Feature

Pascasarjana ISI Yogyakarta Gelar The-14th International Conference for Asia Pacific Art Studies -ICAPAS 2026

Pascasarjana ISI Yogyakarta Gelar The-14th International Conference for Asia Pacific Art Studies -ICAPAS 2026

Pascasarjana ISI Yogyakarta Gelar The-14th International Conference for Asia Pacific Art Studies -ICAPAS 2026

ICAPAS 2026 Perkuat Peran Riset Artistik untuk Menjawab Tantangan Masa Depan

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, 1 Oktober 2026: Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menyelenggarakan The-14th International Conference for Asia Pacific Art Studies (ICAPAS) 2026, pada 30 September–1 Oktober 2026 di Kampus Pascasarjana ISI Jalan Suryodiningratan Yogyakarta.

Mengusung tema “Resonance and Relevance: Artistic Research for Human and Planetary Futures”, konferensi internasional ini mempertemukan akademisi, peneliti, seniman, pendidik, dan praktisi dari Indonesia maupun berbagai negara untuk membahas perkembangan riset artistik serta relevansinya terhadap persoalan manusia dan lingkungan. Profesor Annette Geiger (HFK Bremen) dan Profesor Dwi Marianto (ISI Yogyakarta) menjadi invited speaker di hari pertama dan untuk rangkaian hari kedua menampilkan Gede Robi (musikus) dan Danai Reabsakul (Thailand).

Panitia dan Nara sumber M. Dwi Marianto dan Annette Geiger (ketiga dan kedua dari kanan) pada Day 01 ICAPAS 2026

ICAPAS 2026 dibuka oleh Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, M.Sn., yang menegaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini semakin memperkuat kerja sama internasional antara ISI Yogyakarta dan Hochschule für Künste Bremen (HfK Bremen), Jerman, yang menjadi salah satu mitra akademik dalam penyelenggaraan konferensi.

Chair of the Organizing Committee ICAPAS 2026, Octavianus Cahyono Priyanto, PhD menempatkan konferensi tersebut sebagai ruang untuk mempertemukan berbagai pendekatan dalam riset artistik. Melalui ICAPAS 2026.

Nara sumber di hari 2 yaitu I Gede Robi dan Danai Reabsakul (ke-4 dan ke-5 dari kiri) bersama panitia dan moderator Yayu Rubiyanti (ke-5 dari kiri).

“Riset artistik dapat membuka ruang bagi pertanyaan-pertanyaan mengenai pengalaman manusia, transformasi sosial, memori budaya, perkembangan teknologi, persoalan ekologis, dan masa depan planet yang tidak selalu dapat dijawab melalui bentuk-bentuk penelitian akademik konvensional,” tutur Oce, sapaan akrabnya.

Dikatakan, tema “Resonance and Relevance” mengajak peserta untuk melihat kembali apa yang terus memiliki resonansi dalam pengalaman budaya dan artistik, sekaligus mempertanyakan relevansinya terhadap kondisi masa kini dan ketidakpastian masa depan.

Kegiatan Workshop oleh Mess Studio dalam rangkaian ICAPAS 2026

“Perspektif tersebut tercermin dalam beragam kontribusi yang membahas antara lain memori dan warisan budaya, praktik digital dan virtual, teknologi dan kecerdasan artifisial, metodologi artistik, identitas, materialitas, ekologi, serta transformasi social,” jelas Oce.

ICAPAS 2026 menghadirkan pembicara dan peserta dari berbagai latar belakang akademik dan artistik, termasuk Indonesia, Singapura, Thailand, Jerman, dan sejumlah konteks internasional lainnya. Keberagaman tersebut memperluas dialog mengenai bagaimana seni dan riset artistik dapat berkontribusi terhadap perkembangan pengetahuan sekaligus merespons perubahan sosial, teknologi, budaya, dan lingkungan.

Dalam kesempatan itu, Direktur Pascasarjana ISI Yogyakarta, Dr. Fortunata Tyasrinestu, S.S., M.Si. menjelaskan bahwa penyelenggaraan ICAPAS bukan sekadar forum untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga menjadi ruang dialog yang mempertemukan pengalaman dan perspektif dari berbagai konteks.

“ICAPAS 2026 diharapkan dapat memperkuat jejaring internasional sekaligus membuka kemungkinan kolaborasi baru dalam bidang pendidikan seni, penelitian, dan praktik artistic,” ujar Dr Fortunata Tyasrinest.

Memasuki penyelenggaraannya yang ke-14, ICAPAS terus dikembangkan sebagai forum internasional yang mempertemukan keberagaman praktik dan pemikiran artistik. Melalui tema “Artistic Research for Human and Planetary Futures”, konferensi tahun ini diharapkan menghasilkan gagasan yang tidak berhenti di ruang konferensi, tetapi dapat terus beresonansi dan relevan bagi perkembangan riset artistik, pendidikan seni, kebudayaan, serta masa depan manusia dan planet.

Berikut nama-nama peserta beserta karya maupun topik yang diusungnya, baik dalam konferensi di Concert Hall RAJ Soedjasman selama dua hari berturut-turut, maupun di Galeri Seni Prof But Muchtar, keduanya di kampus Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta;

Annette Geiger mempresentasikan: Thinking Artistic Research: Towards an Expanded Notion of Art and Design.

Dwi Marianto menyajikan: Unveiling the Hidden Meanings and Virtual Potentials of the Pucung Tree Through the Allure of Its Seeds.

Mandella Majid Pracihara and Yusmita Akhirul Latif mengangkat: Naturalistic Cinematographic Lighting as a Medium of Cultural Memory: An Artistic Framework for Representing Maghrib in Indonesian Horror Cinema.

Pelaksanaan Workshop oleh Janina dari HfK Bremen

Embran Nawawi dengan UNSEEN BATIK: Resonance Beyond Vision—An Artistic Research on Inclusive Batik Creation with Visually Impaired Participants.

Rufus Goang Swaradesy, Mudhia Violetta, Isnan Rojibillah and Nanda Sundari menampilkan: Stones, Myths, and Acculturation: Exploring the History of Sunyaragi Cave as a Meeting Place for Chinese, Islamic, Hindu, and Javanese Cultures.

Octalyna Puspa Wardany memresentasikan: Three Stove System as the Social Order in the Boti Indigenous Community.

Tri Wahyudi menampilkan: Gunungan in the Land of Exile: The Transformation of Javanese Cosmological Symbolism in Soeki Irodikromo’s Monumental Works in Suriname.

Presentasi workshop di Galeri

Jürgen Berderow menghadirkan: Picturing Architecture in Sub-Saharan Africa: Exploring Photography as a Decolonial Medium in Artistic Research.

Ajeng Tita Negoro dan Nurhadi menampilkan: From Regional Culture to Character Design: Exploring Approaches to Cultural Representation in Indonesian Characters.

Nova Ridho Sisprasojo, Prayanto Widyo Harsanto dan St. Sunardi menghadirkan: Mapping Gresik’s Urban Visual Field: Visual Artifacts, Spatial Communication, and Emerging Actor Positions.

Gomesh Karnchanapayap and Debbi Saccomanno Chan mempresentasikan: Reimagining the Frontiers of Thai Cultural Transmission as Virtual Reality Art.

Jessica Bothma dengan: The Seriousness of Silliness: Humour, Irony and Sculpture.

Hardiansyah Ay dengan: Sensation as Virtual Score: A Study in Gayo Traditional Musical

Performance Suvi Wahyudianto Melancholia and Post memory: Artistic Practice as a Space for Reconciliation.

Taufik Ivan Irwansyah Hidayatulloh menyajikan: A Performative Experimentation -Methodological Possibilities and Knowledge of Walking.

I Gede Robi Supriyanto menampilkan: Title TBA.

Danai Reabsakul mempresentasikan: Development of Textiles from Waste Materials from the Indigo Production Process.

Verdiana Albano dengan: Parergonal Relations in Photography.

Harly Yoga Pradana dan Arjuna Sang Dawai Sahasika mempresentasikan: Examining the Potential of Dynamic Notation in Comprovisation Practice Through Deleuze and Guattari's Rhizome Concept.

Janina Ebner menampilkan: Soil as a Living Being? Kiki Rahmatika Inertia: Resonance of Performer Body to the Audience Body.

Malte Sonnenschein and Lucas Schmidt mempresentasikan: Mapping Perception: Critical Mapping as an Epistemic Design Research Method.

Gabriella Gonçalles dengan: Inquiry as a Craft: The Role of Hand Drawing in Design Practice.

Ayse Ates menyajikan: Minor Rehearsals of Inherited Taste: Artistic Research through Memory, Archival Absence, and Embodied Transmission.

Suasana ICAPAS di Ruang Paralel

Suasana ICAPAS di Concert Hall

Kepada Impessa.id, mas Oce menuturkan bahwa kali ini ada 10 delegasi Bremen, terdiri dari delapan mahasiswa dan dua dosen, plus satu karena ada yang membawa anak, yang berkunjung ke Jogja selama 16 hari, untuk mengenal budaya dan kesenian Jogja, sekaligus bergabung dengan ICAPAS 2026 yang berakhir Kamis (1/10/2026)  Adapun pameran enam kelompok karya yang digelar di Galeri Seni Prof But Muchtar, hingga Minggu (4/10/2026), merupakan hasil workshop selama enam hari. (Aadya-ISI Yogyakarta/Antok Wesman-Impessa.id)