Feature

Semangat Anggota Paguyuban Pensiunan RRI Yogyakarta Istimewa, Bak Api Nan Tak Kunjung Padam

Semangat Anggota Paguyuban Pensiunan RRI Yogyakarta Istimewa, Bak Api Nan Tak Kunjung Padam

Semangat Anggota Paguyuban Pensiunan RRI Yogyakarta Istimewa, Bak Api Nan Tak Kunjung Padam

Impessa.id, Yogyakarta : Paguyuban Pensiunan RRI Yogyakarta Istimewa dengan slogan “Seduluran Salawase” yang beranggotakan lebih dari seratus orang, kembali menghelat pertemuan dua bulanan, dengan tuan rumah adalah Kelompok VI, bertempat di Gubug Makan “Iwak Kalen” di kawasan jalan Godean Yogyakarta, pada Rabu pagi hingga siang, (12/2/2020).

Pihak tuan rumah pertemuan telah memberikan informasi lengkap lokasi yang ditetapkan, baik melalui denah berikut ancar-ancar petunjuk, sehingga memudahkan anggota paguyuban untuk menemukan tempatnya meski berada di area pinggiran, setelah melewati jalan raya Godean. Cuaca saat itu cerah, bahkan Sang Mentari menyengat cukup tajam.

Mbak Yanti, mewakili Kelompok VI ketika ditemui Impessa.id menjelaskan atas dipilihnya lokasi Gubug Makan “Iwak Kalen” tersebut. “Kami sengaja ikut membumikan budaya kuliner. Di Jogja ini destinasi kuliner banyak sekali, ya ayuk kita dukung bersama, nah lewat pertemuan ini kami pilih disini, dan akan berpindah-pindah, tidak harus mahal dan mewah, tetapi terjangkau dan yang penting sehat dan menyehatkan,” ujarnya.

Anjuran awal sebagai ajang silaturahim dari rumah ke rumah, menurutnya terkadang bikin repot juga, tuan rumah harus belanja, masak-masak, lalu setelahnya cuci-cuci, belum tuan rumah harus menyiapkan toilet bersih untuk orang banyak, sudah lelah duluan, bahkan kalau dihitung-hitung biaya yang keluar bisa lebih besar, nah kalau semua tinggal datang ke tempat wisata kuliner yang cocok, kemudian seluruhnya menikmati sajian, kan lebih praktis, terlebih dananya dipikul bersama oleh anggota di setiap kelompok, itu tidak memberatkan.

Gubug Makan “Iwak Kalen” menunya sederhana, aneka masakan Ikan Air Tawar, ada Gurami, Lele, Nila dan Belut. Harganya relatif murah terjangkau, tempatnya bernuansakan alam pedesaan, adem-tenang, jauh dari kebisingan lalu lintas dan tersedia Pendapa luas yang mampu menampung seratusan orang.

Disela-sela rehat usai santap siang, salah satu anggota paguyuban mbak Veronica Esti Wuryani menuturkan kesan atas dihelatnya pertemuan keluarga besar pensiunan RRI Yogyakarta di tempat itu. “Pertemuan seperti ini bagi saya memang suatu kerinduan yang harus saya hadiri. Jadi saya usahakan hari ini saya bisa hadir meskipun tempatnya jauh dari rumah saya di kawasan Juminahan Pakualaman, tetapi kebetulan di grup saya Kelompok III, ada yang punya mobil sehingga bisa berangkat bersama-sama,” tuturnya.

Lebih lanjut mbak Esti menambahkan bahwa selama pensiun, jangan sampai merasa sendiri, jangan sampai merasa jauh dari teman-teman, dari saudara-saudara. “Ini yang membuat kita dekat dan kita bisa happy, bisa ketemu dengan teman-teman, mungkin itu yang membawa kita bisa panjang umur dan diberikan kesehatan. Hari ini tempatnya memang luar biasa walau agak panas, pas cuaca terik, makanannya juga enak, karena kita sudah tua-tua harus menjaga pola makan, makan dijaga biar tidak gemuk, biar tidak banyak kolesterol, tidak banyak lemak, seperti itu yang harus kita jaga supaya kita tetap sehat. Hari ini menyenangkan,” jelasnya.

Mbak Esti Wuryani masih tampak segar dan bugar, kiatnya dia ungkapkan kepada Impessa.id. “Setiap hari saya melakukan olahraga, jogging, jalan-jalan santai di pagi hari saat jalan masih lengang, juga senam lansia kebetulan saya menjadi instruktur senam untuk lansia di kampung dan juga di Gereja, kemudian saya tetap berusaha untuk rutin berenang,” akunya jujur.

Sementara itu, Mas Muhammad Suhud yang berusia 77 tahun ketika dikonfirmasi Impessa.id tentang keikutsertaannya di pertemuan tersebut mengungkapkan, “Pertemuan ini jauh lebih baik dibandingkan dengan pertemuan RW, karena ini kan pensiunan semua yang hadir, meskipun ini kelompok lansia namun disini tidak merasa tua, Kalau di RW para pensiunan terkadang diperlakukan uwis ora kopro, sudah tidak bisa apa-apa, kalau di ajang pensiunan begini kan kita bebas, rata-rata umur yang sama, semangatnya juga tetap sama, bagi saya pribadi kalau pertemuan seperti ini saya usahakan untuk bisa hadir, karena saat ketemu teman-teman sebaya membuat berpikir juga ternyata sudah tua juga ya, tetapi saat ketemu pensiunan yang umurnya dibawah saya, saya lebih bersemangat lagi, lho aku uwis tuwa ngene ya isih semangat kog,” ungkapnya.

Menurut mas Suhud yang terpenting adalah semangat ketidaktua-an nya itu harus ada. “Meskipun ini kumpulan para orang tua tapi yang penting aja rumangsa tua, jangan merasa tua, ini kenyataan dalam pertemuan ini, paling tidak ikut datang, dia pasti sehat, jadi kita kumpul dengan orang-orang tua yang sehat, ada pengaruh psikologisnya,” sergahnya.

Forum pertemuan para pensiunan banyak memberi manfaat kepada individu-individu lansia yang menghadirinya, betapa tidak, di situ, mereka akan mendapatkan masukan-masukan cerita dan pengalaman teman-teman lansia yang tetap sehat walafiat, membuka wacana dan wawasan pergaulan, wahana mengungkapkan uneg-uneg, permasalahan yang terpendam. “Umur saya 77 tahun, tapi disini saya tidak merasa tua, terlebih berada ditengah-tengah ya boleh dikata adik-adik saya ini, saya tidak loyo, malah memicu semangat,” aku mas Suhud.

Mas Suhud yang aktif memimpin organisasi massa sosial independen yang terbuka bebas untuk semua orang, dengan anggota mencapai 600-an orang se Daerah Istimewa Yogyakarta, yang menurutnya penuh dengan problema masing-masing anggota yang dikata luar biasa. “Coba mas bayangkan sebanyak itu, karakternya beda-beda, status sosialnya beragam, kemampuan manajerial skill-nya juga berbeda, pendidikannya tidak sama, itu saya himpun untuk ketika masuk diwadah sosial ini semuanya sama. Itu untuk saya menjadi tantangan, karena kalau memegang organisasi yang sudah smooth begitu nggak ada tantangannya,” ungkapnya lebih lanjut.

Persyaratan untuk bergabung diantaranya memiliki jiwa sosial yang tinggi, sehat jasmani-ruhani, punya nyali karena ini organisasi sosial keamanan masyarakat. “Di organisasi kami, mereka yang tua-tua itu ya tidak merasa tua juga, semangatnya tetap kuat,” imbuhnya.

Bagi mas Suhud, forum silaturahim bagi pensiunan RRI Yogyakarta tersebut memberi manfaat, yang sehat bisa bercerita berbagi pengalaman, yang lain bisa menyerapnya. Mas Suhud menyarankan jikalau muncul bahasan mengenai rahasia panjang umur, ya harus orang tua yang sehat yang angkat bicara, karena dia sebagai pelaku, jangan orang yang masih muda yang menerangkan karena itu hanya teori, bahkan terkadang teori yang diutarakan malah membebani pikiran.

Suasana pertemuan memang nampak rukun menyenangkan, sambil menikmati hidangan makan siang dan memilih sendiri lokasi santapnya, karena tersedia pula tempat Lesehan, anggota paguyuban yang gemar tarik suara tampil didepan bernyanyi menghibur seluruh yang hadir di Pendapa Gubug Makan "Iwak Kalen" diiringi organ tunggal oleh Mbak Maria Kadarsih. Pembagian kaos seragam yang didanai bersama pun ikut mewarnai nuansa silaturahim tersebut.

Memang tidak semua anggota Paguyuban Pensiunan RRI Yogyakarta Istimewa menghadiri pertemuan silaturahim itu. Ada beberapa wajah baru yang muncul yang pada pertemuan dua bulan sebelumnya berhalangan hadir, namun ada pula yang sebelumnya datang, pada pertemuan saat itu berhalangan hadir. Testimoni beberapa anggota paguyuban yang diwawancarai Impessa.id sepakat bahwasanya pertemuan itu penting dan memberi manfaat, sekiranya ada kesempatan semua yang ditemui Impessa.id menyatakan siap hadir. Semangat mereka bak Api Nan Tak Kunjung Padam. (Antok Wesman-Impessa.id)