuk memeriksa naskah ini paling tidak sebagai validator untuk memperkuat bahwa yang ditulis tidak asal-asalan artinya bukan hanya sekedar inventarisasi tapi juga memiliki bobot yang lebih baik dan komperhensif. Kemudian penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam yang memayungi berbagai lembaga keislaman di indonesia.

Pemaparan terakhir yaitu dari A Ginanjar Sya’ban Filolog muda dan Dosen UNUSIA Jakarta sekaligus pembedah dalam buku ini beliau menyampaikan kita sebagai masyarakat muslim saat ini sangat memerlukan upaya lebih keras lagi untuk bisa mengenalkan karya-karya terbaik para ulama nusantara kita. Karena dulu para ulama nusantara ini telah terbukti dan teruji mengharumkan nama bangsa, memberikan sumbangsih dan manfaat yang luar biasa besar terhadap tradisi keilmuan. bukan hanya islam di nusantara tetapi juga di seluruh dunia islam melalui karya karya intkektual mereka yang sebagian diantaranya ada 76 tokoh di ensiklopedia ini. Maka dari itu, sangat penting dan harus kita apresiasi serta disambut baik dengan dikawal bersama.
Ginanjar mengatakan dunia islam dalam memandang sejarah peradaban islam di nusantara ini memandang dengan kacamata yang sangat sempit dan kecil. padahal jika dibandingkan ulama-ulama dari berbagai belahan dunia islam lainnya kita tidak kalah dalam masalah produktivitas dan juga melahirkan karya-karya intelektual tertulis ini.
Beliau juga menyebutkan bahwa ada ikhtiar untuk membuat ensiklopedia ulama-ulama nusantara dalam bahasa arab tetapi dalam bahasa indonesia mungkin sudah mulai bermunculan. Sementara,kita harus memperkenalkan dulu ulama-ulama kita mengharumkan dan hidmat terhadap keilmuan islam dengan karya-karya kita. Saat ini apa yang bisa kita lakukan mempelajari dan menghayati terhadap karya-karya mereka, jangan sampai menjadi generasi yang menyia-nyiakan warisan intelektual beliau-beliau sampai mengabaikan dan melupakan.
“Jangan sampai nantinya akan mengalami semacam keterputusan sejarah. Nah, keterputusan sejarah ini bisa kita sebut sebagai musibah besar bagi sebuah umat karena mereka tidak mengenal karya karya ulama kita.” pungkas Ginanjar.
Beliau juga menyampaikan selain membuat ensiklopedi yang dilakukan kalangan pesantren adalah karya-karya ulama nusantara kita dipublikasikan dan disebarkan kedunia islam secara luas agar dunia juga tahu bagaimana keilmuan ulama nusantara. (Khabib/Antok Wesman-Impessa.id)
