Perayaan Budaya Gagrak Jogja RUMAKET 2026 HAGEGANTI, Di Taman Pintar Yogyakarta, 4-10 Oktober 2026
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Sabtu, 3 Oktober 2026: Selama sepekan, mulai Minggu hingga Sabtu, 4-10 Oktober 2026, bertempat di Taman Pintar Yogyakarta, warga Kota Yogyakarta maupun masyarakat umum, mendapatkan sajian istimewa yakni, RUMAKET 2026 “Hageganti”, perjumpaan masyarakat dengan beragam warisan budaya melalui pameran, pertunjukan, talkshow, aktivitas anak, workshop, kuliner, hingga berbagai kegiatan edukatif dan partisipatif.
Hal itu terungkap dalam Jumpa Press yang berlangsung Sabtu sore (3/10/2026) di Taman Pintar Yogyakarta, bersama narasumber Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti S,Sos MM, Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia -PEPADI Kota Yogyakarta, Faizal Noor SInggih selaku tim kreatif, dan Fajar Wijanarko selaku Kurator Pameran. Acara diawali dengan doa memohon kesuksesan dilanjutkan dengan potong tumpeng sebagai tanda syukur kehadapan Illahi.


Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta bekerjasama dengan PEPADI Kota Yogyakarta menilai bahwa Kebudayaan tidak cukup hanya disimpan sebagai peninggalan masa lalu. Ia perlu terus dipertemukan dengan masyarakat, mengalami perjumpaan dengan generasi baru, serta diberi ruang untuk berkembang mengikuti perubahan zaman. Semangat tersebut menjadi napas penyelenggaraan Ruang Masyarakat Ketemu (RUMAKET) 2026 “Hageganti”, yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-6, yang mengajak masyarakat melihat warisan budaya sebagai sesuatu yang dapat mengalami perubahan bentuk dan cara penyampaian, tanpa kehilangan nilai dan jati dirinya.
Tema tersebut salah satunya tercermin melalui fokus utama “Hageganti: Transformasi Wayang Jogja”. Wayang ditempatkan bukan hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai ruang untuk membaca kembali nilai, cerita, simbol, dan pengetahuan budaya dalam konteks kehidupan masyarakat hari ini.


Dari Wayang hingga Dolanan Anak
Pembukaan RUMAKET pada Minggu, 4 Oktober, diawali dengan pertunjukan kolaborasi “Wayang Playground: Menyusun Puzzle Menuju Alengka” yang melibatkan sekitar 50 anak-anak, peserta pelatihan dalang dan PEPADI Kota Yogyakarta. Pertunjukan ini menjadi salah satu bentuk pendekatan baru dalam mengenalkan wayang kepada anak-anak melalui pengalaman bermain dan pertunjukan.
Konsep tersebut sejalan dengan gagasan bahwa pengenalan tradisi kepada generasi muda tidak harus dilakukan dengan menjauhkan tradisi dari dunia mereka. Melalui permainan puzzle dan wayang, anak-anak dapat diperkenalkan pada nilai kerja sama, keberanian, persahabatan, perbedaan, dan memaafkan.
Selain pertunjukan, pembukaan RUMAKET juga ditandai dengan peluncuran buku “Panggung Publik: Wayang, Simbol, dan Budaya Urban”, seremoni pembukaan, serta tinjauan pameran “Hageganti: Transformasi Wayang Jogja” bersama kurator. Selama penyelenggaraan, masyarakat dapat menikmati pameran dan bazar kuliner setiap hari. Rangkaian program juga diisi dengan pertunjukan tari Warisan Budaya Takbenda, pemutaran film animasi wayang, aktivasi dolanan anak, sinau dolanan, serta berbagai talkshow kebudayaan.

Kebudayaan sebagai Pengetahuan yang Terus Hidup
RUMAKET 2026 juga menghadirkan sejumlah talkshow untuk membuka percakapan mengenai berbagai aspek kebudayaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pada Senin, 5 Oktober, misalnya, hadir talkshow bertajuk “Bahu Dhanyang: Detail Arsitektur yang Menjadi Identitas Rumah Khas Yogyakarta”. Sementara pada Selasa, 6 Oktober, masyarakat diajak membicarakan dolanan anak melalui tema “Dolanan Anak: Bermain, Belajar, dan Mengenal Budaya”, yang dilanjutkan dengan sesi Sinau Dolanan Anak.
Rangkaian berikutnya menghadirkan percakapan tentang “Merawat Sanggul Gelung Ukel Tekuk”, serta Live Cooking & Cultural Dialogue “Kicak: Dari Warisan Rasa Menuju Kreativitas Ekonomi”. Program tersebut memperlihatkan bahwa warisan budaya dapat hadir melalui pengetahuan tata rias sekaligus kuliner yang berkembang menjadi bagian dari kreativitas dan kehidupan ekonomi masyarakat.
Pada hari berikutnya, RUMAKET mengangkat tema “Membaca Mitos: Antara Tradisi Lisan, Ingatan, dan Pengetahuan Budaya”, serta pembahasan mengenai warisan budaya, kekayaan intelektual, dan pelindungan budaya. Kehadiran topik tersebut menunjukkan perhatian RUMAKET terhadap keberlanjutan budaya sekaligus tantangan pemanfaatan ekspresi budaya di tengah perkembangan teknologi dan ruang digital.

Mengajak Anak Mengalami Budaya
Salah satu kekuatan RUMAKET “Hageganti” adalah upaya menghadirkan kebudayaan dalam pengalaman yang dekat dengan anak-anak. Melalui program RUMAKET Bercerita “Srikandi Hari Ini”, tokoh wayang Srikandi dikenalkan melalui storytelling yang interaktif. Anak-anak tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi diajak berdialog, berimajinasi, serta menghubungkan nilai keberanian, ketekunan, proses belajar, dan keberanian mengambil peran dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Pendekatan tersebut menempatkan wayang bukan semata sebagai cerita masa lalu, melainkan sebagai sumber nilai yang masih dapat dibicarakan dan dimaknai dalam kehidupan masyarakat hari ini.
Semangat serupa juga hadir dalam program dolanan anak. RUMAKET berupaya menciptakan ruang agar anak-anak dapat mengenal budaya melalui pengalaman langsung—bermain, mendengar cerita, mencoba, bertanya, dan berinteraksi.
Bagi RUMAKET, proses tersebut penting karena pewarisan budaya tidak cukup hanya melalui penyampaian pengetahuan dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya. Dibutuhkan ruang perjumpaan agar masyarakat dapat memahami nilai, makna, dan konteks yang terkandung dalam warisan budaya.

Merawat Warisan dari Hal-Hal Sederhana
RUMAKET juga mengajak masyarakat melihat bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari praktik sehari-hari. Melalui workshop “Merawat Kain Batik, Menjaga Warisan”, masyarakat diajak memahami batik bukan hanya sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai pengetahuan dan keterampilan yang perlu dirawat. Peserta akan memperoleh pengetahuan mengenai cara memperlakukan, membersihkan, mengeringkan, menyimpan, dan memelihara kain batik agar dapat digunakan dan diwariskan secara berkelanjutan.
Dengan demikian, pelestarian tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Merawat selembar kain, mengenalkan permainan tradisional kepada anak, mendengarkan cerita, mencicipi kuliner tradisional, hingga memahami hak atas karya budaya merupakan bagian dari proses menjaga keberlanjutan kebudayaan.
Menjelang akhir rangkaian, RUMAKET menghadirkan talkshow “Menemukan Indonesia dalam Warisan Budaya Yogyakarta”. Program ini menempatkan warisan budaya Yogyakarta dalam konteks yang lebih luas sebagai bagian dari kekayaan dan keberagaman kebudayaan Indonesia. Melalui forum tersebut, masyarakat diajak melihat bahwa warisan budaya Yogyakarta tidak berdiri sendiri. Di dalamnya terdapat nilai, identitas, pengetahuan, tradisi, serta pengalaman masyarakat yang menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan Indonesia.
Rangkaian RUMAKET kemudian ditutup dengan closing pameran, hasil kuratorial, serta pertunjukan Jathilan Klasik Satrio Mudho Budoyo pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Dari “Ruang” Menjadi “Pengalaman”
Nama RUMAKET -Ruang Masyarakat Ketemu, menjadi semakin relevan dalam penyelenggaraan tahun keenam ini. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari proses kebudayaan itu sendiri. RUMAKET 2026 “Hageganti” lebih dari sekadar agenda pertunjukan kebudayaan. Ia menjadi ruang untuk mempertemukan warisan dengan kehidupan hari ini, mempertemukan tradisi dengan kreativitas, generasi tua dengan generasi muda, pengetahuan dengan pengalaman, serta masa lalu dengan masa depan.
Sebab, melestarikan budaya bukan berarti membuat budaya berhenti. Melestarikan berarti memastikan budaya tetap mempunyai ruang untuk hidup, berkembang, dan diwariskan. Melalui penyelenggaraan tahun keenam ini, RUMAKET “Hageganti” mengajak masyarakat Yogyakarta untuk tidak hanya mengenal warisan budaya sebagai cerita tentang masa lalu, tetapi mengalaminya sebagai bagian dari kehidupan hari ini, dan bersama-sama memberi ruang agar budaya terus tumbuh menuju masa depan. (Ismawati-PemKot Yogyakarta/Antok Wesman-Impessa.id)

