Pameran Bertajuk Mengingat 25 Tahun Reformasi di Kedai Kebun Forum Yogyakarta, 20 Februari hingga 20 Maret 2023
Pameran Bertajuk Mengingat 25 Tahun Reformasi di Kedai Kebun Forum Yogyakarta, 20 Februari hingga 20 Maret 2023
Impessa.id, Yogyakarta: Pameran “Mengingat 25 Tahun Reformasi” bukan sekadar tentang reformasi. Juga tidak dalam rangka menguatkan glorifikasi, apalagi pada titik ketika kehidupan sekarang masih terus bergelut memperjuangkan demokrasi. demikian pernyataan pameran yang tersebar di beberapa ruang selama Februari hingga Maret 2023, melibatkan 33 seniman dari berbagai generasi dan konteks budaya-politik di Indonesia.
Pameran dengan Direktur Artistik Alia Swastika serta Kurator Dwiki Nugroho Mukti dan Savitri Sastrawan, berlangsung di beberapa lokasi di Kota Jogja, masing-masing di Kedai Kebun Forum pada 20 Feb - 20 Mar 2023, di Ruang MES56 pada 24 Feb - 11 Mar 2023, di LAV Gallery pada 26 Feb - 26 Mar 2023, di Cemeti - Institut untuk Seni dan Masyarakat pada 07 Mar - 07 Apr 2023 serta di KRACK! Pada 18 Mar - 15 Apr 2023.

Seniman yang terlibat yakni, Agung Kurniawan, Amal Purnama, Arif Furqan, Arifa Safura & DJ Rencong, Benny Wicaksono, Dolby, Dyan Anggraini, Fionny Mellisa, FX Harsono, Gisela Maria, I Ngurah Suryawan, I Wayan Bendi, Kharisma Adi, Krisna Jiwanggi Banyu, Meliantha Muliawan, Moch. Krismon Ariwijaya, Mujahidin Nurrahman, Perkawanan Perempuan Menulis, Popok Tri Wahyudi, Pujo Nugroho, Raslene, Redi, SkolMus, Slinat, Sudut Kalisat, Syska La Veggie, Taring Padi, Theresia Agustina Sitompul, Titarubi, Wimo Ambala Bayang, Woven Kolektif serta Yaya Sung.
Pameran lebih diinisiasi untuk menjadi ruang yang mempertemukan beragam ingatan tentang sebuah masa yang telah mengubah banyak hal dalam kehidupan individu maupun kita sebagai warga sebuah bangsa. Proyek ini membicarakan penanda dalam titi mangsa ini bersama para seniman dari beragam latar belakang dan berlainan generasi. Bagaimana sebuah peristiwa dalam sejarah dapat melahirkan tafsir yang berbeda, dikenang dengan cara yang tak sama, dan membangun percakapan yang bisa membawa kita ke segala arah?

Reformasi pada saat kemunculannya bisa jadi merupakan sebuah titik yang diharapkan membuka cara tata kelola pemerintahan yang baru, di mana sebuah tirani dilengserkan, dan babak baru diperjuangkan. Reformasi adalah puncak dari gejolak dan dinamika politik yang telah berlangsung bertahun-tahun, melahirkan gerakan sosial yang berbasis pada solidaritas dan perjuangan untuk kebebasan: ada banyak nyawa dikorbankan, mereka yang hilang, atau kisah tentang pembungkaman.
Direktur Artistik Pameran, Alia Swastika, menyatakan: “membicarakan rentang reformasi tidak bisa hanya berfokus pada tahun 1998 saja, tetapi masa sebelum dan bertahun setelahnya. Tahun 1998 dan peristiwa reformasi kemudian dilihat sebagai pintu masuk bagi para seniman generasi baru untuk membicarakan apa yang dekat dengan mereka di masa kini.”

Menyandingkan karya-karya ini dengan karya seniman generasi baru menjadi cara untuk melihat. bagaimana praktik seni bergeser dari waktu ke waktu; tidak hanya ideologinya, tetapi juga wacana, praktik dan ekosistemnya. Dua kurator- Dwiki dan Savitri—dalam pameran ini menunjukkan bagaimana reformasi dibaca dalam konteks ruang-ruang “pinggiran” alih-alih memfokuskan wacana di kota besar yang acap menjadi pusat politik, serta bagaimana posisi identitas gender memberi pengaruh besar dalam pembacaan atas situasi politik.
Salah satu kurator pameran, Dwiki, menyebutkan, “Membaca ulang reformasi setelah 25 tahun dapat dilakukan dengan menggali ingatan tersimpan tubuh individu atau kolektif, dalam ruang domestik maupun publik, tidak selalu harus melalui sumber media utama. Ingatan yang tersebar saling bertaut membentuk wajah reformasi yang multitafsir. akan menjadi pameran yang akan menampilkan wajah reformasi melalui karya seni yang mewakili ingatan-ingatan yang tersebar akan peristiwa reformasi yang tercecer di berbagai Indonesia.”
Peran gender dan rumah tangga juga menjadi salah satu perspektif untuk membaca peristiwa tersebut, seperti yang digali oleh Kurator Savitri, “Mengalami Reformasi 1998, di dalam atau luar negara Indonesia, atau belum lahir saat itu, saya yakin anda terdampak secara langsung maupun setelahnya. Ada ingatan-ingatan yang terjadi di dalam ke-rumah-tangga-an masing-masing yang telah terekam.” (Aliya/Antok Wesman-Impessa.id)
