Event

LEBARAN SKENA CHERRYPOP Di Lapangan Kawasan Wisata Candi Prambanan Yogyakarta, 22-23 Agustus 2026

LEBARAN SKENA CHERRYPOP Di Lapangan Kawasan Wisata Candi Prambanan Yogyakarta, 22-23 Agustus 2026

LEBARAN SKENA CHERRYPOP Di Lapangan Kawasan Wisata Candi Prambanan Yogyakarta, 22-23 Agustus 2026

Lima Tahun Menanam Peristiwa, Hikayat CHERRYPOP 2022-2026

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Agustus 2026: Lebaran Skena CHERRYPOP, lima tahun setelah gaung pertama dibunyikan di Alpha Bravo Jalan Parangtritis-Bantul, Cherrypop tiba di kaki Candi Prambanan dan dipersembahkan oleh Bank BRI, perhelatan kelimanya diselenggarakan pada 22 dan 23 Agustus 2026 dengan tema “Repelita Musik”, kependekan dari Rekreasi, Peristiwa, Lima Tahun Musik.

Hal itu terungkap dalam Press Conference bertempat di Barley n Barrel Café, pada Jum’at (7/8/2026), bersama Arsita Pinandita, inisiator Cherrypop, Sidha dari Skandal Rock Band Yogyakarta, Andry ‘Boy’ Kurniawan, visual kreator Repelita Musik, dan Sofi perwakilan dari Cherrypop.

Dita, sapaan akrab dari Arsita Pinandita, menuturkan bahwa istilah “Repelita” membawa gema masa lalu, ketika pembangunan disusun dalam rencana lima tahunan dan masa depan dipercaya dapat ditata melalui tabel, angka, serta pidato panjang. Cherrypop meminjam bunyinya untuk menyusun rencana lain: mengingat manusia, perjumpaan, dan pengalaman yang tumbuh selama lima tahun festival.

“Sejak Cherrypop 1 -Panic Room, Cherrypop 2 -Swasembada Musik, Cherrypop 3 -Selamet Bermusik, hingga Cherrypop 4 -Gelanggang Musik, Cherrypop konsisten membaca sejarah sosial-politik melalui kebudayaan populer. Kata-kata besar diturunkan dari mimbar, dibawa ke lapangan, lalu dipertemukan dengan orang-orang yang menonton konser sambil duduk di rumput. Di tangan Cherrypop, sejarah tak hanya tersimpan dalam buku pelajaran. Ia dapat berbunyi melalui gitar yang sumbang, poster yang ditempel miring, kaset yang kusut, dan ribuan pasang kaki yang berderap menuju panggung,” ungkap Dita.

Dijelaskan, Rekreasi, sebab festival seharusnya terasa seperti liburan. Orang perlu berhenti sejenak dari rutinitas yang makin gaduh, duduk di rerumputan, berjalan tanpa tergesa, dan mendengarkan musik tanpa merasa sedang mengejar sesuatu. Perpindahan ke kawasan Prambanan menjadi usaha memberi ruang yang lebih lapang bagi pengalaman tersebut. Orang boleh datang untuk band kesukaannya, lalu tersesat menuju pertunjukan yang tak dikenalnya dan pulang membawa kesukaan baru.

Peristiwa, sebab Cherrypop selalu menghendaki dirinya sebagai titik temu. Di sana, subkultur, komunitas, musisi, perupa, sineas, pedagang rilisan, pembuat kaus, penulis, pengarsip, keluarga, dan masyarakat umum saling berpapasan. Musik hanyalah alasan pertama untuk datang. Setelah itu, segala kemungkinan dapat terjadi: kawan lama ditemukan, kerja sama dimulai, pertengkaran diselesaikan, band dibentuk, gagasan dicatat di belakang tiket, atau cinta tumbuh di dekat penjual makanan dan minuman.

Lima Tahun, sebab usia itu cukup panjang untuk menoleh tanpa kehilangan keberanian berjalan. Ada jejak yang ditinggalkan, kekeliruan yang perlu diakui, pelajaran yang dipungut, serta wajah-wajah yang pernah hadir dan tak lagi ditemukan. Perayaan ini mengingat lima tahun pertama sekaligus membayangkan lima tahun berikutnya.

Pada Cherrypop 2026, seniman kontemporer Andry “Boy” Kurniawan dipercaya mengerjakan wajah visual Repelita Musik. Karya-karyanya dihuni figur berkepala bundar, tubuh kenyal, warna menyala, serta dunia ganjil yang mempertemukan humor, kegelisahan, dan fantasi. Bahasa visual itu sejalan dengan Cherrypop yang gemar mengolah persoalan serius menjadi perayaan pop yang riuh dan mudah didekati.

Di atas panggung, ada peristiwa penting hadir melalui Objek Vital Nasional -OVN, proyek perdana yang mempertemukan FSTVLST dan Jenny. Dua riwayat musik dilebur dalam satu tubuh pertunjukan, ditemani puluhan penampil dari berbagai kota, generasi, dan aliran selama dua hari perayaan.

Agenda hari pertama, Sabtu, 22 Agustus 2026, FSTVLST tampil membawakan set khusus “Paradoks Diametral”, disusul Stars and Rabbit, Majelis Lidah Berduri, NDX AKA, Aftershine, Senyawa, Juicy Luicy, MALIQ & D’Essentials, Never Mind “The” (Kick Jeblogs Skit), ALI, Lipstik Lipsing, Idgitaf, Biru Baru, The Milo, Murphy Radio, Polka Wars with Alahad, Skandal yang tampil beda  kolaborasi dengan Fog String Quartet, Dongker, The Panturas, Afterhours, Drizzly, Statelines, Untu, Moctar, Loomers, DARUMA Rollin’, Domikado, In Inertia, Basajan, Teknoshit, Enjoy Drink, dan Pharaoh Southeast Asia.

Sebagai pamungkas hari pertama, The Kick, The Jeblogs, dan The Skit siap meleburkan tiga watak dan tiga riwayat dalam satu pertunjukan bertajuk Never Mind “The”: Generasi Baru Terbakar di Cherrypop. Pertemuan band asal Kotagede, Klaten, dan Surakarta ini turut melibatkan Ican Harem alias Future Loundry, seniman lintas medium yang selama ini mempertautkan fesyen, subkultur, dan seni pertunjukan melalui praktik busana eksperimental berbasis olah ulang. Di tangannya, pakaian para musisi diperlakukan sebagai kulit kedua panggung, bergerak mengikuti tubuh dan bunyi, sementara tata visualnya merespons setiap distorsi, cahaya, serta perubahan suasana. Ketiga band itu saling mengambil alih lagu, bertukar personel, dan membaurkan tabiat musikalnya, sedangkan Ican merajut seluruh kegaduhan tersebut menjadi pertunjukan yang dapat didengar, dipandang, sekaligus dikenakan. Pada penghujung malam, batas antara konser, peragaan busana, dan seni pertunjukan dibiarkan terbakar bersama nama-nama mereka.

Agenda hari kedua, Minggu, 23 Agustus 2026, dibuka oleh peristiwa musikal OVN, lalu diteruskan oleh Nadin Amizah, Reality Club yang membawakan set album “What Do You Really Know?”, Pandai Besi, Goodnight Electric, Elephant Kind, Perunggu, Sal Priadi, The Adams, Sigmun, Swellow, Eleventwelfth, Kelompok Penerbang Roket, Orkes Pensil Alis, Bleeedrz, Jimi Multihazam dengan set debut album “Mollydenvm”, Alkateri, Domapine, Syrian, Notyourwife, Lostineden, 510, The Bunbury, Strummer Electro, Scantofia, Olski, Kaneyorimasaru, Passive Income, LAUSBUB, Szetroom, Rokaroke, DabWok, dan Noire.

Nama-nama itu hadir dengan riwayatnya masing-masing. Ada yang tumbuh bersama kaset dan toko rilisan, ada yang lahir ketika lagu cukup dilempar ke internet untuk menemukan pendengarnya. Ada yang telah berjalan puluhan tahun, ada pula yang baru belajar menghadapi cahaya panggung. Selama dua hari, mereka ditempatkan dalam satu garis perjumpaan, tanpa kewajiban untuk terdengar seragam.

Kehadiran tiga grup musisi Jepang pada Cherrypop 2026 masing-masing, LAUSBUB, Kaneyorimasaru, dan DARUMA Rollin’ membawa tiga suara berbeda dari Jepang. LAUSBUB hadir dengan denyut new wave dan elektronik, Kaneyorimasaru memainkan rock yang berakar pada kehidupan anak muda, sementara DARUMA Rollin’ membawa semangat lintas budaya dari perjalanannya di Indonesia.

Cherrypop telah menjalin partnership komprehensif untuk tahun fiskal 2026 dengan Victor Entertainment, sebuah perusahaan yang telah menjadi pendorong kuat dalam skena musik Jepang selama hampir satu abad sejak didirikan. Partnership tersebut memfasilitasi berbagai inisiatif sepanjang tahun yang mendorong perpaduan antara musik dan budaya Jepang-Indonesia, termasuk penampilan artis-artis yang bernaung di bawah Victor di Cherrypop. Agustus 2026, di hadapan batu-batu Candi Prambanan, dan sejarah mencatatnya.

Sofi perwakilan dari Cherrypop Manajemen mengatakan, selain suguhan musik di empat panggung Cherrypop, yaitu Cherry Stage, Nanaba Stage, Yayapa Stage, dan Chili Stage, banyak program area yang bisa diakses selama festival, antara lain Cherry District, satu area oleh-oleh yang menjual merchandise resmi Cherrypop, dan merchandise kolaborasi bersama beberapa band penampil yang dirilis eksklusif oleh Cherrymerch, serta Record Store yang menjajakan rilisan fisik dari CD, kaset pita, hingga vinyl, lengkap dengan program Signing Session.

“Kemudian ada area Cherrykids untuk anak-anak dengan banyak kegiatan lucu disana. Lalu, ada area Community Corner, area teman-teman komunitas berkumpul dan berjejaring, selain itu, ada Art Exhibition. Selanjutnya, ada area Cherry Market yang dipersembahkan oleh Indofood melalui Indomie, Pop Mie, dan Chitato, menghadirkan 50 tenant makanan dan minuman dari brand-brand FnB terkurasi,” ujar Sofi.

Lebih lanjut Dita menyebutkan bahwa lima tahun Cherrypop dapat dibaca sebagai perjalanan mencari bentuk. Dari ruang kecil yang lahir setelah pandemi, ia tumbuh menjadi gelanggang tempat musik, seni, arsip, fesyen, dan persahabatan saling menemukan. Setiap edisi meninggalkan jejak, kekeliruan, serta pengetahuan yang menjadi bekal untuk melangkah. Usia lima tahun akhirnya bukanlah garis penutup, melainkan sebuah jeda untuk menoleh sebelum membayangkan tahun-tahun berikutnya dengan keberanian yang lebih besar.

“Publik kemudian memberi julukan Cherrypop sebagai ‘Lebaran Skena’, hari raya dimana orang-orang datang dari berbagai kota untuk bertemu, mengenakan kaus terbaik, bertukar kabar, bersalaman dengan kawan lama, dan saling memaafkan, setelah setahun memisahkan mereka. Musik menjadi alasan berkumpul, sedangkan perjumpaan menjadi sesuatu yang diam-diam paling dirindukan,” imbuhnya.

“Repelita Musik telah menjadi perayaan sekaligus penanda perjalanan, cara Cherrypop mengingat lima tahun pertamanya dan mengirim harapan menuju lima tahun berikutnya. Selama orang-orang masih datang untuk saling menemukan, musik selalu mempunyai rumah, dan Cherrypop terus menjadi hari raya bagi mereka yang sepanjang tahun hidup dari bunyi, pertemanan, dan ingatan,” tutup Dita.

Dalam kesempatan itu Sofi menambahkan untuk tiket Cherrypop 2026 “Repelita Musik” seharga 200K, belum termasuk tiket masuk candi sebesar 50K sebelum pukul 18 WIB, sedangkan setelah pukul 18 WIB tiket masuk candi sebesar 25K, dapat diakses melalui www.cherrypop.id, atau fasticket.id dan untuk informasi bisa dipantau melalui akun Instagram resmi @cherrypopfest. (Dinar Nur Zaky-Salsabila NF-Humas Cherrypop/Antok Wesman-Impessa.id)