Feature

Lakon TAHTA RIMBA, Kolaborasi Nia Agustina-Siti Marfuah-Sanggar Mayang Balai Budaya Minomartani, Memukau Penonton FKY Senin Malam

Lakon TAHTA RIMBA, Kolaborasi Nia Agustina-Siti Marfuah-Sanggar Mayang Balai Budaya Minomartani, Memukau Penonton FKY Senin Malam

Lakon TAHTA RIMBA, Kolaborasi Nia Agustina-Siti Marfuah-Sanggar Mayang Balai Budaya Minomartani, Memukau Penonton FKY Senin Malam

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, September 2026: Penonton yang tertib duduk bersia di depan Panggung Utama Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026 di Lapangan Beran Sleman, pada Senin malam (14/9/2026) mulai pukul 19 WIB selama 45 menit, tampak puas menyaksikan penampilan hasil seniman kolaborator, Nia Agustina, Siti Marfuah, dan Sanggar Mayang Balai Budaya Minomartani Sleman, dengan judul “Tahta Rimba”, yang dimainkan oleh 20 anak-anak anggota Sanggar Mayang, serta dua sinden yakni Woro Sujiati dan Siti Marfuah.

Panggung ditata sedemikian rupa menyerupai pegunugan dengan hutan rimba belantaranya yang dipenuhi aneka satwa liar. Adegan dibuka dengan Gunungan Tancep Kayon oleh Siti Marfuah dan dilanjutkan adanya dialog antara Harimau Loreng dengan pimpinan Kera yang merencanakan cara merebut tahta kekuasaan dari Si Raja Rimba Singa.

Singkat cerita, Singa berhasil dijebak oleh Kera sehingga masuk ke lubang sumur yang kemudian dibantu oleh gerombolan kera menimbun ljubang itu dengan batu, alhasil Harimau Belang berhasil mengambil alih kekuasaan di Rimba dan sebagai penguasa dirinya meminta imbalan berupa hewan hidup setiap hari untuk menjadi santapannya.

Muncullah Kancil yang mengetahui duduk perkara sebenarnya, lantas mengundang kawanana Tikus untuk membongkar timbunan batu di lubang itu, dan Singa berhasil keluar dengan selamat. Singa yang mengetahui adanya tipu-daya tersebut menjadi marah dan ingin membalas dendam, namun oleh Kancil, Singa dibungkus diumpankan menjadi santapan Harimau, seketika bungkusan dibuka maka Singa langsung melompat menerjang Harimau, terjadilah perkelahian seru, dan akhirnya Singa berhasil keluar menjadi pemenangnya.

Usai pementasan, Impessa.id menemui sosok dibalik lakon “Tahta Rimba” tersebut dibelakang panggung. Berikut bincang-bincang singkat dengan Siti Marfuah; Mbak Siti, berapa lama latihan? dan bagaimana mengatur jadwal latihan sementara anak-anak tetap harus bersekolah?

“Kami mulai latihan di bulan Agustus 2026, setiap hari Minggu, pas anak-anak libur, disaat latihan memang agak susah ya ngatur anak-anak itu, apalagi kalau ada diantara mereka yang main HP. Namun berhubung mereka anggota sanggar Mayang, jadi sudah terbiasa menerima kondisi saat kapan harus fokus, dan ternyata saat naik panggung, mereka langsung paham dengan peran masing-masing, apa yang harus dijalankan, itu cukup mengejutkan kami,” tutur Siti Marfuah.

Mengenai pilihan lakon “Tahta Rimba”, Siti Marfuah menyatakan bahwa anak-anak itu sudah akrab dengan cerita hewan liar penghuni hutan belantara, sehingga mereka menyukai cerita-cerita tentang dunia binatang.

“Lakon Kancil ini secara turun-temurun, sering dipentaskan, dari segi dramatik lebih dinamis, dan anak-anak menyukai-nya. Melalui lakon Tahta Rimba ini, diharapkan anak-anak cinta tradisi, dimulai dengan mencintai dongeng yang mengandung pesan moral dan mengundang kreativitas anak, agar tidak terlena dengan dunia digital, ibaratnya, Ikut Ngeli Tapi Tidak Keli,” ujar Siti Marfuah, menutup bincang-bincang dengan Impessa.id. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)