Memasuki 43 Tahun Perhimpunan BALA MAHARDDHIKA Yogyakarta Pegang Teguh Semangat GURUH SOEKARNO PUTRA
Memasuki 43 Tahun Perhimpunan BALA MAHARDDHIKA Yogyakarta Pegang Teguh Semangat GURUH SOEKARNO PUTRA
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, 31 Oktober 2026: Kebahagiaan yang dirasakan oleh seluruh anggota Perhimpunan Bala Maharddhika Yogyakarta yang hadir di Perayaan HUT Ke-43 malam itu, dibalut suasana khidmat mengenang almarhum Guruh Soekarno Putra, Sang Guru Pendiri Swara Maharddhika pada tahun 1977 teruntuk kalangan muda, beserta tokoh-tokoh Bala Maharddhika yang telah berpulang. Pesan Guruh Soekarno Putra agar berjuang, terus berkarya “Untuk Mencintai Indonesia Adalah Pekerjaan Se Umur Hidup” menjadi motivasi tersendiri bagi anggota Bala Maharddhika untuk tetap terhubung satu dengan yang lain.


“Aku bahagia, hidup sejahtera di khatulistiwa, alam berseri-seri, bunga beraneka, mahligai rama-rama bertajuk cah’ya jingga, surya di cakrawala. Selalu berseri, alam indah permai di khatulistiwa, persada senyum tawa hawa sejuk nyaman, wajah pagi rupawan. Burung berkicauâÂÂria,âÂÂbermandiâÂÂembun surga” Lirik lagu “Zamrud Khatulistiwa” karya cipta Guruh Soekarno Putra yang dinyanyikan serempak dalam perayaan HUT ke 43 Perhimpunan Bala Maharddhika yang berlangsung Sabtu, 31 Oktober 2026 pukul 18.00 WIB, di ballroom Royal Darmo Malioboro Hotel.
GBPH Prabukusumo sebagai tamu kehormatan, malam itu menyampaikan pesan penuh tantangan bagi Bala Maharddhika untuk melakukan aksi nyata yang lebih populis, lebih merakyat termasuk regenerasi agar karya cipta yang dicontohkan Guruh Soekarno Putra tetap merasuk di jiwa sanubari anak muda dan tetap mencintai Indonesia. “Tantangan kedepan cukup berat, teknologi komunikasi dan informasi berkembang sangat cepat dan diluar dugaan, sehingga perlu dilakukan kolaborasi terlebih dengan anak-anak muda, melestarikan kesenian bangsa sekaligus mencintai Indonesia,” tutur GBPH Prabukusumo.


Acara HUT tersebut diperingati bertepatan dengan tanggal didirikannya perkumpulan anak-anak muda di Kota Yogyakarta pada 31 Oktober 1983. Bala Maharddhika adalah organisasi yang bergerak di bidang kesenian, didirikan oleh Gentur Wisnubaroto dan Diary Parentsono, yang keduanya merupakan anggota Swara Maharddhika angkatan IX beserta Maya Damarwati.
Visi didirikannya organisasi tersebut dilandasi semangat untuk menyalurkan bakat dan kreativitas di kalangan anak muda, khususnya seni tari dalam suatu wadah kegiatan positif bagi generasi muda Yogyakarta. Pendiriannya-pun atas restu Guruh Soekarno Putra.

Bala Maharddhika memiliki makna “Pemuda yang Merdeka” yang artinya kaum muda harus tetap merdeka untuk mengekspresikan segala kebebasannya, namun tetap dalam koridor norma yang positif. Dengan berpedoman “Pancasila Jiwaku” yang dianut dan dengan motto Persatuan dan Kesatuan adalah Kekuatan, maka organisasi ini tetap dapat bertahan hingga saat ini.
HUT tahun 2026 dirayakan dengan mengusung tema “Jayanti Maharddhika 43” sebagai ajang reuni bersama seluruh angkatan dari awal masuk tahun 1983 hingga angkatan terakhir. Anggota Bala Maharddhika telah tersebar di berbagai propinsi, pulau dan benua, juga dalam berbagai profesi, mulai dari interior designer, instruktur tari/senam/kebugaran, wirausahawan bidang kuliner, kerajinan, dekorasi, fotografi, ASN, bankir, hingga pensiunan dan ibu rumah tangga.


“Saat ini ada sekitar 60 personil anggota yang masih dapat hadir saat acara seperti HUT malam ini diselenggarakan, selebihnya berhalangan hadir karena terkendala berbagai hal, karena kondisi kesehatan, jarak antarkota, kesibukan keluarga,” ujar Semangkin Handayani, selaku Ketua Perhimpunan Bala Maharddhika periode 2025-2028. “Untuk menjaga ritme organisasi agar terus berjalan, pengurus mengadakan berbagai acara secara bervariasi, seperti Latihan Tari, Line Dance, Jogging Bersama, Arisan, aneka Lomba dan Permainan saat acara 17-an dan acara yang sifatnya spontan seperti Tabur Bunga, kunjungan kepada anggota yang sedang sakit, dan doa bersama. Ya lumayanlah, ada keterlibatan anggota meskipun tidak banyak, masih boleh dibilang roda organisasi ini menggeliat. Sementara untuk biaya operasional, ada iuran anggota yang menjadi pemasukan pokok bagi organisasi,” imbuh Angkin lebih lanjut.

Dalam kesempatan itu, Ketua Panitia Meniek menjelaskan tujuan diselenggarakan HUT 43 Tahun 2026. “Ini untuk mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan antar-anggota, terutama bagi keluarga para pendiri, agar tidak terbatas pada sesama anggota Bala Maharddhika saja. Pokoknya kita semua telah menjadi satu keluarga besar.”.
Sebagai rangkaian kegiatan HUT tahun 2026, pada Sabtu, 31 Oktober pukul 08.00 diadakan doa bersama di Makam Keluarga Soejoto Koesoemoprawiro di daerah Mangunan Pakem Sleman, yang merupakan area makam salah satu pendiri Bala Maharddhika, yaitu Gentur Wisnubaroto. Pada kesempatan tabur bunga dan doa bersama tersebut, selain anggota Bala Maharddhika, turut hadir pula beberapa anggota Swara Maharddhika Jakarta, seperti Ati Ganda, Santi, Nina Trio Bebek dan keluarga para pendiri.


Puncak acara HUT dirayakan secara meriah dengan menampilkan beberapa tarian unggulan dengan musik pengiring lagu-lagu karya cipta Guruh Soekarno Putra. Ada lagu “Janger”, “Zamrud Khatulistiwa”, “Damai” dan “Gilang Indonesia Gemilang”. Suasana gembira mewarnai panggung dan ruangan tempat acara tersebut digelar. Kilat lampu blit dan lampu aneka warna melengkapi suara musik yang menyeruak, menyuguhkan lagu-lagu ceria untuk berdendang. Panggung menjadi semarak, saat penari dengan lincah berlenggang. Seluruh penonton seolah terhipnotis untuk ikut bergoyang, bernyanyi dan menghentakkan kaki. Dapat dimaklumi karena mereka semua dulunya para penari pada masa mudanya, sekarang tinggal bernostalgia mengenang kejayaan masa remaja atau masa mudanya yang telah lalu.

Namun demikian, Bala Mahardika tetap eksis. 43 tahun telah mampu dilalui dan bertahan tanpa lelah meski banyak dinamika telah dilewati. Sungguh pengalaman yang tidak mudah, mengelola sebuah organisasi di tengah derasnya arus informasi. “Jayanti Maharddhika” Jayalah jiwa-jiwa merdeka dalam berkesenian untuk memajukan negeri, agar tidak punah budaya asli, demi harga diri bangsa, terjaganya adab dan budaya, agar tetap bermartabat dan kita semua bisa berbangga hati. (Feature of Impessa.id by Frans-Antok Wesman)
