Koreo-Tari BIMO WIWOHATMO Gelar Karya Seni Grafis Pada Pameran PRINT PARADE Ke-4 Di KINIKO Art Yogyakarta.
Koreo-Tari BIMO WIWOHATMO Gelar Karya Seni Grafis Pada Pameran PRINT PARADE Ke-4 Di KINIKO Art Yogyakarta.
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, September 2026: Mengejutkan, koreotari ternama BIMO WIWOHATMO tiba-tiba memajang karya grafisnya pada Pameran Seni Grafis Print Parade Ke-4 bertempat di KINIKO ART Yogyakarta, 12-27 September 2026, dengan judul “Republik Kebisingan”, dengan media MDF Cut mix Acrilyc On Canvas, berukuran L. 98 cm x T. 142 cm, dibuat tahun 2026.

Kepada Impessa.id, Bimo menuturkan konsep karya yang diusungnya; “Memandang bahwa republik sebagai ruang bersama yang idealnya dibangun melalui sebuah percakapan, perbedaan pendapat, dan kemampuan untuk saling mendengar. Namun ketika setiap suara berlomba untuk menjadi yang paling keras, ruang publik kemudian berubah menjadi arena kebisingan. Kebisingan dalam karya ini bukan sekedar bunyi, ia adalah metafora bagi banjir informasi, propaganda, komentar-komentar medsos, serta berbagai kepentingan lainnya yang terus semakin bertumpuk. Dalam keadaan yang demikian ini, persoalannya bukan lagi siapa yang bersuara, melainkan: siapa yang memiliki kemampuan untuk membuat suaranya terdengar dan siapa yang suaranya tidak terdengar sama sekali,” tutunya panjang lebar.

Caption Karya “Republik Kebisingan“
Ketika banyak suara saling berebut untuk menjadi sebuah kebenaran, lalu siapa yang menentukan untuk harus dipercaya? Ketika banyak suara berbicara, siapa yang masih bisa mendengar? Ditengah kebisingan, diam bukan selalu ketiadaan suara. Kadang ia merupakan sebuah ruang untuk mendengar dan merasakan kebenaran.
Saat Impessa.id menanyakan, mengapa dirinya ber-main grafis? Bimo menjelaskan; “Pada awalnya di tahun 1973, saya belajar di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Jurusan Seni Lukis, yang sekarang bernama SMSR -Sekolah Menengah Seni Rupa, di Yogyakarta. Seperti cita-cita saya sejak kecil ingin menjadi pelukis, dengan menimba ilmu di Seni Lukis, saya mendapatkan pelajaran mengenai seni cetak, diantaranya adalah seni cukil atau grafis atau woodcraft. Namun pada waktu itu belum ada jurusan Seni Grafis. Disitulah saya mulai tertarik karena memiliki keunikan tersendiri didalam proses guna menghasilkan sebuah karya. Saya lantas mulai menekuni Seni Grafis, dan alhasil dalam pameran seni rupa yang digelar setiap tahun di Gedung Senisono, selama tiga tahun berturut-turut, yakni 1975, 1976, dan 1977, karya seni grafis saya selalu mendapatkan penghargaan Pradhita Adhi Karya. Prestasi terbaik yang pernah saya raih selama studi di SSRI Yogyakarta,” ungkap Bimo Wiwohatmo.

Bimo Wiwohatmo lebih lanjut menguraikan riwayatnya ketika dirinya menekuni dunia tari; “Di tahun 1976, ketika harus mengikti Ujian Kenaikan Kelas, saya mengalami musibah terkena seranan Usus Buntu sehingga terpaksa opname di Rumah Sakit, akibatnya gagal ikut Ujian dan harus mengulang di tahun depannya. Begitu saatnya Ujian datang, musibah itu menimpa diri saya lagi, saya harus opname lagi di Rumah Sakit, sehingga kenaikan itu tertunda kembali saya mengikuti Ujian di tahun 1978. Selama waktu menunggu Ujian itulah, saya ‘nyantrik’ di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, mempelajari dunia tari. Merasa cocok, akhirnya saya mulai menekuni dunia tari-menari hingga kini,” jelasnya.

Terkait kembalinya Bimo Wiwohatmo ber-main Seni Grafis disamping tetap menekuni dunia Seni Tari, bahkan sebagai salah satu empu koreo-tari, kepada Impessa.id dirinya menguraikan riwayatnya; “Beberapa tahun belakangaan ini, teman karib saya Dr Bambang ‘Toko’ Witjaksana, setiap bertemu senantiasa membujuk agar saya ‘main’ grafis lagi, jangan sampai hilang ilmu itu, harus tetap diasah, meski zaman sudah berubah cepat, iptek dan IT sudah menyeruak disegala bidang, hingga pertemuan dengan Bambang ‘Toko’ di Taman Budaya Yogyakarta di tahun 1978, semakin menggelitik, lalu saya jawab, “baik akan saya coba lagi bikin karya grafis”, hingga saya harus fokus membuka kembali ilmu yang telah lama beku, Alhamdulillah, muncul karya pertama saya ini yang berjudul “Republik Kebisingan” dan dipajang pada Pameran Seni Grafis Print Parade Ke-4 bertempat di KINIKO ART Yogyakarta,” ujar Bimo Wiwohatmo menutup bincang-bincang dengan Impessa.id. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)
