Baby Boomers Kelahiran 1946-1964, Hingga Generasi Z Kelahiran 1997-2012, Pameran Bareng Di Burza Hotel Yogyakarta
Baby Boomers Kelahiran 1946-1964, Hingga Generasi Z Kelahiran 1997-2012, Pameran Bareng Di Burza Hotel Yogyakarta
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Januari 2026: Sebanyak 18 seniman mulai dari seniman Baby Boomers, kelahiran 1946-1964, hingga seniman Generasi Z, kelahiran 1997-2012, bersama-sama menggelar karya dalam pameran bertajuk GEN PARADE, bertempat di Burza Hotel Jl. Karangkajen, Mantrijeron, Yogyakarta, pada 1 Januari sampai 18 Maret 2026.
Syahrizal Pahlevi, organiser pameran menuturkan bahwa ide dari pameran itu adalah menyandingkan ekspresi seniman dari empat generasi dalam sebuah pameran bersama. Mereka adalah seniman yang terlahir pada masa Baby Boomers (1946-1964), diikuti Generasi X (1965-1980), Milenial/Gen Y (1981-1996) hingga yang dinamai Generasi Z (1997-2012).

"Tujuannya selain sebagai sumber pengetahuan juga untuk menjalin keterhubungan antar generasi itu sendiri yang ditengarai saat ini seperti ada jarak atau keterputusan antar generasi-generasi tersebut. Sudah barang tentu para seniman termasuk perbincangan di dalamnya. Benarkah generasi para seniman saat ini mengalami keterputusan hubungan satu sama lain? Ataukah itu adalah hal yang wajar saja sebagaimana juga terjadi di profesi lainnya?," tuturnya.
Berikut ke-4 generasi dengan rentang usianya dan ciri/karakteristiknya menurut sumber yang sering dikutip. Kadang beberapa sumber ada sedikit variasi soal rentang usia dimaksud namun tidak mengurangi substansinya:

Baby Boomers (1946-1964):
Pekerja keras, mandiri, kompetitif, setia pada nilai-nilai tradisional atau konservatif. Dedikasi dengan pekerjaan. Penyaksi perubahan teknologi dari analog ke digital, Biasanya mereka adalah orang tua dari generasi X, Y dan Z. Suka mengkritik generasi muda namun sukar menerima kritik.
Generasi X (1965-1980):
Adalah generasi transisi dari Boomers ke Milenial. Pekerja keras, skeptis terhadap institusi tradisional, bersikap mandiri, pragmatis dan adaptif dengan situasi, tumbuh di era sebelum internet merajalela,
Milenial / Generasi Y (1981-1996):
Tumbuh bersama internet awal, globalisasi, multitasking, dan media sosial pertama.
Generasi Z (1997-2012):
"Digital Natives", sangat mahir teknologi, ahli multitasking, dan peduli isu sosial.

Dikatakan oleh Syahrizal, "Asumsinya ada banyak perbedaan visual dan tema yag diangkat para seniman yang tentunya dipengaruhi oleh apa yang dicerap oleh setiap seniman yang terlahir di zamannya. Namun kadang secara fakta bisa berkata lain. Iklim politik, sosial budaya, lingkungan hidup, selera seni, revolusi gadget, pendidikan pastilah banyak berpengaruh terhadap karya-karya mereka".
"Secara visual perbedaan tersebut biasanya ditandai oleh bergesernya tema, idiom, simbol, bentuk, pewarnaan, penggunaan material hingga ketegaan eksekusi dari para seniman generasi Baby Boomer hingga Generasi Z. Walau mungkin bukan selalu perbedaan yang ekstrem karena dalam seni dan kehidupan ada hal-hal yang akan berulang terjadi, perbedaan tersebut layak disimak. Dunia seni, selalu ada yang menyimpang atau tidak berada dalam pengkategorian yang disusun ketat," ujarnya lebih lanjut.

Ke-18 seniman dari berbagai generasi senior hingga pendatang baru, usia cukup tua dan usia relatif muda yang mewakili empat generasi yang berpartisipasi dalam pameran guna membuat komparasi dalam penyajiannya, masing-masing;
Hari Budiono (1956), Alie Gopal (1959), Totok Buchori (1959) dan Subandi Giyanto (1959) adalah Seniman yang terlahir pada masa Baby Boomers. Sepertinya mereka cukup konservatif dengan gayaya masing[1]masing. Hari Budiono dan Totok Buchori memegang teguh realisme (sosial), sementara Alie Gopal dan Subandi Gianto lebih bersetia dengan nafas dekoratif dan tradisi yang coba disegarkan dengan tampilan yang dinamis.

Lalu Susilo Budi Purwanto (1966) dengan surealis kontemplatif, Tommy Tanggara (1969) yang dekoratif eksotik, Edo Pop (1972) surealis psikologis, Made Toris Mahendra (1972) dengan spirit Moderen Hindu[1]Balinya dan Dedy Sufriadi (1976) yang konsisten mengolah abstrak urban sebagai generasi X.
Milenial cukup banyak terwakili mulai dari Diana Roeayyah (1981) yang abstrak figuratif , Taufik Ermas (1984) dengan eksplorasi media dan permainan optisnya, Alfin Agnuba (1990) dengan teknik grafis non konvensional, Andi Acho Mallaena (1990) yang pop realis, Camelia Mitasari Hasibuan (1993) dan Reza Pratisca Hasibuan (1994) kebetulan kakak beradik dengan gaya pop surealis serta Aurora Santika (1996) dengan pop dekoratif . Komposisi ini sebenarnya dimulai dari generasi beranjak Milenial dan disudahi generasi mendekati Z. Jadi karya-karyanya masih menimbang perpindahan generasi sebelumnya dan sesudahnya.

Gen Z diwakii oleh Rumondang (1998) dan Gabrielle Maria Anna (1999) menampilkan karya khas anak zaman sekarang, cenderung figuratif dengan warna-warna ringan dan segar.
Pecinta dan penikmat seni dipersilahkan mencermati adakah korelasi pengkategorian umum tersebut dengan karya-karya seniman yang tampil dalam pameran ini. Adakah tema yang berulang digarap seniman antar-generasi? Bagaimana ketegaan setiap seniman dalam mengeksekusi karyanya? Bagaimana pergeseran dalam penerapan warnanya? Lalu adakah mereka para seniman tersebut termasuk sosok yang menolak zamannya, mendahului zamannya ataukah jangan-jangan (justru) terlihat tertinggal dari zamannya? (Syahrizal Pahlevi, organiser pameran/Antok Wesman-Impessa.id)
