Sastra Sebagai Laku Akademik Dan Laku Hidup, Warnai Malam Pertama Festival Sastra Yogyakarta 2026
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Agustus 2026: Malam pertama Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 diwarnai Orasi Budaya bertajuk "Sastra sebagai Laku Akademik dan Laku Hidup" yang disampaikan Prof. Dr. Faruk, S.U. di Panggung Teras Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, Minggu malam (23/8). Orasi tersebut mengajak publik melihat sastra tidak hanya sebagai karya atau objek kajian akademik, tetapi juga sebagai laku untuk memahami kehidupan dan membentuk diri.
Malam pertama FSY 2026 turut dihadiri para kurator dan juri Sayembara Puisi FSY 2026, pengurus IKAPI DIY, komunitas sastra dan aksara se-DIY dan Jawa Tengah, serta ratusan sastrawan, budayawan, dan pelaku seni.

Dalam orasinya, Prof. Faruk menjelaskan, laku merupakan proses latihan dan pembentukan diri yang berlangsung terus-menerus. Dalam konteks akademik, laku berarti melatih kemampuan untuk melihat dan memahami dunia secara lebih jernih, sekaligus menjaga diri dari bias, prasangka, dan subjektivitas.
Menurut dia, laku akademik tidak berarti menjauh dari kehidupan. Sebaliknya, seseorang perlu terlibat dalam kehidupan sekaligus mampu mengambil jarak untuk melakukan refleksi.
Laku tersebut, lanjut Prof. Faruk, juga dapat ditemukan dalam pengalaman membaca sastra. Karya sastra menghadirkan dunia, bahasa, imajinasi, dan sudut pandang yang mungkin berbeda dari pengalaman pembacanya. Dengan membaca, seseorang dilatih untuk memasuki dunia yang asing dan memahami pengalaman orang lain.

"Jadi membaca sastra artinya memasuki dunia lain. Membiasakan diri untuk hidup di dalam dunia yang asing bagi kita. Nah, di situlah sastra menjadi laku akademik sekaligus," ujar Prof. Faruk.
Dengan demikian, sastra tidak hanya menjadi bagian dari laku akademik karena dipelajari, tetapi juga menjadi laku hidup. Membaca sastra menjadi latihan untuk keluar dari kebiasaan melihat dunia hanya dari perspektif diri sendiri dan belajar menerima perbedaan.
Malam pertama FSY 2026 juga dimeriahkan penampilan para pemenang Kompetisi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta 2026.

Aisya Syafazea Almahyra, Juara 1 Maca Cerkak SD, membawakan cerkak berjudul "Wedhus Kendhit". Sementara Revanessa Adhilla Sekarnitya, Juara 1 Macapat SD, menampilkan Gambuh Pemut Laras Slendro Pathet 9 dan Maskumambang Rujit Laras Pelog Pathet 6.
Penampilan talenta muda tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan sastra dan tradisi bahasa daerah kepada publik melalui panggung festival. Karya sastra tidak hanya dibaca sebagai teks, tetapi juga dihidupkan melalui suara, tembang, dan penampilan.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta Yetti Martanti dan kurator FSY 2026 Fairuzul Mumtaz.

Yetti membacakan puisi "Tabuh Keraton" karya Badrul Munir Chair, Juara 2 Sayembara Puisi FSY 2025. Sementara Fairuzul Mumtaz membacakan puisi "Calon Arang" karya Raudal Tanjung Banua.
Dalam kesempatan tersebut, Yetti juga menyampaikan sambutan pembukaan FSY 2026. Ia mengatakan, festival merupakan ruang perjumpaan yang mempertemukan manusia dengan manusia, kata dengan kata, serta gagasan dengan gagasan.
"Di situlah kebudayaan bekerja," kata Yetti.
Menurut Yetti, FSY 2026 berlangsung pada 23-30 Agustus 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan dengan berbagai program, antara lain Pasar Buku Sastra, diskusi, pameran, lokakarya penulisan, Poetry Jam, Open Stage Sastra, seminar, Orasi Budaya, dan pertunjukan.
Ia mengatakan, berbagai program tersebut dirancang untuk membawa sastra keluar dari halaman buku dan hadir di tengah kehidupan masyarakat.
Yetti mengatakan, tema "LAKU" dipilih untuk mengingatkan bahwa kebudayaan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi perlu dijalankan dan dirawat melalui tindakan sehari-hari. Hal yang sama berlaku bagi sastra.
"LAKU mengingatkan kita bahwa kebudayaan hidup ketika dijalankan. Begitu pula sastra. Ia hidup dalam kata yang ditulis, dibaca, dan diwariskan," ujar Yetti.

Menurut dia, membaca dapat menjadi cara untuk memahami, menulis menjadi cara untuk menyuarakan gagasan, sedangkan dialog menjadi cara untuk mempertemukan perbedaan.
FSY 2026, lanjut Yetti, juga menjadi ruang kolaborasi berbagai pihak. Festival tersebut melibatkan IKAPI DIY, Suku Sastra, Jawacana, Balai Bahasa DIY, akademisi, komunitas aksara Jawa, sastrawan, budayawan, penerbit, dan berbagai pelaku ekosistem sastra.
"Festival ini tidak pernah selesai ketika panggung ditutup. Keberhasilannya justru terlihat dari apa yang tumbuh setelahnya," katanya.
Menurut Yetti, keberhasilan festival dapat dilihat dari lahirnya pembaca baru, tumbuhnya penulis, komunitas yang menemukan ruang baru, serta gagasan yang terus bergerak setelah festival berakhir.
"Jika jawabannya ya, sekecil apa pun, festival ini telah memberi arti," ujar Yetti.
Ia berharap FSY 2026 menjadi ruang yang memungkinkan setiap kata menemukan pembacanya, setiap perjumpaan membuka jalan, dan setiap langkah menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan Yogyakarta dan Indonesia.
Malam pertama FSY 2026 ditutup dengan pertunjukan musik oleh Alur Maju. Rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana terbuka di Panggung Teras Grha Budaya yang menjadi ruang pertemuan komunitas, penonton, dan pengunjung festival. (Ismawati-FSY/Antok Wesman-Impessa.id)

