Event

Yayasan Biennale Yogyakarta Gelar SIMPOSIUM KHATULISTIWA 2026 Di IFI Yogyakarta, Rabu, 23 September 2026

Yayasan Biennale Yogyakarta Gelar SIMPOSIUM KHATULISTIWA 2026 Di IFI Yogyakarta, Rabu, 23 September 2026

Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta Alia Swastika saat membuka SIMPOSIUM KHATULISTIWA 2026 Di IFI Yogyakarta, Rabu, 23 September 2026

“Niti Rumat: Curatorial Practice and Questions of Urgencies”

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, September 2026: Yayasan Biennale Yogyakarta menyelenggarakan Simposium Khatulistiwa 2026 dengan mengangkat tema “Niti Rumat: Curatorial Practice and Questions of Urgencies” pada Rabu, 23 September 2026, pukul 9.00-16.30 WIB di IFI Jalan Sagan No.3, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Simposium Khatulistiwa 2026 ini secara khusus mengajak publik untuk merefleksikan, kerja-kerja kuratorial di tengah situasi sosial-politik yang terus berubah.

Untuk Sesi I pada pukul: 09.40-10.45 WIB, berjudul “Merawat Pengetahuan: Kuratorial sebagai Politik Pengetahuan” bersama narasumber Asmudjo Jono Irianto dengan moderator Khoirul Anam.

Untuk Sesi II pada pukul: 10.55-12.00 WIB, berjudul “Merawat Memori” bersama narasumber:Putra Hidayatullah dengan moderator:Arami Kasih.

Untuk Sesi III pada pukul 12.45-13.35 WIB, berjudul “Merawat Ruang: Akal Tak Sekali Datang, Runding Tak Sekali Tiba” bersama narasumber: Grace Samboh dengan Moderator: Rifki AP.

Untuk Sesi IV pada pukul 13.35-14.55 WIB berjudul “Cultivating Media Ecology: Curatorial Practices in Digital Ecology” bersama narasumber Jeong Ok Jeon, dengan moderator: Kim Min Seok.

Serta Sesi V pada pukul: 15.10-16.20 WIB, berjudul “Merawat Proses Belajar: Learning and Unlearning” bersama narasumber Hilmi Rayhan, Pujo Nugroho, Adam Sudewo, dengan moderator Ladija Triana Dewi.

Berikut resume yang menanyakan bagaimana kerja kurator(ial) dimaknai hari ini?

Dalam dua dasawarsa terakhir, praktik kuratorial mengalami berbagai pergeseran, baik dalam metode kerja maupun dalam relasinya dengan kuasa pengetahuan, pasar, modal, gender, serta berbagai kepentingan yang membentuk lanskap seni di Indonesi hari ini. Perubahan ekosistem seni, perkembangan geopolitik, dan berbagai bentuk perlawanan terhadap struktur yang mapan turut menempatkan praktik kuratorial sebagai sesuatu yang terus ditinjau, diperdebatkan, dan digugat agar tetap relevan dengan konteks zamannya.

Dalam konteks Indonesia, praktik kuratorial tidak selalu berlangsung dalam institusi yang mapan maupun di bawah logika pasar seni yang besar. Praktik kuratorial kerap tumbuh di ruang antara, tempat berbagai kepentingan, pengetahuan, ideologi, dan pengalaman saling bertemu serta bernegosiasi. Dalam ekologi yang cair ini, setiap kurator mengembangkan pendekatan, metode, dan posisi etiknya masing-masing.

Berangkat dari situasi tersebut, Niti Rumat diajukan sebagai proposisi untuk membaca kembali praktik kuratorial yang berpijak pada etik perawatan sebagai strategi politik dan epistemik. Niti berarti menata atau menggambar peta, sementara rumat menunjuk pada laku memelihara dengan cermat. Keduanya dipadukan untuk melihat praktik kuratorial sebagai kerja yang menata sekaligus merawat: menata ulang arsip dan sejarah yang terpinggirkan, sembari merawat relasi, medium, pengetahuan, dan berbagai kemungkinan yang memungkinkan ekosistem seni terus hidup melampaui ruang pamer.

Melalui Simposium Khatulistiwa 2026, gagasan tersebut dibaca melalui praktik para kurator dari berbagai generasi, pendekatan, perspektif, dan lintasan kerja. Simposium ini tidak dimaksudkan untuk merumuskan satu definisi mengenai kuratorial, melainkan membuka ruang refleksi bersama untuk saling belajar (learning) dan meninjau ulang (unlearning) berbagai metode, asumsi, serta historiografi kanon yang selama ini membentuk praktik kuratorial di Indonesia.

Rangkaian simposium menghadirkan sejumlah sesi yang membaca praktik kuratorial dari beragam pintu masuk, mulai dari epistemologi kuratorial, riset dan penulisan ulang sejarah, partisipasi dan mediasi pengetahuan, proses belajar dan unlearning generasi baru, perubahan ekologi media digital, hingga politik pengetahuan dalam diskursus kuratorial. Setiap sesi menghadirkan satu atau beberapa narasumber untuk memberikan lintasan praktik, metode kerja, dan refleksi mereka, yang kemudian dilanjutkan dengan dialog bersama peserta.

Simposium Khatulistiwa 2026 ditujukan bagi kurator, penulis, peneliti seni, seniman dan pekerja seni lintas disiplin, mahasiswa, dosen dan akademisi, pengelola museum dan lembaga kebudayaan, pengelola arsip dan pegiat literasi, komunitas seni dan budaya, serta masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap praktik kuratorial. Forum ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan lintas disiplin, lintas generasi, dan lintas pengalaman untuk memperluas pertukaran pengetahuan serta membangun jejaring praktik yang berkelanjutan.

Melalui perjumpaan ini, Simposium Khatulistiwa 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi berkembang sebagai ruang belajar bersama yang mempertemukan praktik, riset, kritik, dan pengalaman lintas generasi. Dari sana, simposium membuka kemungkinan bagi pengembangan diskursus, perluasan jejaring, dan keberlanjutan praktik kuratorial dalam ekosistem seni Indonesia.

Simposium Khatulistiwa menjadi ruang refleksi atas kerja-kerja Biennale Jogja seri khatulistiwa putaran satu selama (2011 - 2021) dan dapat menjadi ruang penghubung wacana antara Seri Equator I dan Equator II. BJE Il bekerja dengan tema Translokal dan trans-historisitas dengan ruang fisik dan lanskap sosial desa yang akan dilaksanakan 2023-2027. Sebagai ruang pertemuan gagasan dan pemikiran, Simposium Khatulistiwa berupaya untuk mempertahankan ruang inklusi sehingga tidak menjadi Menara gading dalam kehidupan sosial. Simposium Khatulistiwa penting untuk mempertemukan wacana arus utama dari perspektif akademisi dengan wacana yang dinarasikan dari hasil dari kerja aktivisme dan kreatif. Produksi pengetahuan dari dua wilayah kerja yang berbeda bisa saling memperkaya perspektif, menghasilkan pembacaan yang lebih beragam serta membuka peluang kolaborasi untuk menghadapi tantangan di masa depan. (Tim Humas Biennale 2026/Antok Wesman-Impessa.id)