LAYANG-LAYANG, TERNYATA TIDAK SESEDERHANA YANG KITA DUGA
Dr Koniherawati, Dosen UKDW Yogyakarta selaku Juri Lomba, berpose bareng Eugine dari Brasil, berlatarbelakang layang-layang Hiu Raksasa saat Night Flight JIKF 26 di Pantai Parangkusumo, Sabtu (11/7/26)
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Juli 2026: Usai perhelatan Jogja International Kite Festival -JIKF pada 11-12 Juli 2026, di Pantai Parangkusumo, Bantul, berlangsung sukses, penulis berbincang santai terkait Layang-Layang, dengan salah satu juri yakni Dr Koniherawati yang juga Dosen di Universitas Kristen Duta Wacana -UKDW Yogyakarta.

“Buat saya, layang-layang merupakan seni yang melebihi seni rupa yang hanya dipajang di galeri, di museum, karena fungsi dari seni itu sendiri adalah bisa dinikmati oleh masyarakat luas, dari jarak jauh-pun, karya seni bisa dinikmati, sehingga seperti festival layang-layang ini di pinggir pantai, bagi mereka yang tidak bisa membayar tiket masuk area berpagar seharga 25-ribu per-orang, juga bisa tetap menikmati, meski dari luar pagar ataupun dari jarak yang lebih jauh lagi. Jadi buat saya, layang-layang adalah seni yang jangkauannya lebih luas untuk menghibur masyarakat. Ini adalah peranan seniman untuk memadukan seni dan masyarakat.,” tutur Dr Koniherawati.
“Saya senang mendapatkan pengetahuan baru, selain membuat layang-layang itu sendiri, mulai dari membuat desain, membuat pola, itu sangat berbeda dengan teknik menjahit, kebetulan hobi saya menjahit, memotong pola-nya, menempel satu-persatu, menjahit, jadi ini sangat craftmenship yang tinggi juga. Wah saya kaget waktu menemukan hal itu,” ujarnya.

Lebih lanjut Dr Koni mengatakan, “Ada teman dari komunitas layang-layang yang ketika saya melihat sketsa-nya untuk membuat pola itu, bagus, bahkan cepat sekali, terus saya berpikir, pasti dia punya background seni yang bagus, dari bincang-bincang, memang dia dulu pernah ingin jadi seniman dan sering melukis, sampai pada saat dirinya menjadi jenuh, frustasi, ngapain aku melukis, gak memberi manfaat apa-apa untuk orang banyak, karya lukisannya tidak pernah dia pamerkan, lantas dirinya meninggalkan itu semua sampai suatu saat dia menemukan dunia layang-layang, disitu dia baru mendapatkan kepuasan, karena ternyata itulah seni yang bisa dinikmati masyarakat luas, dan dengan radius jarak jangkauan yang luas pula,” ujarnya.
Menurut Dr Koni, teknis untuk membuat kerangka layang-layang dimulai dari perhitungan kapan waktunya memanen bambu, cara mengawetkan bambu supaya tidak mudah lapuk, bahkan untuk layang-layang berukuran besar, harus diperhatikan untuk kerangka yang kuat.

“Teman saya bercerita, untuk membuat layang-layang seperti Naga dan Rokaku berukuran besar, dia pergi ke desa memesan bambu yang lurus tumbuhnya, kira-kira selama satu tahun untuk bisa ditebang, kemudian bambu itu dibiarkan dalam posisi berdiri, dikeringkan untuk waktu tertentu, agar kering secara alami, baru bisa dibelah,” jelas Dr Koni.
“Kebetulan ada keluarga di Temanggung yang menggeluti dunia layang-layang dimasa lalu, saat saya masih kanak-kanak, kakek saya itu menerapkan teknik-teknik tradisional agar bambu Apus yang telah ditebang itu tetap lurus, lalu diletakkan di dapur yang di pedesaan berbentuk ‘limasan’ ada tungku kayu, ‘luweng’, kemudian bambu-bambu itu di letakkan sedemikian rupa di atas perapian tersebut, untuk mengeringkannya, dan ketika dibelah bambu itu mengeluarkan bunyi ‘ting’ menandakan kekeringannya sudah pas. Bambu Apus, adalah nama sejenis bambu yang memiliki serat panjang sehingga sering digunakan untuk tali, untuk mengikat,” ungkapnya pula.

“Untuk menyiapkan kerangka layang-layang saja membutuhkan proses yang panjang, tidak sembarangan, dari memilih material atau bahan, kemudian membuat desain, membuat pola, menjahit, apalagi yang berwarna-warni banyak, itu ‘ruwet’ sekali, tidak serumit kalau membuat baju, terlebih untuk kerangka membuatnya harus seimbang, tebal-tipisnya meraut bambu berdampak pada keringanan sekaligus kekuatannya. Untuk layang-layang yang berbahan kain parasut, perlu diperhatikan arah serat kain, supaya bisa terbang,” tambahnya.
Dr Koniherawati menyebutkan bahwa layang-layang itu merupakan desain produk. Sehingga kenapa dirinya mengajak mahasiswanya dalam mata kuliah ‘Bentuk Garis’, “Saya mengajak mereka ke studio layang-layang, untuk belajar dan membuat layang-layang, yang ternyata dari garis lurus, garis lengkung, itu berpengaruh terhadap aerodinamik sebuah layang-layang,” ujarnya..

Didalam sejarah layang-layang Nusantara, layang-layang tradisional suku Muna di Sulawesi Tenggara, memakai daun kolope atau umbi gadung, dan itu dipakai untuk ritual, upacara adat masyarakat setempat, layang-layang itu diterbangkan selama tujuh-hari-tujuh-malam, tanpa diturunkan, sehingga daun itu kuat terkena cuaca, Bahkan di Goa Leang-Leang sebagai kawasan prasejarah di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, terdapat lukisan di dindingnya, anak-anak sedang bermain layang-layang.
Pada Festival Layang-Layang di JIKF 2026, ada beberapa juri untuk masing-masing jenis lomba dengan spesifikasi masing-masing. Adapun Dr Koniherawati selaku juri Olimpiade pelajar Tingkat SMP di kategori yang berhubungan dengan desain visual dan estetika. Ada juri dari Komunitas layang-layang yang menilai dari unsur teknis perakitan, keseimbangan, dan penilaian akhir yaitu bisa terbang atau terbang dalam durasi lama. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)
