Feature

Anak-Anak Menyukai Workshop Mewarnai Patung Selama Pameran Art Fun PAS for Children

Anak-Anak Menyukai Workshop Mewarnai Patung Selama Pameran Art Fun PAS for Children

Anak-Anak Menyukai Workshop Mewarnai Patung Selama Pameran Art Fun PAS for Children

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, November 2025: Sepulang sekolah siang itu, Senin (27/10/2025), Rizki (7 tahun) diantar ibunya melihat pameran berjudul Art Fun PAS for Children, yang digelar di lantai dua Pendhapa Art Space Jalan Prof. Dr. Wirjono Prodjodikoro (Ringroad Selatan) Tegal Krapyak RT. 01 Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Setelah puas melihat lebih dari 100 patung mini, unik, lucu, imut, kreasi anak-anak dari Sanggar Omah Joged Pramesthi, Jogja Disability Art, POTAD – Perkumpulan Orangtua Anak dengan Down Syndrome, Sanggar Anak Alam -SALAM, siswa-siswi SDN 1 Sewon Bantul, Madrasah Ibtidaiyah Al Ma’had An Nur Bantul dan Sandjivvane Integratif Support, akhirnya Rizki tertarik dan berminat mewarnai patung kecil replika Tugu yang bisa ditempelkan di dinding Lemari Es.

Workshop mewarnai patung yang diperagakan Rizki dan sepenuhnya didukung Hanif, petiugas yang siap membantu menyediakan segala sesuatunya, termasuk palet berisi aneka warna cat acrylic, kuas, mangkuk berisi air untuk mencuci kuas dan kertas tisu, serta beberapa contoh patung yang belum di cat, yang bebas dipilih. Alhasil aksi yang dilakukan bocah itu telah mengundang minat pengunjung lainnya untuk ikut mencoba karena hasil karya boleh dibawa pulang untuk kenang-kenangan.

Hardiwan Prayoga selaku Manajer Program sekaligus Kurator Pameran, ketika ditanya Impessa.id terkait progress penyelenggaraan workshop, dirinya menuturkan bahwa selama pameran dari 18 hingga 27 Oktober 2025, telah menyasar sasaran yang tepat sesuai rencana, yaitu pameran menjadi semacam acara keluarga, selain anak muda yang berminat sesuai skena pameran, juga banyak orangtua yang membawa anaknya melihat pameran dan sekaligus mengikuti workshop mewarnai obyek tiga dimensi, yang mana semua materinya gratis.

“Hal itu menjadi bagian penting bagi ekosistem kesenian di Jogja yang umumnya jarang menempatkan keluarga sebagai target pasar dari sebuah pameran, apalagi konsepnya antara orangtua dan anak-anak. Kemudian ketika pameran ini ingin menampilkan sebuah proses belajar seni patung bersama anak-anak, saya rasa ini cukup berhasil,” ungkap Yoga, sapaan akrabnya.

Yoga berharap, dengan orangtua megajak anaknya datang ke pameran terus mwngikuti workshop melukis agar orang dewasa disekitar anak-anak itu melihat imajinasi dan ekspresi anak itu sebagai sebuah keberagaman bahwa kalau kita lihat patung-patung ini meskipun ada bentuk yang mirip kita melihat ada ke khas-an di setiap karya anak tersebut, artinya ada sentuhan, ada imajinasi yang beda dari setiap anak. Dari situ selain melihat hasil yang beda, disitu kita juga bisa melihat proses belajar yang bertumbuh dari patung-patung yang kita lihat, dari dokumentasi yang kita lihat, dari catatan proses yang ada juga di ruang pamer, dari kegiatan aktivasi melukis workshop ini sebagai suatu bentuk ruang belajar bersama antara orangtua dan anak-anak. Yang mana kemudian patung yang telah dilukis bisa dibawa pulang oleh anak itu. 

Sebagai suatu bentuk kesenian, belum ada komunitas di Jogja yang memposisikan dirinya secara spesifik di dunia seni patung, meskipun ada komunitas atau asosiasi pematung atau kelompok pematung, tapi kemudian mereka tidak fokus pada dunia edukasi. Ekosistemnya hidup tetapi dalam dunia penciptaan karya.

Pendhapa Art Space -PAS, berkomitmen ikut mendorong pendidikan seni yang inklusif dan transformatif, termasuk untuk anak-anak. Oleh sebab itu dihadirkan Art Fun PAS for Children, program workshop dan fasilitasi anak-anak (6-12 tahun) untuk berkesenian khususnya seni patung.

Ganes Satya Aji selaku owner menyatakan bahwa seni patung sengaja dipilih sebagai metode, berangkat dari keyakinan bahwa kesenian ini mengajarkan anak-anak pada aspek motorik dan spasial. “Motorik karena seni patung menuntut sentuhan dan interaksi fisik dengan materialnya. Sedangkan spasial karena sebagai seni tiga dimensi, seni patung mengharuskan kita memahami lebih dalam soal ruang yang nyata, bukan sekadar dua dimensi,” ujarnya.

“Seni patung sebagai metode belajar menilik dari metode Early Childhood Care and Development (ECCD) Holistik, metode yang diyakini menjadi jalan untuk membentuk fondasi manusia berkualitas, usia anak 6-12 tahun yang dilanjutkan dengan usia remaja 12-18 tahun, melalui proses pendidikan yang dinamakan centre-based. Centre-based memiliki elemen yang lebih kompleks, karena anak mulai mengenal institusi di luar rumah mulai dari sekolah, organisasi masyarakat, pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan sebagainya. Berbagai rincian metode ECCD Holistik ini bertemu dengan kompleksitas masyarakat yang tentu sangat beragam,” jelas Ganes lebih lanjut. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)