Event

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo Berharap Royal Ambarrukmo Menjadi Hotel Heritage Seutuhnya

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo Berharap Royal Ambarrukmo Menjadi Hotel Heritage Seutuhnya

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo Berharap Royal Ambarrukmo Menjadi Hotel Heritage Seutuhnya

Impessa.id, Yogyakarta: Bandara Yogyakarta International Airport -YIA, merupakan perpaduan antara Culture dan Teknologi, dan refleksi dari Yogyakarta yang selalu membangun dengan penuh filosofi. Begitu juga pada saat Hamengku Buwono I membangun Kota Yogyakarta atau Kraton Yogyakarta penuh dengan filosofi, yang sekarang masih bisa dilihat, baik artefaknya, maupun nilai-nilainya.

Hal itu dikemukakan Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Singgih Raharjo dalam sambutan perayaan Dirgayuswa Kasanga Royal Ambarrukmo yang dihelat di altar luas tempat menyambut kedatangan tamu Bandara YIA, Rabu (28/10/2020), sebagai wujud nyata sinergi diantara PT Angkasa Pura 1 selaku pengelola bandara YIA dan Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

“Suatu yang bisa kita lihat adalah antara Kraton, Tugu kemudian Panggung Krapyak, yang memanifestasikan Sangkan Lan Paraning Dumadi, darimana manusia berasal dan mau kemana manusia itu kembali. Ajaran yang sangat universal, sangat filosofis, dan kita semua yang ada di dunia ini pasti mengalami hal itu,” ujar Singgih Raharjo.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata DIY, bandara YIA dibangun dengan penuh filosofi, yang bisa disaksikan, begitu megahnya, begitu cantiknya, begitu eksotisnya, sehingga kini menjadi destinasi wisata juga. Setiap hari, setiap weekend, banyak masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan dari luar DIY, datang ke YIA tidak untuk terbang, tetapi untuk melihat bagaimana bandara seluas 600 hektar yang dibangun dengan anggaran sebesar 10,5 Trilyun Rupiah, betul-betul luarbiasa.

Perjalanan naik Bus Pariwsata dari Kota Yogyakarta menuju kebandara YIA di Kulon Progo memerlukan waktu sekitar dua jam, relatif tergantung kepadatan lalu lintas, hari itu, Rabu, 28 Oktober 2020, cuaca cerah bahkan terasa terik cukup menyegat. Dari dalam bus Ketika memasuki Gerbang Utama Bandara YIA, tampak sejauh mata memandang terhampar daratan rata yang sedang ditata dengan penghijauan dengan pohon perindang dan tanaman hias, meluncur di jalan aspal mulus mengikuti petunjuk arah jalur-jalur yang sudah ditentukan menuju area transit.

Begitu turun menginjakkan kaki, terlihat bangunan megah berdinding kaca, ber-arsitektur modern nan artistic, motif batik ada dimana-mana, di-dindingnya, di pilar-pilar raksasanya, di atapnya, replika Gerbang Kraton, Pos Jaga khas Tamansari ber-cat putih bersih, dengan skala satu-banding-satu, bahkan lampu jalanan, terasa Jogja Banget. Di ruang dalam yang ber-AC, lukisan-lukisan yang menggambarkan ciri-ciri Jogja karya seniman lokal, terpampang disepanjang dinding. Sangat instagramable!

Terkait perayaan Dirgayuswa Sembilan Tahun Royal Ambarrukmo Yogyakarta. Singgih Raharjo mengungkapkan bahwa angka Sembilan itu angka sempurna. “Saya juga punya harapan, dengan angka sembilan ini, Royal Ambarrukmo akan menjadi sebuah hunian atau sebuah akomodasi atau hotel heritage yang sesungguhnya, karena kalau kita lihat di sisi sebelah Barat-nya ada Pesanggrahan Ambarrukmo, yang masih bisa dilihat secara jelas artefaknya. Lebih dari itu ada yang bisa didengar yaitu gendhing-gendhing Jawa yang menghiasi lobby dan kamar-kamar hotel, sehingga nuansanya begitu kental dengan budaya Yogyakarta,” tutur Kepala Dispar DIY.

Singgih Raharjo menambahkan, “Kemudian beralih yang dirasa, bagaimana kulineri-nya hotel ini akan mencerminkan budaya Yogyakarta juga. Saya ingin masakan-masakan Hamengku Buwono yang bisa kita rasakan itu bisa hadir juga menjadi signature-nya kuliner-nya Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta. Saya kira ini menjadi poin yang sangat bagus untuk kemudian bisa kita Create disini. Yang berikutnya adalah yang di-roso, roso itu ada didalam hati, yaitu Value. Kita bisa melihat bagaimana kemudian Greeting dan Gesture-nya para Front-liner bahkan semua karyawan hotel, bisa me-refleksi-kan budaya Ngayogyakarta. Ini kemudian menjadi bagian yang ditata semua”.

“Saya sudah melihat aktifitas di Pendopo, ada beberapa komunitas yang bisa menggunakan Pendopo itu untuk kegiatan budaya. Ini luarbiasa, tepuk tangan untuk hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, yang memberi kesempatan masyarakat untuk bisa meng-akses Pendopo itu untuk kegiatan budaya. Ada latihan Tari, latihan Gamelan, Mocopat, dan sebagainya. Ini keren, ini luarbiasa. Ini ciri khas hotel Heritage yang perlu didorong dan dikembangkan terus. Saya juga ingin bagaimana Hotel Royal Ambarrukmo merefleksikan baik itu frontliner-nya, semua karyawan-nya dengan pakaian yang kemudian menunjukkan ke-khas-an budaya Jawa,” jelas Singgih Raharjo.

Pada 2019 akhir, Dinas Pariwisata DIY sudah me-launching pakaian khas pariwisata, dan Kepala Dinas Pariwisata DIY itu berharap hal itu bisa diaplikasikan di hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, mungkin bisa mengisi di satu hari yang kemudian bisa mencerminkan itu. Sebagai upaya kerjasama guna menciptakan ekosistem pariwisata yang lebih kondusif.

“Di usianya yang ke-sembilan, saya berharap ini akan terus dikembangkan untuk menjadi signature-nya RAY menjadi Hotel Heritage. Ini akan sangat In-line dengan visi kepariwisataan Yogyakarta, yang ingin menjadi Destinasi Pariwisata Terkemuka, Berbasis Budaya, dan Berkelas Dunia, atas dasar sinergi semua pihak yang punya komitmen yang sama untuk mewujudkannya,” tutup Singgih Raharjo. (Antok Wesman-Impessa.id)