Seniman Akademisi ISI BALI Pameran Di Jogja Gallery, 26-30 Mei 2026
Seniman Akademisi ISI BALI Gelar Pameran "PRASANGSA: Sebelum Bentuk Menjadi Padat" Di Jogja Gallery, 26-30 Mei 2026
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Mei 2026: Sejumlah 32 Seniman Akademisi, dalam hal ini dosen Institut Seni Indonesia -ISI Bali (sebelumnya bernama ISI Denpasar) menggandeng beberapa teman dosen dari ISI Yogyakarta dan ITB, menggelar 46 karya berupa lukisan, instalasi, dan art-performance, dalam pameran seni rupa selama lima hari, 26–30 Mei 2026, bertajuk “PRASANGSA: Sebelum Bentuk Menjadi Padat” dikuratori oleh Anam Khoirul dan DAE Savitri Sastrawan, di Jogja Gallery Jl. Pekapalan Alun-Alun Utara Yogyakarta.
Rektor ISI Bali Prof. Dr. Wayan ‘Kun' Adnyana, dalam sambutan pembukaan pameran menuturkan betapa sulitnya membagi waktu bagi dosen untuk membuat karya seni, mengingat padatnya jadwal kegiatan belajar-mengajar sehari-hari, selain itu, dosen pun dituntut untuk menulis jurnal. Dirinya berharap dengan digelarnya pameran seni rupa di Jogja ini terjalin ikatan yang semakin erat diantara sesama dosen seni rupa dan juga dengan seniman-seniman Jogja.
Rektor ISI Bali Prof. ‘Kun', yang juga ikut menggelar karya lukisannya menyampaikan bahwa sebuah pameran itu berguna untuk mendekatkan publik dengan seni rupa, “Kehadiran kami di Jogja ini begitu membahagiakan, bisa bersilaturahmi dengan seniman Jogja yang kiprahnya sudah mendunia seperti halnya ArtJog, seniman Jogja itu penuh inovasi dan kreatif, sehingga semua itu semakin memicu semangat kami untuk terus berkarya,” ungkap Rektor ISI Bali.
“Pameran ini sepenuhnya murni atas kehendak hati semua peserta, tak ada serupiahpun dana dari institusi yang digunakan, tingginya hasrat seluruh peserta, termasuk Ketua Senat ISI Bali Prof. Dr. I Ketut Muka, sehingga ketika rencana pameran di Jogja, digulirkan, seketika antusiasme para dosen begitu tinggi, bahkan ketika harus merogoh kocek sendiri-pun, mereka tetap siap ikut,” imbuh Rektor Prof. ‘Kun', begitu sapaan akrab beliau.
Lebih lanjut Prof ‘Kun’ menekankan bahwa kunjungan seniman akademisi ISI Bali ke Yogyakarta merupakan perjuangan yang membutuhkan ‘effort’ luar biasa, yang diharapkan berimbas ke program studi yang lain dengan inisiatif-inisiatif serupa untuk menyebarkan terbangunnya aliran pemikiran berdasarkan hasrat murni secara total.
Usai pembukaan dilakukan oleh Heri ‘Pemad’, founder ArtJog, art-performance menampilkan seniman Mira Asta, Agung Gunawan, dan Sujana Suklu. memukau semua pengunjung di area ruang pamer Jogja Gallery. Suasana begitu hening, sehingga jeritan, raungan dan teriakan yang mewarnai tarian kontemporer itu jelas terdengan semakin menjadikannya ‘horor’.
Seniman Wayan ‘Kun' Adnyana lewat lukisan berjudul “BALLOON BOY”, acrylic and ink on canvas, berukuran 180 X 180 cm, tahun 2026, ketika ditemui Impessa.id disela-sela pameran berlangsung, Selasa (26/5/2026), menuturkan kalau dirinya kini sedang menggarap seri karya ‘Panggung Punggung’, suatu kesetaraan,
“Semuanya dari sisi punggung, ingin memberi counter persepsi tentang depan-belakang, selama ini kan yang muka itu disebut depan, dan punggung itu disebut belakang, saat melihat lukisan ini, kan ini depan jadinya, meskipun itu punggung, dengan begitu, depan-belakang menjadi hilang, menjadi sama-sama indah,” ujar Rektor ISI Bali itu kepada Impessa.id.
Perupa I Gede Jaya Putra, saat dikonfirmasi terkait karya serial-nya ‘After the Meteor Gone’ dia mengungkapkannya Impessa.id.
“Ini merupakan project perjalanan di Taiwan, yang saya ambil judul dengan ‘After Meteor God’ yang sejalan dengan tema pameran yaitu ‘Menjadi Bentuk Sebelum Padat’. Saya menjadikan film ‘Meteor Garden’ sebagai satu bentuk yang bisa kita lihat tapi belum memadat, dalam konotasi belum bisa dipercayai. Jadi secara tidak langsung ‘Meteor Garden’ itu memenuhi kolektif remaja tahun 80-90-an, dimana kekuasaan patriarki dan maskulinitas itu sangat kuat,” ungkapnya.
Menurutnya, hal itu juga terjadi dalam salah satu kisah film ‘Mahabharata’, baik Pandawa maupun Kurawa yang bercerita tentang kekuasaan yang didominasi pria. “Melalui dua kisah fiktif ‘Meteor Garden’ dan ‘Mahabharata’ dalam hal ini Pandawa, saya mengulas proses sesuatu yang diyakini dan pernah menjadi bagian oenting dalam perkembangan remaja khususnya di era 80-90-an,” jelasnya.

Sementara itu, perupa Luh Budiaprilliana, menampilkan karya berjudul “108 Doa: Henti pada Luka”, acrylic on canvas board, berukuran 165 x 210 cm, karya tahun 2026.
Kurator pameran D. A. E. Savitri Sastrawan dalam kuratorialnya menyebutkan bahwa Aprillia yang akrab disapa Lia, menghadirkan proses penyembuhan atas inner child yang terluka dan menghentikan pewarisan antar generasinya. “108 Doa: Henti Pada Luka” menyerupai mantra yang disebut 108 kali yang dilakukan seorang Hindu Bali saat mejapa. Disini Aprillia menghadirkan satu unit doa di setiap lingkaran: usaha untuk hadir, mengolah luka, dan menghentikan keberlanjutannya. Sebagai seorang ibu, ia mengharapkan keberlangsungan menuju generasi yang lebih utuh tanpa luka harus diwariskan. Ini menjadi cara sebuah doa yang biasa diucapkan secara langsung, ditempatkan dan didokumentasikan sedemikian rupa. Sehingga karya yang berproses ini juga belum berhenti disini saja. Menapaki karya ini kita sejatinya masuk ke dalam in-betweenness itu sendiri.Karya ini berangkat dari refleksi atas wounded inner child sebagai pola emosional yang dapat diwariskan antar generasi. Dalam posisi sebagai ibu, saya memaknai kehamilan sebagai ruang awal pembentukan pengalaman batin, sehingga praktik menjaga diri menjadi bentuk tapa, menahan, meredam, dan meregulasi emosi demi menghadirkan ruang yang lebih aman bagi kehidupan yang sedang tumbuh.
“Melalui repetisi yang menyerupai japa mantra sebanyak 108 kali, setiap lingkaran merepresentasikan satu unit doa yang dilafalkan terus-menerus sekaligus fragmen kesadaran: usaha untuk hadir, mengolah luka, dan menghentikan keberlanjutannya. Karya Lia ini tidak menawarkan penyembuhan yang final, melainkan proses yang terus berlangsung menuju generasi yang lebih utuh, secara jasmani maupun Rohani,” jelas Savitri.
Perupa Willy Himawan dengan lukisan berjudul “Membayangkan Toba”, oil on canvas berukuran 140 x 90 cm, karya tahun 2024, ketika ditemui Impessa.id menuturkan bahwa dirinya memang belum pernah ke Toba.
“Sebetulnya saya belum pernah ke Danau Toba di Sumatera, karena tema pameran ini, Sebelum Menjadi Padat, jadi sebelum mewujud gitu, dan saya belum terwujud ke Toba, jadi melalui karya ini, ini adalah kehadiran saya di Toba, ini seperti mimpi saya-lah,” aku Dosen Seni Rupa ITB Bandung.

Bagi Willy Himawan, Toba adalah tempat yang ingin saya ingin kunjungi, namun belum pernah, sehingga bentuk lanskap Toba tidak mengeras menjadi gunung dan danau yang padat. Alihalih, saya pertahankan sebagai serangkaian bidang transparan dengan glazing warna kuning ochre dan biru-teal yang tumpang tindih. Pola garis merah-putih dalam ritme sapuan kuas stroke berulang, sebagai sebuah sinyal bahasa visual yang belum final.
Anak rusa adalah saya yang sedang berimajinasi berada di toba. Rusa, atau menjangan, di banyak budaya dipercaya sebagai penghubung dunia nyata dan maya. Bagian bawah tubuhnya larut kembali ke dalam latar belakang glazing biru, menunjukkan keadaan transisi.
Keseluruhan komposisi didorong oleh lapisan transparan glazing yang kaya, menciptakan kedalaman dan nuansa cahaya keemasan Toba. Setiap elemen, dari latar belakang yang luas hingga detail kecil yang tersugesti di bukit (yang sekarang menjadi pola titik-titik dan sapuan kuas), memiliki tanda kuas stroke yang jelas dan disengaja, menonjolkan proses penciptaan sebelum bentuk mengeras.
Perupa I Wayan Adi Sucipta yang juga sempat ditemui Impessa.id lewat karya seri Femina-nya, dia menceritakan kegelisahan dirinya sebagai seorang seniman. “Disini saya menggambarkan kegelisahan saya sebagai seorang seniman dan seorang Bali, yang di era kini itu dihadapkan dengan dua kebudayaan yang sangat timpang yang jauh sekali, antara mempertahankan tradisi dan mengikuti arus perkembangan yang ada di Bali saat ini dengan modernitas dan kontemporer,itu, sehingga muncul-lah karya ini. Saya mencoba untuk mengangkat ragam estetika Bali, melalui torehan visual wayang, dikombinasikan dengan cipratan dan teknis meukis modern.,” ungkap Dosen Prodi Seni Murni ISI Bali itu.
Kurator Sarasvati merinci makna seri Femina tersebut. Dalam seri “Femina” Adi bermaksud merefleksikan sikap feminitas seorang laki-laki selalu hadir dalam kehidupan. Bagaimana rasa kasih sayang dan kelembutan dapat menjadi solusi dalam hektiknya dunia. Di antara karyanya hadir figur wayang perempuan sebagai feminitas, figur wayang binatang sebagai hektik dunia dan buah strawberry sebagai simbol rasa asam manis yang berdampingan. Melalui empat panel karyanya kita diajak mengikuti jejak cerita yang penuh kedinamisan figur nan hektik tersebut.
Kemudian perupa I Gede Arya Sucitra, menampikan karya berjudul "Terbuka–Tertutup, But I’m Indonesia” 188 x 138 cm, paper collage and acrylic color, 2026. Dijelaskan bahwa “Terbuka–Tertutup, But I’m Indonesia” merupakan karya apropriasi yang mengadaptasi visual perempuan Bali ala Willem Gerard Hofker ke dalam konteks budaya digital Indonesia kontemporer. Melalui perpaduan figur tradisional, lanskap ekologis yang terbelah, dan kolase teks bergaya media sosial, karya ini membicarakan paradoks identitas generasi hari ini.
“Kolase teks pada tubuh figur perempuan menjadi simbol bagaimana identitas manusia modern dibangun melalui bahasa populer, citra digital, dan performa visual di ruang media sosial. Tubuh tidak lagi hadir sebagai entitas natural, melainkan ruang negosiasi antara moralitas, sensor, hasrat voyeurisme visual, dan kebutuhan akan pengakuan sosial. Karya ini menghadirkan kritik terhadap budaya keterbukaan digital yang justru melahirkan bentuk-bentuk penutupan baru: sensor moral, pencitraan identitas, dan performativitas sosial. Dalam paradoks tersebut, manusia modern hidup di antara kebutuhan untuk tampil dan ketakutan untuk benar-benar terlihat,” ungkap Dosen ISI Yogyakarta itu.
Secara garis besar Sarasvati menyebutkan pameran “PRASANGSA: Sebelum Bentuk Menjadi Padat” di Jogja Gallery, bermaksud mengenalkan kembali apa yang disebut rupa belum sepenuhnya mengendap menjadi bentuk. Tetapi juga memberikan kesempatan kepada para perupa akademik seni untuk memahami ulang maknanya melalui metode penciptaan seni yang beragam. Pameran “Sebelum Bentuk Menjadi Padat” memperlihatkan vitalnya pengembangan berkarya seorang perupa, apalagi seorang perupa akademik seni yang menyebarkan ilmu ke generasi selanjutnya. Sehingga dapat memperkaya perspektif selain kepada sesama perupa akademik seni, juga kepada mahasiswa mereka, serta ke audiens yang lebih luas.
Ke-32 seniman tersebut yakni, I Wayan ‘Kun’ Adnyana, I Wayan Setem, I Wayan Karja, I Ketut Muka ‘Pendet’, I Wayan Suardana, Willy Himawan, I Gede Arya Sucitra, I Wayan Sujana ‘Suklu’, I Made Ruta, Tjokorda Udiana Nindhia Pemayun, I Made Jodog, I Nengah Wirakesuma, Ida Ayu Gede Artayani, Ni Made Rai Sunarini, I Wayan Mudana, AC Andre Tanama, Satrio Hari Wicaksono, I Putu Adi Putra Wiwana, Walid Syarthow Basmalah, Gede Yosef Tjokropramono, I Made Bendi Yudha, I Ketut Mustika, Ni Made Purnami Utami, I Dewa Putu Gede Budiarta, I Wayan Kondra, Luh Budiaprilliana, I Wayan Adi Sucipta, I Gede Jaya Putra, AA Gde Trisna Suryadinata, Edy Semara Putra, AA Gede Bayu Paramarta Krisna Prabu, dan Syarah Syam Amir.
Dalam sesorahnya ala ‘Guyonan Seniman Jogja’ duo MC, Bambang Herras dan Putu ‘Liong’ Sutawijaya, menebarkan parodi segar yang bikin ngakak hadirin yang paham, sentilan ringan namun pedas ditelinga yang bisa membuat muka merah padam, teruntuk seniman Jogja khususnya yang dari ISI Yogyakarta, Apakah berani keluar dari zona nyaman, berpameran di luar Jogja? syukur-syukur sampai ke Bali, yang tentunya hal itu dilakukan secara mandiri. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)
