Event

Teater Amarta, Pentaskan Dualisme, Di Kelas Pagi Yogyakarta, Sabtu, 23 November 2019

Teater Amarta, Pentaskan Dualisme, Di Kelas Pagi Yogyakarta, Sabtu, 23 November 2019

Teater Amarta, Pentaskan Dualisme, Di Kelas Pagi Yogyakarta, Sabtu, 23 November 2019

Impessa.id, Yogyakarta : Teater Amarta Yogyakarta yang terbentuk sejak tahun 2006, didirikan untuk menjadi “ruang kreasi” bagi pelaku seni, melalui penelitian, pelatihan, kolaborasi, dan presentasi yang mengeksplor berbagai bentuk seni pertunjukan, sebagai bahan belajar berinteraksi dengan masyarakat dan meningkatkan daya kreasi.

Beralamatkan di Tembi Tempel RT 05 Timbulharjo Sewon Bantul, Jalan Parangtritis KM 8, Teater Amarta kali ini menggelar pentas berjudul “Dualisme” atau Durational Art #2, pada Sabtu malam, 23 November 2019 di Kelas Pagi Yogyakarta, Jalan Brigjen Katamso, Prawirodirjan, Yogyakarta, terbuka untuk publik secara gratis.

Nanik Indarti selaku media relations melalui rilisnya kepada Impessa.id menyampaikan Sinopsis lakon yang dipentaskan tersebut. Alkisah, saat Negeri Hastina yang dipimpin oleh Sri Mahaketu mengalami huru-hara, lahirlah Sutasoma yang menjadi pengantar kembalinya dunia yang indah. Akan tetapi, meski memiliki perangkat menjadi Raja, Sutasoma bersikeras menolaknya. Ia memutuskan melarikan diri dari istana untuk melakukan perjalanan menuju Sunyata. Kesedihan menyelimuti istana, di sisi lain kedamaian merekah bak bunga teratai di tempat-tempat yang ia lalui. Kelahiran-kematian, baik-buruk, salah-benar, hitam-putih, tak henti menyapa. Dualisme yang tak pernah lelah memeluk, mencabik, menggeliat dan mengikat di tengah perjalanannya. Melalui apa dan siapa saja dualisme yang ia temui dalam perjalanan menuju sunyata?

Menurut Nanik Indarti, sumber ceritanya diangkat dari teks Kakawin Sutasoma, Metrum 1-28. “Teater Amarta bermaksud mengajak seniman yang terlibat untuk meletakkan narasi Kakawin Sutasoma sebagai inspirasi menggali gerak, visual, serta musik untuk menjadikan cerita ini sebagai refleksi bersama.

“Melihat kelahiran dan perjalanan Sutasoma hingga mengenal si tokoh Suciloma melalui simbol- simbol gerak dan benda yang nantinya, seusai pertunjukan dipamerkan di Galeri Kelas Pagi Yogyakarta. Teks ini dihadirkan untuk merespon kegelisahan masing-masing personal yang membaca keberagaman Identitas agama, ras, dan budaya yang saat ini justru digunakan sebagai pemicu konflik sosial oleh pihak-pihak tertentu,” imbuh Nanik.

Pentas “Dualisme” dihadirkan atas kerja Tim Kreatif dipimpin oleh Artistik Director Zulfian Amrullah, didukung para pemain masing-masing, Andy Wahyudi Tuangke, Arif Hanung T.S, Helmi Fuadi, Nunung Deni Puspitasari, dan Rizal Eka Arrohman.

Adapun Pemusik oleh Kyai Gombal Amoh & Mahmud N.A. Properti oleh Andy Wahyudi Tuangke & Arif Hanung T.S. Penata Kostum oleh Zulfian Amrullah. Penata Cahaya oleh Ali Hasan Djimbe. Selaku Pimpinan Produksi Nunung Deni Puspitasari, Manajer Panggung Wisnu Putuaji, Dokumentasi Foto oleh Muhammad Ikhya. Dokumentasi Video oleh Fajar Syafi’i. Desain Publikasi oleh Helmi Fuadi serta Media oleh Nanik Indarti.

Pameran terkait proses kreatif "Dualisme” tersebut, digelar di Kelas Pagi Yogyakarta, Jalan Brigjen Katamso Prawirodirjan Yogya, selama dua hari, pada Senin dan Selasa, 25-26 November 2019, pukul 09.00-17.00 WIB. Reservasi dapat menghubungi Nanik Indarti di nomor 0877 3925 4274. (Antok Wesman-Impessa.id)