Ekonomi-Bisnis

Sebanyak 50 IKM Logam Di DIY-Jateng, Ikuti Temu Bisnis Dengan Industri Besar, Di Yogyakarta.

Sebanyak 50 IKM Logam Di DIY-Jateng, Ikuti Temu Bisnis Dengan Industri Besar, Di Yogyakarta.

Sebanyak 50 IKM Logam Di DIY-Jateng, Ikuti Temu Bisnis Dengan Industri Besar, Di Yogyakarta.

Impessa.id, Yogyakarta : Direktur Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika dan Alat Angkut -IKM LMEA,  Kementerian Perindustrian, Endang Suwartini, Jum’at pagi (1/11/19) bertempat di Hotel Crystal Lotus Jalan Magelang Yogyakarta, secara resmi membuka “Temu Bisnis IKM Logam Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, dengan Industri Besar”, disaksikan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, serta perwakilan dari Disperin Kota Semarang, Disperindakop Kabupaten Banyumas dan Disnakerperin Kota Surakarta.

Melalui Temu Bisnis tersebut, Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka –IKMA, berupaya mengembangkan kapasitas bisnis dan memperluas akses pasar bagi Industri Kecil dan Menengah. Temu Bisnis IKM Logam DIY dan Jawa Tengah dengan industri besar itu dapat dijadikan salah satu solusi, guna menekan jumlah produk impor alat rumah tangga, mesin Teknologi Tepat Guna –TTG, serta komponen alat kesehatan, komponen elektronika dan alat listrik rumah tangga yang berbahan dasar logam.

Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika dan Alat Angkut, Endang Suwartini, mengungkapkan “Temu Bisnis ini merupakan langkah nyata dari Ditjen IKMA untuk membuka jaringan dan kerja sama antara IKM dan industri besar di DIY dan Jawa Tengah. Melalui Temu Bisnis ini diharapkan terjalin kesepakatan kedua belah pihak pelaku usaha, membuka jaringan bisnis baru, dan saling bersinergi,” tuturnya.

“Sentra IKM Logam di DIY dan Jawa Tengah, merupakan sentra IKM Logam yang diunggulkan untuk dapat bekerja sama, untuk menjadi bagian dari rantai pasok industri besar” jelas Endang dalam pembukaan kegiatan tersebut. Temu Bisnis diikuti oleh 50 IKM Logam yang berasal dari Provinsi DIY, Kota Semarang, Kabupaten Banyumas, dan Kota Surakarta. Sedangkan industri besar yang berpartisipasi yaitu GABEL -Gabungan  Industri Elektronika dan Alat- Alat Listrik Rumah Tangga, PT. Mega Andalan Kalasan, PT. Yogya Presisi Teknikatama Industri, PT. Sarandi Karya Nugraha, dan ruparupa.com.

Berbagai kegiatan pembinaan IKM telah dilakukan oleh Ditjen IKMA, mulai dari pembinaan Sumber Daya Manusia, Teknis Produksi, Peningkatan Teknologi, Promosi dan Pemasaran. Dalam hal pemasaran, Ditjen IKM terus mendorong IKM Logam untuk dapat memasarkan produknya ke industri besar dan pasar internasional.

Direktur IKM LMEA optimis dengan adanya kolaborasi berbagai pihak dan tentunya kerja sama antara IKM dan Industri besar yang saling bahu- membahu, dapat memajukan industri logam dalam negeri, demi kemandirian industri nasional yang dicita-citakan. “IKM Logam mampu berinovasi dan melakukan pengembangan produk yang selama ini dipenuhi oleh pasar impor,” tambahnya.

Pada akhir sambutannya, Endang menyampaikan "Kami akan terus mendorong terjalinnya kerja sama IKM Logam bersama Industri Besar dengan harapan dapat membawa kemajuan bagi perkembangan IKM Logam, khususnya dalam hal kemitraan yang saling menguntungkan antara IKM Logam dengan Industri Besar menuju industri dalam negeri yang kuat dan berdaya saing."

Ketika dikonfirmasi Impessa.id usai pembukaan, Direktur IKM LMEA, Endang Suwartini mengakui beratnya tantangan yang dihadapi dilapangan. “Yang paling susah adalah merubah budaya kerja masyarakat, dari yang se-enaknya sendiri menjadi disiplin dan tertib aturan itu perlu proses lama, semisal karena terbiasa bekerja memakai sandal ketika dianjurkan pakai sepatu demi keselamatan saat bekerja, ya saat awal-awal saja menurut, namun setelah tidak diawasi, mereka kembali bekerja memakai sandal lagi,” ungkap Endang Suwartini. (Antok Wesman-Impessa.id)