JOGJA FESTIVALS FORUM n EXPO 2026 Luncurkan IMPACT REPORT, From Forum to Action: Extending the Impact of JFFE
JOGJA FESTIVALS FORUM n EXPO 2026 Luncurkan IMPACT REPORT, From Forum to Action: Extending the Impact of JFFE
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, 20 Mei 2026: Jogja Festivals secara resmi Rabu, 20 Mei 2026, meluncurkan JFFE 2026 Impact Report dengan tema “From Forum to Action: Extending the Impact of JFFE.” Laporan yang menjadi refleksi sekaligus pemetaan strategis terhadap perkembangan ekosistem festival yang dibangun melalui rangkaian JFFE 2026, mulai dari Symposium, Forum Festival dan Industri Pariwisata, Forum Festival dan Ekonomi Kreatif, hingga Festival Investment dan Partnership Forum dengan program Business Matching Festival.
Lebih dari sekadar laporan dokumentasi kegiatan, JFFE Impact Report 2026 disusun sebagai dokumen strategis yang merekam berbagai pembelajaran, tantangan, peluang, dan arah pengembangan ekosistem festival di Indonesia. Laporan ini juga menandai transformasi JFFE dari sebuah forum tahunan menjadi platform yang mendorong kolaborasi, investasi, dan dampak berkelanjutan.

Ketua Jogja Festivals, Heri Pemad, menyampaikan bahwa JFFE 2026 menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap festival. “Festival hari ini tidak lagi dipandang sekadar sebagai ruang perayaan atau penyelenggaraan event. Festival telah berkembang menjadi penggerak ekonomi kreatif, alat penguatan identitas kota, ruang kolaborasi lintas sektor, dan berpotensi menjadi aset ekonomi yang memiliki dampak jangka panjang.”
Melalui analisis yang dilakukan terhadap peserta, diskusi forum, hingga proses Business Matching, JFFE menemukan bahwa ekosistem festival Indonesia memiliki potensi yang besar dengan keterlibatan aktif komunitas, pelaku kreatif, pemerintah, industri, dan mitra strategis. Namun, laporan ini juga menunjukkan adanya sejumlah tantangan mendasar yang masih perlu diatasi.
Beberapa temuan utama dalam JFFE Impact Report 2026 antara lain:
Festival telah berkembang menjadi instrumen penggerak ekonomi, budaya, dan pariwisata.
Ekosistem festival masih berjalan secara terfragmentasi dan belum terintegrasi dalam sistem yang berkelanjutan.
Intellectual Property (IP) dan monetisasi festival belum dimanfaatkan secara optimal.
Belum terdapat sistem data dan pengukuran dampak ekonomi yang terstruktur.
Kebutuhan terhadap model investasi dan kolaborasi lintas sektor semakin meningkat.
Laporan ini juga menyoroti bahwa kesiapan ekosistem festival dalam menerima investasi masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk belum tersedianya model bisnis yang kuat, pipeline proyek, serta mekanisme investasi yang terstruktur.

Selain memotret kondisi saat ini, JFFE Impact Report 2026 juga menandai peluncuran sejumlah inisiatif strategis yang diarahkan untuk memperkuat ekosistem festival secara berkelanjutan. Salah satu inisiatif utama yang diperkenalkan dalam JFFE 2026 adalah Festicity, sebuah platform yang dikembangkan sebagai ruang integrasi antara festival, pengalaman wisata, pelaku ekonomi kreatif, dan mitra kolaborasi.
Festicity hadir sebagai upaya untuk menjawab kebutuhan ekosistem yang selama ini masih berjalan secara terpisah. Festival sering kali berdiri sebagai kegiatan yang berlangsung sesaat, sementara potensi pengalaman wisata, kolaborasi bisnis, serta distribusi manfaat ekonomi di sekitarnya belum terhubung secara optimal. Melalui platform ini, festival diharapkan dapat berkembang menjadi perjalanan pengalaman (festival journey) yang lebih luas dan terintegrasi.
Saat ini, Festicity telah memasuki tahap awal implementasi dan sudah mulai dapat diakses oleh publik melalui paket dan pengalaman festival yang tersedia secara bertahap. Pengembangan berikutnya akan dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk festival, pelaku ekonomi kreatif, mitra usaha, serta sektor pariwisata.

Ke depan, Festicity membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai tour operator, travel partner, serta penyedia pengalaman wisata untuk mengembangkan model festival tourism package yang menghubungkan festival dengan akomodasi, transportasi, destinasi wisata, kuliner, hingga pengalaman budaya lokal.
Melalui pendekatan tersebut, festival tidak lagi hanya menjadi alasan seseorang datang ke suatu kota, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi pengalaman wisata yang lebih menyeluruh dan berdampak terhadap ekonomi lokal.
“Festicity kami bayangkan bukan hanya sebagai platform tiket atau katalog festival. Festicity merupakan ruang yang menghubungkan festival, perjalanan, pelaku kreatif, dan berbagai kemungkinan kolaborasi ke dalam satu ekosistem yang saling menguatkan,” ujar Dinda Intan Pramesti Putri, Direktur Jogja Festivals.
Peluncuran Festicity menjadi salah satu langkah awal dalam transformasi JFFE dari ruang diskusi menjadi ruang implementasi. Kehadirannya diharapkan dapat memperkuat posisi Yogyakarta sebagai kota festival, sekaligus mendorong lahirnya model kolaborasi baru antara festival, industri kreatif, dan pariwisata.
Melalui laporan ini, JFFE menegaskan bahwa masa depan festival tidak hanya bergantung pada jumlah kegiatan yang diselenggarakan, tetapi juga pada kemampuan membangun sistem yang menghubungkan berbagai aktor ke dalam ekosistem yang saling mendukung.
“Yang dibutuhkan bukan lebih banyak festival, tetapi ekosistem yang lebih kuat. JFFE Impact Dialogue hadir untuk memastikan bahwa ide, jejaring, dan kolaborasi yang telah terbentuk dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata dan dampak yang berkelanjutan.”
Jogja Festivals berharap laporan ini dapat menjadi sumbangsih penguatan ekosistem kota festival sekaligus referensi bagi pemerintah, pelaku festival, komunitas, industri kreatif, investor, akademisi, dan berbagai pihak lainnya dalam memperkuat posisi festival sebagai bagian penting dari pembangunan budaya, ekonomi kreatif, dan pariwisata di Indonesia.
Tentang Jogja Festivals
Jogja Festivals merupakan organisasi yang berfokus pada penguatan ekosistem festival melalui pengembangan kapasitas, jejaring, riset, kolaborasi, dan inovasi. Dengan semangat kolaboratif, Jogja Festivals mendorong Yogyakarta sebagai kota festival yang berkelanjutan dan berdaya saing global. (Niken/Irma Khairunnisa/Antok Wesman-Impessa.id)
