Event

SULTAN HB X Gaungkan Harmoni Budaya Saat Membuka PEKAN BUDAYA TIONGHOA YOGYAKARTA 2026

SULTAN HB X Gaungkan Harmoni Budaya Saat Membuka PEKAN BUDAYA TIONGHOA YOGYAKARTA 2026

SULTAN HB X Gaungkan Harmoni Budaya Saat Membuka PEKAN BUDAYA TIONGHOA YOGYAKARTA 2026

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Februari 2026: Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwana X menegaskan pentingnya harmoni budaya dan keseimbangan nilai kehidupan saat membuka secara resmi pelaksanaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta -PBTY di kawasan Ketandan, Kota Yogyakarta, Rabu (26/2/2026).

Lebih lanjut Sultan HB X mengatakan perayaan budaya tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan ruang perjumpaan nilai yang memperkuat peradaban serta mempererat hubungan sosial masyarakat lintas budaya dan agama.

“Kebudayaan merupakan ruang batin peradaban, tempat nilai luhur dihidupkan kembali dan kesadaran bersama dibangun untuk menjaga keseimbangan kehidupan,” ujar Gubernur di hadapan unsur Forkopimda DIY, perwakilan Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok, kepala daerah se-DIY, tokoh masyarakat Tionghoa, serta tamu undangan lainnya.

Sultan HB X juga menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili kepada masyarakat Tionghoa, seraya berharap momentum tersebut membawa keberkahan serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Menurut Gubernur DIY, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta menjadi simbol pertemuan nilai antara filosofi Tiongkok dan kearifan lokal Jawa. Konsep keseimbangan Yin dan Yang dinilai sejalan dengan falsafah Jawa Hamemayu Hayuning Bawana, yang menekankan pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kehidupan sosial.

Dalam kesempatan itu, Gubernur DIY menyoroti makna Tahun Kuda Api yang melambangkan semangat transformasi dan keberanian serta menekankan bahwa energi perubahan harus diiringi kebijaksanaan serta pengendalian diri agar membawa manfaat bagi masyarakat luas.

Pelaksanaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta 2026 semakin istimewa karena berlangsung bertepatan dengan bulan Ramadan. Berbagai kegiatan sosial seperti Tausiyah, pembagian Takjil, serta aktivitas kebersamaan turut dihadirkan sebagai bentuk toleransi dan keberagaman yang hidup di tengah masyarakat Yogyakarta.

Selain aspek budaya, PBTY juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Kehadiran pelaku UMKM, pedagang kuliner, perajin, hingga seniman turut menggerakkan roda perekonomian kawasan Ketandan, Malioboro, dan sekitarnya.

Gubernur DIY menambahkan bahwa akulturasi budaya di Yogyakarta telah berlangsung sejak lama dan menjadi kekuatan utama daerah dalam menjaga keberagaman.

“Berbagai kesenian seperti Wayang Potehi yang tampil berdampingan dengan seni tradisional Jawa menjadi bukti nyata proses perjumpaan budaya yang produktif. Peradaban besar bukanlah yang seragam, tetapi yang mampu merawat perbedaan dalam keseimbangan,” jelas Sultan HB X.

Melalui penyelenggaraan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta Ke-21 di Kampung Ketandan-Malioboro, pada 25 Februari hingga 3 Maret 2026, Pemerintah Daerah DIY berharap nilai toleransi, kebersamaan, serta harmoni sosial terus terjaga sekaligus memperkuat posisi Yogyakarta sebagai kota budaya yang inklusif dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional. (Aga/Antok Wesman-Impessa.id)