Feature

KONIHERAWATI, Seniman-Dosen Desain Produk Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta Kritik Film Dokumenter FRAGILE

KONIHERAWATI, Seniman-Dosen Desain Produk Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta Kritik Film Dokumenter FRAGILE

Adegan scene dalam setting-an, bukan natural (Foto: Istimewa). KONIHERAWATI, Seniman-Dosen Desain Produk Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta Kritik Film Dokumenter FRAGILE

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Januari 2026: KONIHERAWATI, Seniman dan Dosen Desain Produk UKDW Yogyakarta Kritik Film Dokumenter berjudul “FRAGILE”, produksi Kamarbiroe-Yogyakarta, Tahun 2025, proyek dari NADI Gallery Jakarta, berdurasi 70 menit.

Kepada Impessa.id, Selasa (20/1/2026), Koni, sapaan akrabnya menuturkan secara panjang lebar., berikut penuturannya; “Beberapa minggu lalu ada undangan pemutaran perdana film dokumenter berjudul ‘Fragile’ di LIP -Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta. Film berdurasi 70 menit ini menggambarkan persahabatan antara Biantoro, pemilik Nadi gallery Jakarta, dan seniman Agus Suwage dari Yogyakarta. Biantoro (Bian) yang berasal dari kota kecil Muntilan yang sekarang berdomisili di Jakarta, sedangkan Agus Suwage (AS) berasal dari Purworejo. Mereka bertemu kemudian berteman sejak sama-sama sekolah di sekolah menengah atas SMA De Brito Yogyakarta, lalu berlanjut sama-sama kuliah di Bandung. Bian kuliah di jurusan Arsitek Universitas Katholik Parahiangan, sedangkan AS di Jurusan Diskomvis FSRD -Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Karena kos mereka berdekatan, hanya perlu berjalan kaki sehingga menjadi sering berkunjung hingga suatu saat AS menghadiahkan karya grafisnya yang merupakan tugas kuliahnya kepada Bian untuk mengisi dinding kamar kosnya. Itulah koleksi karya seni karya AS yang dimiliki Bian yang diceritakan dalam film ‘Fragile’,” tutur Koni.

Lebih lanjut Koni berujar; “Hingga saat ini di usia ke 25 tahun Nadi Gallery (ND) berdiri, persahabatan mereka masih berlangsung dan berkembang pada kerjasama lebih profesional melalui beberapa pameran AS di ND baik pameran bersama maupun pameran tunggal. Sejauh ini tidak menunjukkan adanya ‘keretakan atau keringkihan’ dalam hubungan pertemanan mereka berdua, sehingga terasa tidak cocok judul ‘Fragile’ untuk film tersebut. Justru tampak Film dokumenter yang sedianya menandai ulang tahun ND, tetapi batal ditayangkan saat pembukaan pameran ke 25 tahun, karena hasil yang menurut pihak ND belum maksimal, kurang memuaskan, masih perlu direvisi,” ujarnya.

Dikatakan; “Pembuatan film dokumenter ini dipercayakan ND pada tim Kamarbiroe Creatives -KB Yogyakarta yang terdiri beberapa anak muda, dengan pimpinan produksi Seilla. Infonya, ini merupakan film pertama yang diproduksi oleh tim KB, sehingga tidak aneh kalau pengamatan saya, film ini masih banyak kekurangan disana-sini, bahkan lebih cocok kukatakan sebagai ‘raw-material’, bahan mentah, yang tentu saja masih perlu diolah atau di-edit, dipotong sana-sini atau digarap sisi animasinya agar layak ditonton,” ungkap Koniherawati.

Menurut Koni, wujud film tidak hanya visual, tetapi juga audio sedangkan pembuatan film tidak hanya memikirkan tema atau scenario-alur cerita dan dialog pemain, serta memanfaatkan alat kamera tetapi meliputi berbagai macam kekomplekan hal-hal teknis seperti: pencahayaan, warna, artistik background-panggung, dekorasi, pemilihan lokasi, sudut pengambilan gambar, waktu yang tepat untuk pengambilan seperti pagi buta, sore senja mengingat gelap-terang dan warna cahaya alami/buatan yang direncanakan, juga kostum dan aksesoris serta pengaturan gerak atau dialog para pemain, serta masih banyak properti dan hal  lainnya. Semua ini disebut mise-en-scene. Istilah mise-en-scene berhubungan pada pengaturan/penataan elemen-elemen visual dalam sebuah adegan (scene) untuk menciptakan suasana, mood dan atmosfer tertentu dalam sebuah cerita yang tujuannya untuk mendukung narasi atau menciptakan karakter. Pengaturan tata panggung yang detail untuk menciptakan dunia visual yang menarik buat penonton (audience) perlu dipesiapkan matang. Terlihat hal mise-en-scene ini kurang dipersiapkan atau bahkan tidak dipahami tim KB?

Wahyudin (kurator senirupa) nulis kritik di jawa Pos

“Saya setuju pendapat atau istilah dari kritik Wahyudin, kurator pameran ulang tahun ke-25 tahun ND, yang dimuat di Jawa Pos beberapa waktu yang lalu tentang film Fragile ini ‘wagu’. Kesannya jadi film dokumenter tentang KB, bukan ND. Judul film yang tidak cocok untuk menggambarkan keharmonisan hubungan pertemanan Bian dan AS, dimana sama sekali tidak menunjukkan ada keretakan atau gesekan yang rentan, tetapi justru ‘Fragile’ lebih cocok untuk menggambarkan situasi kondisi tim KB saat menyiapkan film tersebut. Pendalaman materi tentang tema yang akan diangkat kurang dipahami tim produksi, sehingga memaksakan judul film yang salah, yang hanya mencomot dari salah satu judul karya AS yang dikoleksi oleh ND. Hal aneh /wagu’ lain yang saya alami adalah pengumuman ‘tidak diadakan diskusi/kritik’ selesai pemutaran film tersebut yang diumumkan langsung oleh MC yang belakangan saya ketahui dia adalah Seilla, pimpinan tim produksi film. Dengan begitu tampaknya tim takut terima kritik atau menutup masukkan atas film pertamanya yang masih banyak kekurangan itu. Termasuk durasi film yang sangat lama dan terasa membosankan karena lepas dari unsur estetik-keindahan visual yang ditampilkan,” pengakuan Koni.

“Yang saya tangkap ini membuat saya cross-check dengan pihak ND tentang proses persiapan hingga produksi film yang ternyata memang tidak diperhatikannya  kesepakatan tentang judul film, story board per-scene, dan elemen-elemen film lainnya.  Personil-personil tim yang ikut masuk, ikut jadi aktor, dalam film juga seolah itu menjadi film dokumenter KB. Namun, dari penjelasan pimpinan tim bahwa ini genre film cinema verite yang berdasar adegan apa adanya menggunakan kamera statis, jadi begitulah hasilnya, terkesan pimpinan KC yang seperti mau tampil bersama timnya dan mengabaikan kemauan client (ND) serta detail-detail yang diperlukan” jelasnya.

kamera statis (dg tripot) yang menyebabkan gambar flat, membosankan

“Menurut referensi yang saya cari, bahwa cinema verite, bahasa Perancis yang berarti ‘sinema kebenaran’, merupakan gaya pembuatan film dokumenter yang mengutamakan realisme natural, kejujuran dalam menangkap subjek dan berfokus pada kehidupan sehari-hari, menampilkan orang-orang dalam situasi nyata dengan dialog autentik tanpa naskah ketat atau aktor profesional, tanpa musik latar buatan. Sutradara tidak men-direct (direct cinema yang murni observasi) melainkan terkadang berinteraksi dengan subjek untuk memancing situasi agar memunculkan kebenaran yang lebih dalam. Menggunakan kamera ringan dan portabel (seperti kamera 16mm) agar memungkinkan pembuat film keluar dari studio dan masuk kelingkungan nyata. Gaya cinema virate banyak diterapkan tidak hanya di film dokumenter, tetapi juga dalam film fiksi, reality show dan konten video modern untuk memberi kesan jujur dan akrab. Berdasar referensi tersebut mestinya tim produksi bisa membuat keputusan setelah melihat data yang ada di client, sepertinya genre cinema virate kurang cocok dipakai, karena data minim sekali, bahkan narasi yang sama disampaikan berulang kali oleh subjek tanpa ada editing menjadi salah satu penyebab durasi yang kepanjangan. Kamera ringan dan portabel sebetulnya bisa dimainkan sudut pengambilan gambar dengan pendalaman teknik lensa fotografi sederhana, wide-angel atau macro-focus, DOF (depth of field) dan ASA/ISO (bukaan lensa) dan lainnya pada fitur bawaan yang ada di setiap kamera, sekalipun menggunakan kamera hand-phone. Memperhatikan Dof, ASA/ISO diperlukan untuk mengatur pencahayaan yang masuk untuk menciptakan suasana visual agar lebih menarik (estetis). Disini terlihat kameramen tidak menguasai hal-hal tersebut, sehingga hasilnya gambar datar (flat) yang membosankan. Ditambah lagi minimnya pengalaman atau pengetahuan tentang mise-en-scene,” jelas Koni.

Koni berpendapat bahwa secara keseluruhan hasil film yang ditayang di LIP tersebut masih merupakan raw-material, masih perlu diolah untuk menjadi sebuah film dokumenter yang menarik ditonton. sehingga dengan durasi 70 menit, terasa lama dan melelahkan penonton (audience). Semestinya sesi diskusi sangatlah penting diadakan dalam satu acara itu, karena masukan atau kritikan masih perlu demi membangun atau pembelajaran tim produksi maupun ND sebagai client, mengingat dana produksi yang tidak sedikit, tetapi alangkah idealnya menghasilkan film dokumenter yang menarik.

Lebih lanjut Koni mengungkapkan bahwa perencanaan matang seperti observasi untuk menjadikan cerita sederhana menjadi dokumentasi yang berharga dan menarik masih perlu dipelajari lagi, seperti perencanaan pengembangan cerita, testimoni teman dekat dari subjek. “Film ini terlihat hanya merupakan dokumentasi hasil wawancara saja, bukan merupakan penggambaran suasana keseharian yang terjadi dari persahabatan/pertemanan subjek. Mungkin justru obrolan tentang proses berkarya seniman AS, Bian awalnya tertarik karya seni, nostalgia saat SMA atau di kos, ketertarikan karya hingga hubungan professional saat ini dalam art-market, menentukan harga karya atau proses pameran dan situasi senirupa, masih banyak yang bisa digali lagi tentang hubungan antara pemilik galeri (ND) dan seniman. Akhir dari Kesan nonton film fragile tersebut, dalam hati saya berkata bahwa tim ini sangat beruntung karena baru pertama membuat film sudah ada yang mau mendanai, bukankah sebetulnya merupakan peluang besar untuk mendapat banyak kritik/masukan untuk perjalanan karya-karyanya ke depan berikutnya agar lebih baik dan professional,” tutupnya. (Feature of Impessa.id by Koniherawati-seniman dan dosen Desain Produk UKDW Yogyakarta)