Feature

LUH BUDIAPRILLIANA, Seniman Bali, Gelar Karya Dalam Pameran PRASANGSA: SEBELUM BENTUK MENJADI PADAT Di Jogja Gallery Yogyakarta, 26-31 Mei 2026

LUH BUDIAPRILLIANA, Seniman Bali, Gelar Karya Dalam Pameran PRASANGSA: SEBELUM BENTUK MENJADI PADAT Di Jogja Gallery Yogyakarta, 26-31 Mei 2026

LUH BUDIAPRILLIANA, Seniman Bali, Gelar Karya Dalam Pameran PRASANGSA: SEBELUM BENTUK MENJADI PADAT Di Jogja Gallery Yogyakarta, 26-31 Mei 2026

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, 26 Mei 2026: Perupa sekaligus dosen Seni Rupa ISI Bali, Luh Budiaprilliana, menghadirkan karya bertajuk “108 DOA: HENTI PADA LUKA” berukuran 165 x 210 cm dengan medium acrylic on canvas board, dalam pameran seni rupa bertajuk “PRASANGSA: Sebelum Bentuk Menjadi Padat” yang berlangsung di Jogja Gallery Jl. Pekapalan Alun-Alun Utara Yogyakarta, pada 26–30 Mei 2026.

Seniman yang akrab disapa Lia, mengangkat isu wounded inner child sebagai pola emosional yang dapat diwariskan antar generasi. Karya itu lahir dari refleksi personal mengenai tubuh, kehamilan, serta usaha memutus rantai luka batin sebelum diteruskan kepada kehidupan berikutnya.

“Dalam posisi sebagai ibu, saya memaknai kehamilan sebagai ruang awal pembentukan pengalaman batin. Menjaga diri menjadi bentuk tapa, menahan, meredam, dan meregulasi emosi demi menghadirkan ruang yang lebih aman bagi kehidupan yang sedang tumbuh,” ungkap Lia.

Karya “108 DOA: HENTI PADA LUKA” dibangun melalui repetisi visual menyerupai japa mantra sebanyak 108 lingkaran. Setiap lingkaran merepresentasikan satu unit doa sekaligus fragmen kesadaran: usaha untuk hadir, mengolah luka, dan menghentikan keberlanjutan trauma emosional.

Susunan repetitif tersebut menghadirkan kesan meditatif sekaligus kontemplatif. Lingkaran-lingkaran yang tampak serupa namun tidak pernah benar-benar identik menjadi metafora tentang proses penyembuhan manusia yang berlangsung berulang, tidak linear, dan terus bergerak di antara ingatan, emosi, dan harapan.

Kurator pameran D.A.E. Savitri Sastrawan dalam teks kuratorianya menyebutkan bahwa karya Lia dibaca sebagai bagian dari upaya ‘menapaki metafora di-antara’, yakni ruang visual yang belum sepenuhnya mengendap menjadi bentuk yang padat dan final. Pembacaan tersebut memperkuat bagaimana 108 DOA: HENTI PADA LUKA menghadirkan pengalaman emosional sebagai sesuatu yang cair, rapuh, dan terus bergerak di antara luka, kesadaran, serta proses pemulihan.

“Alih-alih menawarkan penyembuhan yang final, karyanya justru menempatkan pemulihan sebagai proses yang terus berlangsung. Praktik doa dalam karya dipahami bukan sekadar ritual spiritual, melainkan upaya sadar untuk menghentikan pola luka emosional agar tidak diwariskan kepada generasi berikutnya,” ungkap Savitri.

Melalui 108 DOA: HENTI PADA LUKA, Lia menghadirkan seni sebagai ruang kontemplasi sekaligus praktik penyembuhan batin, sebuah upaya untuk memahami luka, menghentikan keberulangannya, dan menghadirkan kemungkinan generasi yang lebih utuh secara jasmani maupun rohani.

Dalam konteks tema besar pameran “PRASANGSA: Sebelum Bentuk Menjadi Padat”, yang dikuratori oleh Anam Khoirul serta D.A.E. Savitri Sastrawan, seniman Lia yang memakai nama samaran Bunglon Aprillia, merepresentasikan fase batin manusia sebelum pengalaman emosional mengeras menjadi trauma yang menetap. Ada ruang rapuh, cair, dan belum selesai, tempat manusia berusaha memahami dirinya sendiri sebelum luka menjadi struktur yang diwariskan. Luh Budiaprilliana

Luh Budiaprilliana atau Aprillia yang juga lebih dikenal dengan panggilan Lia adalah Dosen Seni Murni ISI Bali. Lahir di Denpasar pada tanggal 13 April 1993. Lia menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Seni Rupa di UNDIKSHA Singaraja pada tahun 2015 dan S2 Penciptaan Seni pada tahun 2017 di ISI Denpasar. Dia mengajar seni lukis, patung, sejarah seni, dan seni digital. Ia juga merupakan pendiri dan ketua Griya Perempuan Art Event, sebuah gerakan nasional seniman perempuan nasional di Indonesia. Ia aktif melakukan pameran sejak masih menjadi mahasiswa seni. Ia bersekolah di SMK Seni Rupa di Batubulan Gianyar yang dikenal dengan SMSR Batubulan (Sekolah Menengah Seni Rupa) atau sekarang disebut SMK Negeri 1 Sukawati. Dia aktif dalam kegiatan berkesenian secara intensif dimulai dari tahun 2012 sampai sekarang. Ia juga tertarik pada Kuratorial Seni, Penulisan, dan Media Kreatif.

Karya berjudul “108 DOA: HENTI PADA LUKA” mengisahkan tentang perjuangan mengobati Wounded Inner Child dalam kondisi juga berjuang untuk menghentikan pemberian luka pada generasi berikutnya. Warna-warna karya yang digunakan bercampur dalam putih sebagai wujud ketidaksempurnaan menuju sesuatu yang bersih dari trauma atau bagian dari penyembuhan.

Karya Lia berangkat dari refleksi atas wounded inner child sebagai residu pengalaman batin yang membentuk cara individu merasakan, merespons, dan mencintai. Luka tersebut tidak hadir sebagai ingatan utuh, melainkan sebagai pola emosional yang berpotensi diwariskan secara laten antar generasi. Dalam posisi sebagai ibu, saya memaknai kehamilan sebagai ruang awal pembentukan pengalaman, tidak hanya biologis, tetapi juga psikis dan afektif.

Melalui kesadaran ini, praktik menjaga diri dijalani sebagai bentuk tapa, sebuah disiplin batin yang berlangsung dalam gestur sehari-hari, menahan, meredam, dan meregulasi emosi. Repetisi ini dimaknai sebagai doa yang terus diupayakan, menyerupai japa mantra yang dilafalkan berulang hingga 108 kali. Setiap lingkaran merepresentasikan satu unit kesadaran: fragmen dari usaha untuk hadir, sekaligus mengolah luka.

Karya itu tidak menawarkan penyembuhan yang final, melainkan sebuah proses yang terus berlangsung, sebagai upaya menghentikan keberlanjutan luka, dan membuka kemungkinan bagi terbentuknya generasi yang lebih utuh, baik secara jasmani maupun rohani.

Terdapat 108 keping lukisan di canvas board berbentuk lingkaran ukuran diameter 15 cm, simbol 108 butir japa mantra, sebagai wujud untaian doa. Ritual Visual tentang Luka Batin dan Pewarisan Emosi Antar Generasi. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)