Ekonomi-Bisnis

Sinergitas Lebih Luas Penting! Untuk WICSF Ke-5, 2020

Sinergitas Lebih Luas Penting! Untuk WICSF Ke-5, 2020

Sinergitas Lebih Luas Penting! Untuk WICSF Ke-5, 2020

Impessa.id, Yogyakarta : Sukses penyelenggaraan WICSF (Wonderful Indonesia Culinary and Shopping Festival) Ke-4, 2019 oleh delapan Mall di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang penutupannya dihadiri oleh General Manager serta perwakilan dari ke-8 Mall peserta dan tamu undangan, berlangsung Minggu malam (27/10/2019) di Area Drop Off Jogja City Mall Jalan Magelang KM 6 Yogyakarta, menuntut sinergitas yang lebih luas untuk perhelatan kedepannya.

Usai acara, Asisten Deputy Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional 2, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Dr. Wawan Gunawan, ketika dikonfirmasi Impessa.id, terkait pernyataan Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia –APPBI Daerah Istimewa Yogyakarta, Surya Ananta, bahwa kedepannya, sinergitas pemerintah daerah menggandeng dinas-dinas lain, menjadi prioritas, guna mendukung WICSF di Yogyakarta.

“Untuk keberhasilan suatu event, yang terpenting yaitu bagaimana komitmen Gubernur, Walikota-Bupati, ditindaklanjuti oleh dinas-dinasnya. Apakah kebijakan Gubernur untuk mendorong event ini bisa ditindaklanjuti secara kroyokan, disinergikan, ada kerjasamanya diantara dinas-dinas, atau hanya dinas Pariwisata saja,” ujar Wawan Gunawan.

Diutarakan bahwa Kementerian Pariwisata dan Badan Ekonomi Kreatif dari Pusat, bersinergi dengan Pemerintah Daerah. “Kita melakukan sinergitas dengan Pentahelik, Kementerian Pariwisata bersinergi dengan Pemerintah Daerah, bersinergi dengan Akademisi, bersinergi dengan para Pengusaha, bersinergi dengan Komunitas, dan bersinergi dengan Media yang mampu menghadirkan ruh event,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Dr. Wawan Gunawan menilai bagus untuk pertunjukan fragmen tari Rama-Sinta, yang ditampilkan mewarnai sekaligus berkaitan dengan jalannya proses penutupan perhelatan WICSF 2019. “Sesuatu yang dihasilkan secara biasa maka hasilnya ya biasa, tetapi tadi ditampilkan dengan pertunjukan fragmen singkat, padat, praktis, itu bagus, dengan durasi hanya sekian menit, tapi cerita nyampai, pesan moralnya nyampai, saya menangkap kekuatan dari penampilan itu punya nilai budaya tinggi. Jogja punya nilai filosofi yang tinggi, berakar, entah musiknya mau seperti apa, ada nilai kreatif, ini bukan panggung, hanya tangga, tapi dengan kreatifnya seniman, tangga ini disiasati menjadi stage. Terus punya nilai ekonomi dengan disain kostum yang bagus, koreografinya juga keren, menarik, ada formasi, tidak hanya nge-flat, yang paling penting lagi, punya nilai komunikasi, punya nilai jual,” tuturnya kepada Impessa.id.

Menyitir pernyataan Presiden RI Joko Widodo bahwa Industri Pariwisata di Indonesia kini menjadi Leading Sector. Kepada Impessa.id, Asisten Deputy Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional 2 Wawan Gunawan menjelaskan hal itu. “Menjadi Leading Sector, artinya, hukumnya wajib untuk didukung oleh Kementerian-Kementerian lain. Kalau pariwisata semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan masyarakat banyak. Sehingga dituntut untuk mengemas sesuatu yang tidak menarik menjadi menarik. Kementerian Pariwisata memiliki rumus 3A yakni, Atraksi-Aksesibilitas-Amenitas. Ada Atraksi Wisata Budaya (Adat, Tradisi, Kesenian, Wisata Reliji, Wisata Sejarah, Kuliner, Shopping), ada Atraksi Wisata Alam (Wisata Gunung, Wisata Laut, Sungai, Pantai, Tebing, Sawah, Wisata Hutan), dan ada Atraksi Wisata Buatan, contohnya Mall ini Wisata Buatan, yang tadinya tidak ada kunjungan disini, dibuat, diciptakan di Mall ada tempat pertunjukan, ada tempat kulinary, ada tempat Ngopi, orang-orang jadi datang, ini kan luar biasa, dulunya enggak ada sekarang ramai. Kemudian Aksesibilitas. Di Jogja apa sih yang tidak ada, sekarang sudah dibangun Bandara Internasional Kulon Progo, aksesibilitas Jalan Darat, dibangun Tol, disambung-sambungkan, dari Bandara ke Borobudur. Terus Amenitas-nya, hotel berbintang di Jogja sudah bertebaran di aman-mana, sudah lengkap, termasuk fasilitas untuk umum, untuk kesehatan bahkan fasilitas untuk pariwisata pun ada. Untuk di Jogja, orang sudah nyaman,” jelasnya.

Perhelatan Wonderful Indonesia Culinary and Shopping Festival 2019 secara serentak digelar di 12 Propinsi di Indonesia sebagai sinergitas antara Kementerian Pariwisata RI dengan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia –APPBI. Di Yogyakarta, delapan Mall anggota APPBI DIY masing-masing, Plaza Ambarrukmo, Galeria Mall, Lippo Plaza Jogja, Sleman City Hall, Malioboro Mall, Jogjatronik Mall, Hartono Mall dan Jogja City Mall, selama satu bulan penuh secara estafet, mulai 27 September hingga 27 Oktober 2019 menggelarnya dalam tema besar “Wonderful Taste of Indonesia” yang kemudian diteruskan dengan tema berlainan, disesuaikan dengan karakter dan konsep masing-masing Mall.

Jogja City Mall, pusat perbelanjaan seluas tiga hektar, dengan fasad 17 kolom besar bergaya arsitektur Romawi, mengusung tema “Jogja City Food” menghadirkan 30 stand kuliner khas Nusantara, selama empat hari, 24-27 Oktober 2019. Seremoni penutupan menyajikan tari tradisional Aceh, fragmen Anoman Obong, dan band etnik Swara Nusa. Acara yang menarik sebagai puncak penutupan WICSF 2019 di Jogja City Mall berupa Gunungan susunan buah-buahan, diselingi Amplop Voucher dengan Hadiah Utama Handphone, setelah di arak oleh Bregodo menuju tangga stage, lalu diperebutkan oleh pengunjung, disaksikan seluruh tamu undangan. (Antok Wesman).