Pameran Karya Ruang MES 56 Di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, 28 Oktober Hingga 18 November 2019.
Impessa.id, Yogyakarta : Dalam penjelasannya kepada wartawan menjelang digelarnya Pameran Karya Ruang MES 56 Di Galeri RJ Katamsi Institut Seni Indonesia -ISI Yogyakarta, 28 Oktober Hingga 18 November 2019. Pimpinan Pengelola Galeri RJ Katamsi I Gede Arya Sucitra, didampingi Anang Saptoto dan Wimo Ambalabayang, keduanya seniman dari Ruang MES 56, menuturkan bahwa yang menarik dari pameran karya Ruang MES 56 adalah tampilan penciptaan fotografi secara kolektif, secara bersama-sama, tidak lagi ada itu karyaku, itu fotoku, yang dilakukan sejak masih kuliah di ISI Yogyakarta hingga saat ini. “Mereka ini oleh beberapa akademisi disebutkan merusak pakem-pakem fotografi, dengan memainkan teknik dan melakukan eksperimentasi, sehingga anggota Ruang MES 56 dijuluki sebagai pendobrak pakem fotografi,” ujar Arya Sucitra.

Kehadiran karya-karya ratusan bahkan ribuan foto Ruang MES 56 di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, menjadi ruang dialektika yang penting di posisi anak muda sekarang yang mereka cenderung menyukai sesuatu yang sifatnya forografis. “Segala sesuatu sekarang ada ditangan, handphone, sekarang semua orang bisa menjadi menjadi forografer, semua orang bisa menciptakan karya seni dengan tangannya sendiri. Dengan hadirnya MES 56 ini semoga bisa menjadikan perspektif kepada generasi muda, untuk bisa menjadi liar, nakal, tetapi dalam koridor artistik yang kemudian membangun kreativitas,” ungkap Arya Sucitra lebih lanjut.

Melalui pameran yang digelar selama 22 hari tersebut, publik dapat mengetahui perjalanan sejarah Ruang MES 56 yang ditandai lewat sajian arsip-arsip yang mereka miliki, baik arsip lama maupun arsip yang diperbaharui, di dua lantai Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta. Di lantai satu menampilkan arsip, diawali dengan Walltext karya Alexander Supartono, pengantar dan masuk ke kiri terpampang Diagram Proses Perubahan Estetika dan Artistiknya MES 56, sejak 1997 dari komunitas kecil, 2002 mulai membuat kelompok, sampai keberadaannya sekarang. Secara kronologi, ketika markasnya di jalan Kolonel Sugiono, ketika di Nagan, ketika di Minggiran hingga ketika bermarkas di Mantrijeron, karya yang dipajang tampak semakin sedikit, karena semakin kekinian semua lewat On-Line, Instagram.

Di dinding dibelakang Walltext yang dihiasi mural, menjadi latar belakang performance sejarah Ruang MES 56 yang digunakan untuk arena diskusi dan tiga sesi workshop, mencakup Workshop Cuci Cetak Color, Workshop Cuci Cetak Black and White, dan Workshop Photogram. Di sepanjang dinding Utara tertata karya eksperimentasi foto aseli dan repro. Ada satu ruangan khusus yang diisi oleh siswa Sekolah Tumbuh mulai dari SD, SMP dan SMA, mengusung tema “Kota Tumbuh”, berkaitan dengan bulan Sumpah Pemuda, sekaligus Ulang Tahun Ke-263 Kota Yogyakarta.

Yang menarik dan unik adalah tersedianya Jasa Tur. Tur mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai mistis di Jogja. “Sebenarnya bukan mistisnya yang kita sasar, menurut kami Mystically Tour itu, Mitos itu harus ada, untuk menjaga sesuatu itu harus di-mitos-kan. Kalau tidak ada mitos nanti mudah sekali diganti yang baru, terpampang peta Jogja dengan titik-titik tempat mistis, registrasi tersedia ditempat, gratis, dan disediakan transport mobil Pick-Up. Kemudian di lantai dua terpampang karya-karya fotografi kolektif.

Dalam kesempatan itu, Anang Saptoto, anggota MES 56 menuturkan riwayat karya Fotografi yang pada saat itu (2002) dilihat hanya sebagai instrumen pendukung dalam penyelenggaraan sebuah pameran, untuk dokumentasi, untuk katalog, belum menjadi karya seni rupa. “Untuk menjawab tantangan persoalan yang ada, kami, anggota-anggota Ruang MES 56 tanpa kenal lelah terus aktif mengikuti pameran mulai dari yang kecil-kecilan hingga pada Biennale Jogja, Biennale Jakarta, bahkan ke luar negeri, sehingga, setelah perjalanan panjang 17 tahun, sekarang, fotografi dan video sudah se-level dengan karya seni murni patung dan lukis,” ungkapnya.

“Ada rasa bangga tersendiri ketika kami diundang untuk berpameran disini, di Galeri RJ Katamsi, di kampus kami, mengingat sebelum-sebelumnya para akademisi bersikap nyinyir terhadap dunia fotografi, ini suatu kehormatan besar bagi kami, ini sangat penting, sebagai momentum pengakuan setelah 17 tahun lamanya kami melakukan kerja di luar kampus,” aku Anang Saptoto.
Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn., Staff Pengajar Prodi Fotografi, FSMR, ISI Yogyakarta selaku kurator pameran memaparkan bahwa Kolektivitas Ruang MES 56 sebagai lembaga seni menjadi isu penting yang diangkat dalam pameran tersebut. Di usia yang ke-17, anggota MES 56 telah banyak menghasilkan karya fotografi dan karya seni media berbasis fotografi, sesuai konteks zaman yang mereka lalui.

Anang Saptoto didampingi I Gede Arya Sucitra saat menjelaskan pameran karya Ruang MES 56 di Lantai 1 Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta.
Aktivitas berkarya secara kolektif bermula saat tahun 1994-an, ketika sekumpulan mahasiswa Fotografi, FSMR, ISI Yogyakarta tinggal bersama di Mes AURI, Jalan Kolonel Sugiyono No. 56, Yogyakarta. Kebersamaan mereka dalam berkarya dan beraktivitas seni, dipayungi dengan pendirian lembaga resmi bernama Ruang MES 56 pada tahun 2002.
Mereka berpindah-pindah markas, dimulai di Jalan Kolonel Sugiono, kemudian pindah ke Nagan, pindah lagi ke Minggiran dan yang ke-empat menjadi yang terakhir, markasnya bertempat di Mantrijeron, meski untuk sementara menetap di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, berhubung markas di Mantrijeron sedang dalam renovasi atas dukungan BEKRAF.

Wimo Ambalabayang saat menjelaskan karya kolektif Ruang MES 56 di Lantai 2 Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta
Pameran karya Ruang MES 56 di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta merupakan upaya untuk menunjukkan kolektivitas Ruang MES 56 secara komprehensif dan mendalam, kepada masyarakat luas. Strategi yang dipilih adalah memamerkan seluruh Karya Kolektif Ruang MES 56 berikut arsip-arsipnya. Upaya menunjukkan bentuk kolektivitas Ruang MES 56 juga dilakukan dengan menghidupkan kembali karya-karya kolektif berbasis fotografi, bersifat interaktif partisipatoris; program-program pada masa lalu, dan program-program yang sedang aktif pada masa sekarang.
Menurut Irwandi, keinginan untuk terus menuangkan ide-ide segar melalui medium fotografi merupakan fondasi yang menopang kolektivitas Ruang MES 56 sejak awal pembentukannya hingga kini. “Ada kesadaran bahwa gejolak ide-ide liar, nakal, dan kritis, dapat terekspresikan secara optimal. Untuk itu, harus ada ruang yang diciptakan untuk memfasilitasi ide dan menampilkan karya-karya mereka. Ruang fisik dan ruang gagasan itulah yang mereka ciptakan dalam bentuk Ruang MES 56,” ujarnya.

Salah satu contoh, karya berjudul “Alhamdulillah, We Made it!” (2015) mereka hasilkan melalui berbagai proses diskusi dan riset secara intens. “Karya-karya foto Alhamdulillah, We Made It, yang dihadirkan di OzAsia Festival berupa catakan-cetakan foto dan buku lipat yang menampilkan foto-foto para pencari suaka, assylum seekers, yang terdampar di Indonesia.
Para pencari suaka difoto dalam keadaan sedang beraktivitas di rumah penampungan: sedang berolah raga, memasak, dan berpose di depan kamera. Subjek-subjek manusia dihilangkan secara fotografis dengan cara di-cut, sehingga foto-foto tersebut menampilkan siluet putih para imigran yang dihilangkan.

Di foto-foto lainnya, hasil pemotongan subjek-subjek foto sebelumnya di kolase secara digital di foto-foto lain yang bersubjek suasana tempat-tempat di Australia. Foto-foto tersebut diberi caption singkat yang berisi informasi nama subjek, asal negara, tanggal lahir, durasi menjadi pengungsi, dan harapan personalnya.
Alhamdulillah, yang berarti Segala Puji Bagi Allah, yang juga kata yang menggambarkan rasa syukur, rasa senang seseorang atas sebuah kondisi atau capaian yang sesuai, atau melebihi dari apa yang diharapkan. Dengan demikian, judul tersebut seolah menyampaikan rasa syukur para pencari suaka karena telah berhasil mewujudkan keinginannya, yaitu hidup nyaman. Sampai pada akhirnya pengunjung pameran menyadari bahwa judul tersebut sebenarnya sebuah ironi dan satire, karena secara kenyataan, harapan para pencari suaka itu hanyalah dapat dicapai secara virtual, melalui medium fotografi.

Karya “Alhamdulillah” merupakan contoh karya fotografi kolektif yang dibuat oleh Ruang MES 56 dengan berbagai pertimbangan. Para anggota yang terlibat dalam produksi karya melakukan banyak hal sebelum proses pembuatan karya dilakukan. Ada proses riset yang dilakukan, ada penemuan, yang kemudian dikombinasikan dengan proses intuitif mereka sebagai manusia dan seniman.
Bila menemukan ide-ide sudah merupakan tantangan, demikian pula halnya dengan menjaga kolektivitas. Banyak sandungan batu besar yang menghadang. Mempertahankan ruang fisik yang memerlukan biaya yang tidak sedikit sering mereka hadapi dalam menjaga kebersamaan, hingga harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain; kemudian masalah perawatan ruang; tata kelola alat; masalah tabiat warga Ruang MES 56 dan stereotipe ‘urakan’, ‘mabukan’ yang melekat dan masalah individualitas. Masalah-masalah di internal yang mereka hadapi, sejatinya merupakan pengalaman yang di sisi lain penguat kolektivitas Ruang MES 56.

Aktivasi dan pengondisian karya interaktif partisipatoris Ruang MES 56 bersama sajian arsip dan berbagai kegiatan yang mereka lakukan di Galeri R.J. Katamsi, ISI Yogyakarta, menjadikan Ruang MES 56 sebagai ‘artefak hidup’ yang ditonton dan menginspirasi. Hal itu tampak jelas dalam wujud lay-out Ruang MES 56 pindah selama tiga pekan, ke Galeri R.J. Katamsi, ISI Yogyakarta. (Irwandi/Antok Wesman)

